Gus Dur dan Dua Varian Ketundukan

Alfi Saifullah – Dalam majalah tempo edisi 26 Juli 1980, Gus Dur menulis sebuah kolom yang cukup menarik. Kolom yang berisi pandangan dan tafsirnya terhadap tindakan KH. Adlan Ali, Pengasuh Pondok Pesantren Walisongo, Cukir, Jombang. Kiai Adlan terhitung santri kesayangan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Ia merupakan adik kandung Kiai Maksum Ali, menantu Hadratussyaikh yang masyhur dengan Kitab Amtsilatus Tasrifiyah-nya.
Dalam mengawali narasinya, Gus Dur memaparkan akhlak dan keteladanan Kiai Adlan sebagai bentuk bingkai pemikiran. Semasa hidup Hadratussyaikh, Kiai Adlan tidak diperkenankan oleh Sang Mahaguru memasuki aliran tarekat tertentu. Ini dilatarbelakangi polemik antara Hadratussyaikh versus Kiai Kholil, Rejoso seorang mursyid Tarekat Qodiriyah yang diduga mendeklarasikan diri sebagai wali. Wabakdu, ekses-ekses tarekat semacam inilah yang dikritik oleh Hadratussyaikh, bukan ajaran dan dogma tarekat itu sendiri.
Perlu flashback kebelakang untuk memahami konteks tulisan Gus Dur tersebut. Pada tahun 1973 secara resmi, Dr. KH. Mustain Romli pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang merapat ke Partai Golkar. Gayungpun bersambut, ia didaulat sebagai salah-satu juru kampanye partai berlambangkan pohon beringin tersebut. Bergabungnya Kiai Mustain ke Partai Golkar sempat membuat kegaduhan diantara sejumlah kiai dan santri, terutama pengamal Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, yang notabene merupakan santri KH. Romli Tamim, ayahanda Kiai Mustain. Kalangan pesantren seakan menghukumi ‘makruh’ atau bahkan mendekati ‘syubhat’ untuk masuk Golkar yang didukung penuh oleh Rezim Orde Baru. Karena itu, kalangan pesantren lebih ‘sreg’ untuk bergabung ke PPP, meski secara politis cenderung dimarginalkan oleh kelompok Islam modern.
Kontan, pasca bergabungnya Kiai Mustain Romli kedalam tubuh Golkar, status kemursyidannya mulai dipertanyakan. Digugat keabsahan transmisi sanadnya. Sejumlah pengamal Tarekat Qodiriyah terbelah. Sebagian condong terhadap kemursyidan KH. Utsman Al-Ishaqi, Jatipurwo yang dianggap lebih sah, karena mendapat legitimasi secara langsung dari Kiai Romli Tamim. Bahkan lebih parahnya lagi, mobil Kiai Mustain sempat digulingkan oleh beberapa oknum santri di sebuah jalan di Jombang.
Dalam merespon kegaduhan itu, sejumlah ulama dan kiai dari Jombang ‘sowan’ kepada KH. Muslih Abdurrahman Mranggen salah satu mursyid terbesar Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Atas inisiasi dan restu Kiai Muslih, Kiai Adlan Ali didaulat menjadi khalifah sekaligus mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Sejak saat itu, berdiri Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang berpusat di Cukir-Jombang. Disinyalir banyak orang, berdirinya tarekat Cukir seakan menjadi rival bagi tarekat yang sebelumnya telah berdiri di Rejoso.
Dengan pentahbisan Kiai Adlan sebagai mursyid, terjadi kasak-kusuk di kalangan pesantren, terutama alumni dan keluarga besar Tebuireng. Bagaimana mungkin, santri terdekat Hadratussyaikh menjadi mursyid tarekat? sedangkan sang guru menentang eksistensi tarekat, berikut ekses-eksesnya? Walhasil, tulisan Gus Dur berusaha merespon dan menjelaskan sikap dan tindakan KH. Adlan Ali.
Dalam pandangan Gus Dur, secara formal Kiai Adlan Ali memang terkesan atau bahkan bertentangan dengan pandangan Hadratusyaikh. Namun secara esensi ia sangat tunduk dan taat terhadap gurunya tersebut. Seiring terjadinya perubahan sosial, situasi akan selalu berubah, tidak mungkin stagnan. Apa yang pernah dialami oleh Hadratussyaikh akan jauh berbeda dengan apa yang dialami Kiai Adlan. Kondisi sosial masyarakat era Kiai Adlan menuntut perlunya sebuah institusi keagamaan semacam Tarekat. Masyarakat saat itu lebih mudah dibina dengan instrumen jam’iyah tarekat. Oleh karena itu, Kiai Adlan perlu adaptasi dan survive dengan situasi dengan mendirikan tarekat guna memuluskan langkahnya dalam mengembangkan dakwah.
Dengan ungkapan yang menarik, Gus Dur mengistilahkan tindakan Kiai Adlan dengan, “Ketundukan di dalam (inner obedience) yang tampak sebagai pengingkaran di luar (outer disobedience)”. Selanjutnya Gus Dur memberikan uraian atas terminologinya tersebut, “Berapa orangkah dikalangan kita yang sanggup mengikuti perintah dalam penghayatan di dalam seperti itu? Mampukah kita untuk melepaskan diri dari ketundukan luar untuk mengejar didalam, suatu hal yang lebih bersifat pengembangan dan mempunyai nilainya sendiri yang mendasar? Bukankah kebalikannya yang lebih banyak kita lakukan, yaitu ketundukan di luar dan melawan di dalam? Tanyakan kepada para alumni P4, kalau tidak percaya!”.
Sangat menarik untuk mencermati apa yang diuraikan Gus Dur tersebut, terutama dalam memberikan ilustrasi terhadap kelompok yang tunduk diluar namun ingkar didalam. Dalam hal ini Gus Dur memberi contoh alumni penataran P4 yang notabene tunduk, karena takut dengan pihak penatar. Namun dalam hati mereka berontak. Memberi contoh dengan alumni penataran P4 merupakan bentuk keberanian Gus Dur dalam melontarkan kritik terhadap otoritarianisme Orde Baru. Bila dikembangkan lebih lanjut, uraian Gus Dur akan menghasilkan empat variabel bentuk sikap.
Ketundukan di luar sekaligus ketundukan di dalam (outer obedience, inner obedience).
Ketundukan di luar pengingkaran didalam (inner disobedience, outer obedience).
Pengingkaran di luar ketundukan di dalam (outer disobedience, inner obedience).
Pengingkaran di luar sekaligus pengingkaran di dalam (outer disobedience, inner disobedience).
Bercermin dari empat klasifikasi diatas, timbul pertanyaan yang cukup menggelitik. Dimanakah posisi manakah kita saat dihadapkan dengan orang tua, guru, ulama, sahabat, atau bahkan pemerintah yang mungkin kita berseberangan secara ide? Akankah kita layaknya peserta P4 yang telah dicontohkan oleh Gus Dur tersebut, hanya penghormatan semu? Atau bahkan lebih parah lagi, pengingkaran di luar sekaligus pengingkaran di dalam (outer disobedience, inner disobedience) yang lebih dominan dan menguasai kesadaran kita? Naudzubillah min dzalik. Hati nurani kita yang bisa menjawabnya secara lebih jujur.
Alhasil, kiranya otokritik semacam ini sangatlah perlu kepada diri kita, untuk mengkoreksi diri, transformasi diri menuju lebih baik. Dan tidak kalah penting, merefresh dan menata ulang niat dalam setiap tindakan. Wallahu A’lamu bish Shawab.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



