Bahagia dengan Al-Qur’an ala Gus Baha’

39
Peringatan Isra’ Mi’raj di Tangsel

Tangerang Selatan, NU Online
Baha’uddin Nur Salim atau yang akrap disapa Gus Baha’ adalah sebagian dari ulama yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan agama. Pembawaannya yang sederhana  dan cara penyampaian materi yang tidak sekedar ucapan semata namun juga bernas membuat kualitas dakwahnya patut untuk diikuti. 

Dengan diunggahnya beberapa pengajiannya di akun sosial media yang akhir-akhir ini beredar nampak disambut oleh warganet dengan penuh gembira berdasarkan jumlah viewer dan komentar-komentar positif yang diberikan.

Dalam memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Al Qur’an (PSQ) pada Senin (03/4) lalu, ia diberi kesempatan untuk mengisi pengajian tentang Al Quran. Ia menyampaikan bahwa mempelajari Al-Qur’an itu sangat mudah, saking mudahnya bahkan pada masa Nabi orang-orang kafir juga mampu memahaminya.

“Orang-orang kafir itu tidak pernah kuliah di IAIN, tidak pernah belajar di PSQ, tapi ketika dibacakan langsung faham,” ungkapnya di Masjid Bayt Al-Qur’an Pondok Cabe, Pamulang, Tangsel.

Ia menjelaskan, bahwasannya pada masa awal turunnya Al-Qur’an, objek Al-Qur’an itu justru kepada orang kafir, sehingga ada ayat qul ya ayyuhal kafirun. “Karena semua masyarakat pada zaman itu adalah kafir,” kata putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Al-Qur’an di Kragan, Narukan, Rembang itu.

Al-Qur’an itu menarik, lanjutnya, karena begitu solutif. Semisal yang dianjurkan Al-Qur’an, yakni latihlah berbahagia dengan kebaikan, pasti dengan itu orang-orang akan meninggalkan kemaksiatan. “Orang-orang yang tahajud, menikmati sungkeman dengan Allah, jauh lebih bahagia ketimbang orang-orang yang bermaksiat,” terangnya.

Oleh karena itu, ia menerangkan bahwasannya para ulama berpendapat bahwa bahagia itu wajib dan harus dilatih. Seperti yang dikatakan oleh ayat
 قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Gus Baha’ juga menerangkan bagaimana cara untuk berbahagia, yakni dengan meyakini bahwa setiap orang akan mati. Nabi juga pernah mengatakan bahwa setiap orang bisa mati kapan saja, bisa besok, lusa dan seterusnya. Jika membayangkan bahwa besok seseorang akan mati, maka akan sangat bahagia jika menyongsongnya dengan keadaan taat.

Dari perasaan itu, lanjutnya, maka seseorang yang melihat maksiat akan merasa aneh. Awal dari keanehan itu lah yang menjadikan seseorang menjadi takwa. 

“Jadi tidak boleh orang bertakwa itu karena ketakutan, maka  firman Allah 
والَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّه 
orang-orang mukmin itu sangat mencintai Allah, ” terangnya.


Contoh kebahagiaan lain yang diungkapkan Gus Baha’ yakni dengan menceritakan kisah ulama-ulama zaman dahulu dalam mencari makan. Mereka berprinsip bahwa untuk makan sehari rata-rata seseorang hanya butuh dua piring, dan itu sudah bisa mengenyangkan. Jika yang dibutuhkan satu piring, untuk apa mencari lebih sehingga harus melakukan korupsi.
“Ini penting saya sampaikan karena perilaku orang-orang di zaman sekarang itu sudah berlebihan, sehingga menghadirkan contoh-contoh ulama zaman dahulu sangat perlu,” tambahnya. (Nuri Farikhatin/Muiz)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here