The news is by your side.

FENOMENA HIJRAH

عن امير المؤمنين ابى حفص عمر بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ )). رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِيْنَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ بَرْدِزْبَهْ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُوْ الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُشَيْرِيّ النَّيْسَابُوْرِيّ، فِيْ صَحِيْحَيْهِمَا اللَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ اْلمُصَنَّفَةِ

“Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al Khatthab r.a dia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.” (Diriwayatkan oleh dua Imamnya para ahli hadits, Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi dalam dua kitab shahih mereka, yang keduanya merupakan kitab yang paling shahih diantara kitab-kitab yang ada.).
Diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim”.

***
Dewasa ini,sering kali kita dengar ada satu topik yang trending dalam beragama bernama HIJRAH.
Istilah tersebut paling masyhur bertengger dalam jiwa dan keseharian kawula muda, dibanding mereka yang sudah mengenyam usia paruh baya.

Mengapa ?

Mungkin salah satunya ialah faktor karakteristik dimana dalam beragama, anak-anak muda masa kini jauh lebih menyukai khazanah yang unik namun praktis, ketimbang yang terkesan kolot dan dirasa alot.

Istilah Hijrah sebetulnya bukanlah sebuah definisi baru dalam beragama. Terlebih istilah tersebut secara Lughoh sudah dipakai oleh junjungan kita sendiri Rasulullah SAW ketika melaksanakan perpindahan dari Makkah Almukarramah menuju Madinah Almunawwaroh. Atau pernah dipakai pula oleh imamuna Assyafi’i RA ketika sedang mengisahkan hijrah dari Gaza ke Asqalan di masa kecil nya.

Meski demikian, Hijrah yang dipakai untuk pengkultusan sebuah upaya perpindahan jiwa dari kegelapan menuju terang benderang, dari hitam menuju putih, dari keliru menuju tepat, masih dirasa kurang familiar dikalangan masyarakat pada umumnya .

Bagi kalangan santri misalnya, Hijrah hanya sebatas dipakai untuk mendefinisikan perpindahan tempat tinggal, perpindahan asrama atau perpindahan kobong / kamar. Sedangkan untuk yang lebih bersifat bathiniyah, para santri sudah lebih dahulu mengenal istilah Mukasyafah, dengan mengedepankan beberapa proses seperti Taubat yang menjadi kendaraan untuk alur Takholli, riyadhoh yang menjadi pengantar proses Tahalli, dan Ma’rifat sebagai wujud pemantapan hadirnya Tajalli.

Namun hal ini tidak pula berarti bahwa istilah Hijrah ialah sesuatu yang negatif. Justru sebaliknya, adanya pemakaian kata Hijrah sebagai bentuk usaha reinkarnasi diri dalam prilaku beragama dengan sebagian besar pemuda sebagai penggiatnya ialah sebuah bukti, bahwa hakikat keIslaman itu mampu membaur dengan mudah ke segala kalangan dengan satu tujuan yang seragam yakni meng-Esakan Tuhan. Dan bukankah Rasulullah juga sempat menyinggung istilah tersebut dalam salah satu haditsnya yang membahas seputar hakikat Niat ?, sebagaimana penulis bubuhkan di awal artikel ini.

Ini berarti, adanya penggunaan istilah Hijrah yang sedang populer di masa kini ialah suatu energi positif yang sangat patut diapresiasi.

Hanya saja…

Satu hal yang mungkin masih perlu digaris bawahi ialah, apa saja fenomena yang terbentuk setelah menggemanya istilah Hijrah tersebut dalam diri si pelaku ? Dimana tidak sedikit kita sering menemukan para pemuda/i yang sedang berhijrah justru malah menonjolkan prilaku yang bertentangan dengan tujuan suci hijrah itu sendiri.

Mungkin masih banyak dari mereka yang belum faham bahwa setelah menghijrahkan cara berpakaian dari ala Barat ke ala Timur, kita masih jauh dituntut untuk menghijrahkan bahasa tubuh dari “songong” menjadi santun, dari frontal menjadi ramah, dari biadab menjadi beradab.

Setelah menghijrahkan bahasa lisan yang hanya terkesan manis menuju bahasa lisan yang bernilai agamis, kita masih harus berupaya untuk menghijrahkan tutur kata yang kasar penuh kebencian menuju tutur kata yang lembut penuh kasih sayang.

Setelah kita menghijrahkan diri menuju cara pandang yang serba Syar’i, tentu kita tidak boleh malas untuk pula berhijrah dalam konteks keilmuan.

Karena..

Muara Hijrah bukanlah sebatas pakaian yang serba lebar, melainkan bagaimana kita mampu berwudhu dengan benar, sholat dengan benar, dan beribadah dengan benar dibalik pakaian syar’i yang kita kenakan.
Bukan pula sebatas bahasa, pribahasa dan atau kata-kata mutiara yang begitu mempesona,melainkan bagaimana kita mampu memperbaiki akhlaq dari madzmumah menuju mahmudah, dan mempercantik akhlaq yang sudah mahmudah menuju istiqomah.

Secara eksplisit, hijrah ialah kesadaran diri bahwa kita ini adalah manusia yang tidak punya alasan untuk berhenti belajar dan mencari tahu. Jangan sampai baru sepekan menjadi pelaku hijrah, lantas dengan semena-mena menyudutkan pemikiran orang lain yang padahal kadar keilmuannya sudah sangat tumpah ruah.

Penulis :
Zahro Diniyah
Khadimul Ma’had Ponpes Raudlatul Mubtadiin Cianjur

Penulis
Zahro Diniyah
Leave A Reply

Your email address will not be published.