The news is by your side.

Sakralnya Muharam, Lentera Spiritual dalam Arus Zaman

Oleh: Faridh Almuhayat Uhib H.
Wakil Katib MWCNU Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor

Bulan Muharam kerap disebut sebagai bulan sakral. Tapi kesakralan itu sejatinya bukan semata karena mitos atau kepercayaan turun-temurun, melainkan karena keyakinan mendalam yang dijalani secara istiqamah oleh umat. Kesakralan, dalam konteks ini, bukan sesuatu yang kaku, melainkan refleksi spiritual yang terus dihidupkan dan dimaknai ulang (4/7/25).

Dalam tradisi Islam Nusantara, Muharam atau Suro telah menjadi ruang perjumpaan antara ajaran Islam dan kearifan budaya lokal. Dari tradisi kirab, topo meneng, bubur suro, hingga tabot di Bengkulu, semuanya memperlihatkan bagaimana proses islamisasi dilakukan tanpa meniadakan budaya. Islam datang bukan untuk menyingkirkan tradisi, tapi untuk memuliakannya dengan nilai-nilai Qur’ani.

Para wali dahulu memahami bahwa dakwah harus menyentuh akar budaya. Maka bulan Muharam dijadikan momentum sakral untuk lelaku, tirakat, dan tafakur. Bahkan sebagian masyarakat enggan menggelar hajatan sebagai bentuk penghormatan pada bulan ini. Di sisi lain, banyak juga yang menjadikan Suro sebagai waktu untuk menyantuni anak yatim, berpuasa sunnah, atau mengasah kepekaan spiritual.

Muharam juga dikenang sebagai bulan duka atas peristiwa Tragedi Karbala, ketika cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husain bin Ali, syahid pada 10 Muharam 61 H. Nilai keteladanan, keberanian, dan cinta kebenaran dari tragedi itu menjadikan Muharam sebagai bulan perenungan sekaligus penguatan komitmen untuk berjuang di jalan Allah, meski harus menanggung penderitaan.

Puasa dan Amal: Teladan Nabi yang Relevan Sepanjang Zaman

Banyak hadis menganjurkan puasa di bulan Muharam, terutama pada hari Asyura. Sabda Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa puasa Asyura dapat melebur dosa setahun yang lalu (HR. Muslim). Maka wajar jika para Kyai Nahdlatul Ulama senantiasa menganjurkan amalan sunnah ini, bukan sebagai bentuk formalisme ibadah, tapi sebagai laku spiritual yang mendalam.

Tentu, di tengah beragam pendapat, kita perlu bersikap bijak. Muharam bukan ruang untuk justifikasi siapa yang paling benar, tetapi waktu untuk memperkuat kesadaran bahwa kita semua sedang meniti jalan yang sama menuju ridha-Nya.

Generasi Hari Ini dan Tantangan Zaman

Generasi saat ini hidup di tengah era yang penuh gemerlap dunia dan riuhnya godaan. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Generasi hari ini diuji bukan dengan kelangkaan informasi, tetapi dengan banjirnya informasi yang kadang menyesatkan. Dalam kondisi itu, mampu istiqamah dan menjaga spiritualitas di bulan Muharam adalah bentuk jihad modern.

Mereka yang kuat menahan diri di tengah godaan, akan menjadi pribadi unggul, seperti kepompong yang berhasil bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Maka penting bagi generasi kini untuk menjadikan Muharam sebagai momentum melatih keteguhan hati, kedalaman jiwa, dan kelapangan pikir.

Penutup: Mengasah Kesakralan, Menyambut Rahmat Zaman

Muharam mengajarkan bahwa waktu bukan sekadar angka yang bergulir, tapi ruang suci yang bisa kita isi dengan amal, sedekah, dzikir, dan tafakur. Sakralnya Muharam bukan untuk ditakuti, tapi untuk diisi dengan nilai. Bukan untuk dijadikan pamrih, tapi untuk memperbaiki diri.

Sebagaimana orang-orang tua dahulu menyebut hidup ini hanya sebatas mampir ngombe, maka Muharam adalah peringatan lembut dari langit bahwa kita punya utang rasa—rasa malu kepada Allah, kepada Rasul, kepada orang tua, dan kepada sesama.

Ya Allah, Tuhan Pencipta Waktu, jadikan kami hamba-hamba yang mampu merawat waktu-Mu dengan amal, menjemput rahmat-Mu dengan laku, dan menjalani hidup ini dengan penuh rasa syukur dan kesadaran. Aamiin.

Editor: Abdul Mun’im Hasan

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.