The news is by your side.

Dari Surakarta, PMII Dirumuskan

Pun dengan istilah Sosialisme Indonesia, sebagai sebuah pandangan dan konsep untuk mendorong terwujudnya negara yang berpihak kepada rakyat, dengan berpegang teguh pada penghormatan mutlak hak asasi manusia, demokrasi, penyusunan tata perekonomian berdasarkan azaz kekeluargaan atau ta’awun, yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak, termasuk bumi, air, dan kekayaan alam, mesti dikuasai negara untuk kepentingan rakyat itu sendiri.

Sikap dan pandangan tersebut tentu juga masih sangat relevan untuk menjadi prinsip PMII di masa kini dan mendatang, mengingat segala bentuk penindasan tersebut sampai saat ini masih ada, dan bahkan bentuk dan modelnya mengikuti perkembangan zaman, terlebih di era Revolusi Industri 4.0 saat ini.

Sebuah era yang ditandai dengan munculnya Internet of Things (IoT), big data, artificial intelligence, cloud computing, dan istilah-istilah lain yang mungkin membuat kita bakal semakin mengerutkan dahi.

Perubahan era ini, yang akan menjadi tantangan besar bagi organisasi sosial kepemudaan seperti PMII. Saya bisa membayangkan, di masa depan, PMII menjadi semacam “paguyuban” yang tidak diminati lagi, karena memang tidak mampu menjawab apa yang dibutuhkan oleh generasi di masa itu.

Bisa pula, karena PMII tidak memiliki visi yang jelas untuk menghadapi derasnya perubahan zaman tersebut. Maka sudah semestinya PMII memikirkan, syukur sudah memiliki, formula untuk menghadapi tantangan zaman ini.

(Ajie N, LTN-NU Surakarta)

catatan kaki:

  1. Pada awal berdirinya PMII di Kota Surakarta, dua kampus yang menyokong yakni PTINU (kini UNU) dan Universitas Cokroaminoto (pada tahun 1975 digabungkan bersama kampus lainnya menjadi Universitas Gabungan Surakarta (UGS), yang menjadi cikal bakal Universitas Sebelas Maret atau UNS, dan kemudian melahirkan Komisariat Kentingan). Menyusul beberapa tahun berikutnya, lahir beberapa komisariat baru, seperti Kom. STAIN (kemudian menjadi cabang tersendiri, cabang Sukoharjo), UNIBA (Kom. Agus Salim), dan UMS (Kom. Pabelan).
  2. Mustahal Achmad (1935-1994) merupakan putra Kiai Masyhud, tokoh pendiri NU Surakarta. Ia juga paman dari Chalid Mawardi, meski demikian usia keduanya tidak terpaut jauh. Mustahal merupakan tipikal kader NU yang merintis dari bawah. Dia merintis karirnya dari IPNU Surakarta (1954-1956), kemudian GP Ansor Surakarta (1952-1964), Ketua PMII Surakarta (1960-1962), Wakil Ketua PCNU Surakarta (1964-1967), dan sebagai anggota DPRD Jateng dari Partai NU (Pemilu 1971).

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.