The news is by your side.

Berwawasan Luas, dan Pemahaman yang Dalam Menyikapi Sang Pencerah

Berwawasan Luas, dan Pemahaman yang Dalam Menyikapi Sang Pencerah | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa BaratSemua kitab suci, mengajarkan banyak kebaikan dan kebenaran, yang menuntun pada jalan lurus untuk mencapai kesempurnaan diri.

Banyak ajaran yang baik, bagus, benar, dan lurus, untuk menjadi pegangan umatnya, agar memiliki pandangan dan pemahaman yang luas dan mendalam pada petunjuk yang benar, agar manusia pada akhirnya tidak merugi nantinya.

Ingat peristiwa Budha dengan pohon bodhinya, yang dibawah pohon tersebut, akhirnya Budha mendapatkan pencerahan, mencapai kesempurnaan…dengan sebutan Sakyamuni, artinya, orang yang mencapai kebijakan dari kaum Sakya, yang hingga akhirnya, sang Budha menjadi pencerah bagi kaumnya.

Pohon tempat Budha bersemedi itu sangat popular di kalangan penganut Budha. Bagi mereka, pohon ini disebut sebagai pohon Ara (pohon tin/bodhi) yang suci atau dalam bahasa mereka disebut sebagai “Ajabala.”

Lalu mengapa di Al-Qur’an ada surat At Tin ?
Adakah hubungannya dengan mencapai kesempurnaan ?
Kenapa Pohon Tin ?
Teks dalam ayat Al Qur’an memiliki aspek penekanan pada makna yang sebetulnya luas, tidak sempit, dan memiliki potensi pengalian yang mendalam.

Hingga wajar beberapa ahli tafsir pun, melihat konteks mencari keterkaitan, dari hal yang khusus pada bab setiap pencerah sesungguhnya Allah utus sebagai nabi nabi yang tak terbilang banyaknya, yang di utus pada setiap umat sebagai pencerah atau menerang, sehingga perlu di fahami, ajaran ajaran kebaikan yang dibawa para pencerah, Nabi, Rosul, tentunya datang dari sang sumber pencerah Allah SWT….tiada lain.

Iqro mengajarkan kita untuk bisa membaca.
Tiga kali di ajak Nabi kita Muhammad agar berulang dan bisa mencobanya, oleh Jibril. Malaikat Jibril, menegaskan Sang Nabi, bahwa ia mampu, bisa, dan memastikan bisa…
Hingga pertemuan pertama dengan Jibril itulah nabi kita mendapat pencerahan, kesempurnaan akal Budi, rasa, dan pengetahuannya, seperti halnya para nabi dan pencerah pada umat lainnya.

Bersyukur lah kita, bahwa Sanya kita di bekali banyak contoh manusia manusia paripurna yang sempurna, seperti halnya Nabi kita, para sahabat beliau tabiin, kemudian Tabi’ut Tabi’in atau Atbaut Tabi’in adalah generasi setelah Tabi’in, para wali, dan guru guru Mursyid yang mulia.

Belajarlah kita, dari perjuangan mereka yang disebutkan di atas, dalam mencapai kesempurnaannya.
Belajarlah kita dari cara ia meraih kepercayaan orang untuk mempercayainya.
Dan belajarlah kita dari kegigihannya, membangun karakter diri menjadi manusia utama, manusia paripurna seperti hal yang nabi inginkan untuk umatnya….amin.

Nabi banyak memberi pemahaman, pembelajaran, dan contoh kebaikan.
Perdalam wawasan kita, pelajari banyak ilmu yang bermanfaat agar hidup kita bisa jadi maslahat.

Pemahaman kita akan membentuk karakter kita. Pengetahuan kita akan menjadikan kita memiliki pribadi yang kuat, berprinsip, dan tak bisa goyah kepribadiannya.

Masuki hidup dengan penuh makna.
Hidupkan hidup dengan banyak cerita.
Pastikan kita banyak memberi manfaat.
Hidup dan kehidupan kita akan memiliki nilai luar biasa bagi kemanusian… insyaallah.

Manusia yang paling baik adalah, manusia yang paling banyak bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan, seperti halnya para Nabi, sebelum kita, insyaallah.

Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat

Bambang Melga M.Sn.

Leave A Reply

Your email address will not be published.