BUKAN HANYA ASN, WASPADAI IDEOLOGI HTI MERAMBAH KE TNI-POLRI

18
HTI telah dibubarkan dan dilarang

Ayik Heriansyah – HTI tidak pernah bubar. Pengurus, aktivis, dan struktur organisasi HTI masih utuh, tidak terpengaruh dengan pencabutan badan hukum.

Setelah pencabutan badan hukum, HTI mengintensifkan pendekatan ke TNI-Polri. HTI gencar mencari dan meminta pertolongan TNI-Polri. Hanya TNI-Polri yang bisa melindungi mereka, dan hanya TNI-Polri yang bisa mengantarkan mereka meraih kekuasaan tanpa pemilu. Inilah hakikat dari doktrin thalabun nushrah yang diyakini HTI sebagai contoh dakwah dari Rasulullah saw.

Bagi HTI, merambah ke TNI-Polri bagian dari ideologi mereka. Merekrut anggota TNI-Polri adalah keniscayaan bagi HTI. Dalam dokumen Blue Print Dakwah HTI 2004, HTI telah menetapkan target rekrutmen jumlah perwira tinggi dan menengah dari tiga matra TNI dan Polri.

Iklan Layanan Masyarakat

Perwira-perwira TNI-Polri diqiyaskan HTI ibarat pemuka-pemuka suku ketika Rasulullah saw dakwah di Mekkah. Antara perwira-perwira TNI-Polri dengan pemuka-pemuka suku Arab memiliki kesamaan illat, yakni sebagai pemilik kekuatan (ahlu quwwah).

Maksudnya sama-sama memiliki senjata dan pasukan. Jika dulu para pemuka suku-suku Arab bersenjatakan pedang dan kuda serta pengikutnya sebagai pasukan, maka dalam konteks HTI disamakan dengan para perwira TNI-Polri yang memiliki persenjataan, alat dan kendaraan tempur, serta prajurit terlatih dan profesional.

Oleh sebab itu, target rekrutmen HTI adalah para perwira yang memegang tongkat komando. Perwira-perwira bagian administrasi, kesehatan, dan logistik, tidak menjadi target utama, akan tetapi dijadikan perantara/penghubung kepada para perwira pemegang komando.

Anggota senior Hizbut Tahrir di Arab, Ahmad Mahmud, di dalam bukunya Dakwah Islam, menegaskan bahwa: “Sesungguhnya kita wajib untuk melakukan kontak dengan siapa saja yang memiliki pengaruh dan kedudukan di masyarakat untuk membuka pintu di depan orang yang di balik pintu serta mendapatkan jaminan kepemimpinan masyarakat; dan wajib atas kita untuk mencari nushrah dari kalangan ahlul quwwah (pemilik kekuatan) seperti jenderal tentara untuk mengantarkan menuju pemerintahan” (Ahmad al Mahmud, Ad Dakwah ila Islam hal. 96).

HTI menjalin kontak-kontak rahasia, ilegal dan non formal dengan perwira-perwira TNI-Polri melalui pendekatan keagamaan. Misalnya melalui penawaran kerjasama belajar baca tulis al-Qur’an untuk anak-anak tentara. Pengajian ibu-ibu untuk istri-istri tentara. Khutbah jumat dan pengajian umum di masjid-masjid komplek tentara. Sampai puncaknya, menawari anggota TNI-Polri mengikuti halaqah intensif bersama Hizbut Tahrir.

TNI-Polri harus waspada. Harus menjalin komunikasi dengan BNPT, MUI, NU dan Muhammadiyah terkait manuver-manuver HTI. HTI pandai berkamuflase. Mereka lihai melakukan desepsi pemikiran dan penyesatan opini.

Jangan sampai keikhlasan, ketulusan dan kejujuran anggota TNI-Polri terhadap agama, dimanfaatkan oleh HTI, karena keawaman anggota TNI-Polri tentang HTI dan tokoh-tokohnya.

Previous articleIDE SATU KHALIFAH YANG MEMBAWA PENGGILANYA MENJADI GILA PERANG
Next articleMengapa Beragama Harus Moderat?
Penulis artikel produktif yang sering dijadikan rujukan di berbagai media massa, pemerhati pergerakkan Islam transnasional, khususnya HTI yang sempat bergabung dengannya sebelum kembali ke harakah Nahdlatul Ulama. Kini aktif sebagai anggota LTN di PCNU Kota Bandung dan LDNU PWNU Jawa Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here