Gus Dur dan Gus Sholah adalah Hadiah Mbah Hasyim untuk Negeri Ini

52
Gus Dur dan Gus Sholah adalah Hadiah Mbah Hasyim untuk Negeri Ini

Ulil Abshar Abdalla, Alif.idDuka bagi NU. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Saya membaca banyak sekali pesan di laman Facebook ucapan belasungkawa dan takziyah atas wafatnya Kiai Salahuddin Wahid atau dikenal sebagai Gus Sholah. Menderasnya ucapan belasungkawa ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh Gus Sholah, dan betapa wafatnya sosok ini dirasakan sebagai kehilangan dan kesedihan oleh banyak orang.

Saya ingin mengingatkan beberapa hal penting tentang Gus Sholah — sekedar untuk “reminder” saja.

Pertama, wafatnya Gus Sholah adalah duka yang mendalam bagi NU, karena beliau adalah cucu Mbah Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau wafat pada saat NU, jam’iyyah yang didirikan oleh kakeknya itu, sedang merayakan Harlah-nya yang ke-94.

Iklan Layanan Masyarakat

Kedua, Gus Sholah adalah sosok yang saat ini menjadi pengasuh dan “menunggui” warisan besar Mbah Hasyim selain NU, yaitu pesantren Tebuireng.

Kita tahu, Pesantren Tebuireng adalah “kiblat”-nya pondok-pondok di lingkungan NU. Di sanalah banyak kiai Jawa belajar untuk menimba ilmu dari Maha Guru para kiai, yaitu Mbah Hasyim Asy’ari yang digelari sebagai Hadlratusy Syaikh — satu-satunya kiai di NU yang menyandang gelar ini. Banyak tokoh Betawi yang “nyantri” di Tebuireng, baik pada zaman Mbah Hasyim atau sesudahnya. Di pondok inilah, menurut kisah yang saya terima, Kiai Abdullah Salam (dan beberapa kiai lain) dari Kajen, Pati, pernah “mondok”. Kiai Abdullah adalah kiai pertama yang di-sowani Gus Dur setelah menjadi presiden.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here