“Gecok” Makanan Khas Santri Cirebon Kesukaan Sultan Matangaji

81

Sama seperti Mataram Islam di Kesultanan Cirebon pun terjadi hegemoni penguasaan Keraton hingga mengharuskan Sultan Muhammad Sofiudin yang ditemani Pangeran Suryanegara, Pangeran Atasangin (Bagus Rangin) harus meninggalkan Keraton dan menjadi Santri dibeberapa Kiai, seperti Kiai Syarif Abdul Muhyidin (Buyut Muhyi, Dawuan Tegal Tani atau disebut juga buyut Rancang karena ahli merancang Strategi ketika meletus Perang Kedondong), Kiai Hasanudin (Kiai Jatiro/Atau Kiai Jatira karena di depan Padepokan/Pesantrennya terdapat pohon jati dua sebagai ciri tempat beliau ketika para santri Pejuang akan bekunjung atau meminta nasehat dan doa agar memenangkan Peperangan dengan Belanda).


Dalam ngangsu Kaweruh (Menuntut Ilmu agama di Pesantren) amanah ayah Sultan Amirzena kepada beliau (Sultan Muhammad Sofiudin) adalah harus bentas mengaji, harus selesai menghatam Al-Quran, dan harus matang mengaji memahami Ilmu agama. Maka karena Sultan Muhammad Sofiudin matang dalam mengaji beliau juga digelari Sultan Matangaji.
Makanan kesukaan Sultan matangaji ketika Hidup di Kraton adalah Ayam Bakar dan Nasi Kuning. Karena ketika terjadi perang Gerilya dan tinggal di Pesantren makanan yang di makan adalah segala yang bersumber dari alam maka makanan yang dimasakan pun semua dari alam, dari hutan belantara, rawa yang ada di sekitar wilayah Cirebon, Majalengka, Kuningan, dan Indramayu. Seperti Ubi Bakar, Pepes Jantung Pisang, Terong Bakar, dan makanan yang disuka Sultan Matangaji sendiri ketika tinggal di Pesantren adalah “gecok”.

Iklan Layanan Masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here