Benarkah Pendidikan Sekolah di Indonesia Sangat Menekankan Aspek Kognitif?

16

Dr.H. Srie Muldrianto, MPd – Pernyataan bahwa pendididkan di Indonesia terlalu menekankan aspek kognitif, perlu diuji kebenarannya. Kita bisa menguji pernyataan tersebut dengan beberapa pertanyaan, misalnya jika benar, mengapa tingkat penguasaan literasi,  matematika, dan science di Indonesia masih di bawah rata-rata negara yang diteliti PISA (Programe for International Student Assesment)? Hasil studi PISA 2018 yang dirilis oleh OECD (Organization for Economic co-operation dan Development) menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371, dengan rata-rata skor OECD yakni 487.(1)

Pada tahun 2007  Global Institute melakukan survey “Trends in International Math and Science” hasilnya lima persen peserta didik Indonesia hanya mampu mengerjakan soal penalaran berkategori tinggi padahal peserta didik Korea 71%. Sebaliknya 78% peserta didik Indonesia dapat mengerjakan soal hapalan berkategori rendah sementara siswa Korea 10%.(2)

Dikotomi pembagian kecerdasan kebanyakan kita merujuk pada teori Bloom yang menjelaskan bahwa ada 3 domain kecerdasan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif terdiri dari enam tingkatan mulai dari menghapal, memahami, menerapkan, menganalisa, mensintesa, dan evaluasi. Jika merujuk pada ketiga domain kecerdasan Bloom untuk aspek kognitif saja pembelajaran peserta didik di Indonesia belum dapat dikatakan lebih dominan pada aspek kognitif. Mungkin dapat dikatakan lebih pada tingkat dasar dari aspek kognitif yaitu pada tahap hapalan atau tahap pemahaman.

Oleh karena itu di kurikulum 2013 proses pembelajaran diharapkan peserta didik dapat menguasai pembelajaran pada tingkat yang lebih tinggi dan lebih rumit agar tercipta peserta didik yang kritis dan kreatif. Ada dua keahlian berpikir yaitu LOTS (Low Order Thinking Skill) dan HOTS (Hight Order Thinking Skill). Kedua model keahlian berpikir tersebut tetap diperlukan tetapi HOTS jauh lebih penting mengapa?

Berpikir Tingkat Tinggi

Di era informasi digital, sumber data mudah sekali kita temukan. Adanya artificial Intellegent telah mempermudah kita untuk mendapatkan data dan informasi dengan mudah dan cepat. Memori dan kapasitas daya ingat manusia jauh terkalahkan, oleh karena itu kita sebagai pengguna dan pengendali AI mestinya tidak menyaingi kemampuannya. Yang tidak bisa dilakukan AI adalah kritis dan kreatif dalam mengembangkan data dan informasi yang diterima. Jadi model pembelajaran menghapal dan mengingat perlu ditinjau ulang, walaupun tentunya tidak semua harus ditinggalkan.

Pendidikan yang menekankan berpikir tingkat tinggi akan menghasilkan peserta didik kritis dan kreatif jika lingkungan pendidikan kondusif. Lingkungan pendidikan kondusif memiliki beberapa kriteria diantaranya:

  1. Peserta didik belajar dalam suasana dan situasi yang menyenangkan agar peserta didik memiliki imajinasi yang tinggi.
  2. Proses belajar mengajar berbasis proyek. Artinya peserta didik dapat menguji temuannya di lapangan sehingga mereka menyadari adanya proses trial dan error. Berani mencoba dan tidak takut salah. Di sekolah jangan takut salah karena sekolah tempatnya orang belajar.
  3. Setiap peserta didik memiliki potensi dan bakat berbeda oleh karena itu keberagaman dan inklusifitas di lembaga pendidikan perlu dijaga.
  4. Pendidikan harus juga menekankan pada kemampuan siswa untuk dapat berkomunikasi dan berkolaborasi hingga dapat membangun jaringan dan relasi lebih luas.
  5. Optimalisasi fungsi mata pelajaran sesuai dengan kebermanfaatan siswa. Seperti pendidikan olah raga lebih pada kemampuan membangun sehat jasmani, pendidikan seni dan sastra dalam rangka meningkatkan sensifitas, kelembutan, dan mencintai keindahan. Pendidikan agama ditujukan untuk mengharmonikan antara rasionalitas dan spiritualitas. Semua mata pelajaran harus memperhatikan aspek karakter dan lain-lain.
  6. Memberikan ruang yang seluas-luasnya pada siswa untuk berani bertanya, berdiskusi, dan melatih mereka untuk selalu berfikir. Bertanya itu kuncinya pengetahuan. Pengetahuan berfungsi memberi cahaya agar jalan hidup terang dan jelas arahnya. Pengetahaun lahir dari masalah manusia kemudian kemudian diurai menjadi pertanyaan, dicarilah jawaban dengan berbagai cara dan lahirlah jawaban atau pengetahuan.
  7. Perlunya membangun keseimbangan dalam pembelajaran antara kognitif, afektif dan psikomotorik atau perlunya memperhatikan kompetensi siswa terkait emosi, intelektual, dan spiritual.
  8. Latihan penelitian dan riset sederhana sesuai dengan tingkatan pendidikan perlu dikembangkan di sekolah.
  9. Pendidikan hukuman sudah kurang sesuai dengan zamannya, pola displin positif perlu diterapkan di sekolah (dapat merujuk pada tulisan penulis sebelumnya tentang disiplin positif).
  10. Belajar secara kontekstual, yaitu siswa belajar langsung di lapangan hingga menghadirkan ketiga aspek yaitu aspek pikir, rasa, dan keterampilan.
  11. Pendidikan karakter sebagai basis keberhasilan dari pendidikan akademik dan keterampilan.
  12. Pengetahuan merupakan aspek penting dalam proses belajar mengajar.  karena karakter dan keterampilan siswa tetap memerlukan basis pengetahuan. Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dapat terus ditingkatkan dengan membiasakan siswa membaca, berpikir, menganalisa, mensintesa, dan mengevaluasi buku, artikel, jurnal atau peristiwa dan kejadian sehingga siswa tidak hanya dituntut untuk know how tapi juga know why.
Penulis
Penulis Dr.H. Srie Muldrianto, MPd Dosen dan aktivis Pendidikan di Purwakarta (Ketua PC MATAN Purwakarta dan Ketua devisi Pendidikan HIPAKAD (Himpunan Putra Putri Keluarga TNI AD) Purwakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here