Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual

42

Jakarta, NU Online
Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan SpiritualKata “nahdlah” dalam “nahdlatul ulama”, terinspirasi dari sebuah kalimat yang tertulis dalam kitab al-Hikam “La tashhab man la yunhidluka haluhu wala yadulluka alallahi maqalu.” Janganlah berteman dengan orang yang perilaku dan kata-katanya tidak bisa membangkitkan dirimu kepada Allah. Dari kata “la yunhidluka” (tidak membangkitkan) inilah, nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama) berasal.

Demikian percikan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang NU yang dipaparkan Syaiful Arif, pada kegiatan bertajuk “Kursus Pemikiran Gus Dur” di Pusat Studi dan Pengembangan Pesantren (PSPP), Ciputat, Sabtu (2/6) kemarin.

“NU adalah gerakan spiritual karena basis pergerakannya ada di pesantren. Sebagai lembaga pendidikan sekaligus perwujudan kultural Islam, pesantren memiliki corak keislaman fiqh-sufistik. Jadi ketaatan fiqhiyah yang dilambari oleh kedalaman tasawuf. Makanya kitab bergenre fiqh-sufistik seperti al-Hikam di atas, atau Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali merupakan kitab favorit di kalangan pesantren dan NU,” demikian Arif.

Iklan Layanan Masyarakat

Dengan corak fiqh-sufistik ini, menurutnya, NU memiliki pandangan fiqhiyah yang tidak hitam-putih. Hal ini yang melahirkan pemikiran kenegaraan moderat, yang menempatkan “kaca mata fiqh” sebagai standar keabsahan persoalan politik. Pancasila misalnya diterima NU setelah yakin bahwa ideologi negara ini tidak akan mengganti agama, serta tidak ditempatkan sebagai agama. Maka, Pancasila kemudian ditempatkan sebagai landasan konstitusi sementara Islam tetap diposisikan sebagai akidah. Pemikiran yang strategis seperti ini tentu tidak mungkin dicetuskan oleh kalangan puritan yang melulu berpegang pada hukum Islam, minus spiritualitas Islam.

Syaiful Arif yang merupakan alumni Pesantren Ciganjur serta penulis buku “Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif (2009)” ini menjelaskan “wasiat” Gus Dur bagi masa depan NU. Dalam hal ini Gus Dur menyatakan, “NU harus mampu merumuskan konsensus nasional yang baru tentang posisi Islam dalam kehidupan berbangsa. Caranya melalui pengintegrasian perjuangan Islam ke dalam perjuangan nasional, dengan menempatkan perjuangan Islam dalam konteks demokratisasi jangka panjang.”

Untuk peran ini, NU memiliki dua modal besar, yakni kekayaan kultural dan pengalaman politik yang beragam. Ketidakmampuan untuk menggunakan dua modal tersebut, akan menempatkan NU pada pinggiran sejarah dan irrelevansi dirinya secara bertahap”. Wasiat ini termaktub dalam tulisan Gus Dur: NU dan Islam di Indonesia Dewasa ini yang pernah dimuat di Jurnal Prisma (April 1984).

Kursus Pemikiran Gus Dur yang sudah berjalan enam kali ini dilaksanakan setiap sabtu jam 13.00 WIB di PSPP, Jl. Kertamukti Gg. H. Nipan 107, Pisangan Ciputat. Kursus ini akan berlangsung selama sembilan kali, dan bermuara pada perumusan silabus mata kuliah Gus Dur. Dengan silabus ini, mata kuliah Gus Dur akan diajarkan di perguruan tinggi agar pemikiran mantan Ketua Umum PBNU ini tidak lenyap ditelan sejarah.

 

Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Muhammad Idris Mas’udi 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here