Hari Kesaktian Pancasila dan Proyeksi Tantangan Zaman

13

Oleh: L Tri Wijaya N Kusuma

Di tengah semaraknya perayaan peringatan lahirnya Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara, sudah seharusnya makna kelima sila dalam Pancasila senantiasa diaktualisasikan secara berkesinambungan demi keadilan sosial dan kemaslahatan hajat hidup orang banyak. Pemahaman bahwa Pancasila dirumuskan untuk memperkokoh berdirinya Negara Indonesia perlu kita perkuat kembali di era Industri 4.0 saat ini.

Selain itu dengan mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, diharapkan dapat menjadi sebuah oase dalam menjalankan hidup yang lebih baik. Mengingat kembali sejarah berdirinya Indonesia, sebelum Pancasila dirumuskan hingga melewati era reformasi masih banyak rakyat Indonesia yang hidup jauh dari makna sebuah keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Tentunya, melihat fenomena tersebut sudah seharusnya Pancasila tidak hanya menjadi pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara, namun Pancasila juga dijadikan sebagai pedoman dalam mengatur masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera di era industri 4.0.

Dalam menawarkan rekonstruksi makna Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara, penulis ingin menyajikan realita dan proyeksi yang akan dihadapi masyarakat Indonesia di dunia kerja pada era industri saat ini.

Dunia industri tengah memasuki era baru, yang disebut Revolusi Industri 4.0.Tak hanya ramai jadi perbincangan dunia, gaung soal industri generasi keempat ini juga terus dibahas di Tanah Air. Hal ini semakin nyata sejak Presiden Joko Widodo meresmikan peta jalan atau roadmap, yang disebut Making Indonesia 4.0. Presiden berharap, sektor industri 4.0 tersebut bisa menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru berbasis teknologi.

Dalam realita saat ini, dapat disaksikan banyak wirausaha baru yang menggagas cara-cara dan platform baru mulai berdatangan. Dari peradaban industri ke peradaban digital, dari perusahaan menjadi platform.

Perlahan kita sudah bisa menyaksikan salah satu ‘pendatang baru’ di dunia usaha tersebut meraih posisi dominan. Tentu saja tidak mudah mencapai posisi dominan tersebut dan ini jarang kita temui. Namun, ketika berhasil mencapai posisi dominan dalam pasar tersebut, stabilitas pun didapatkan.

Gejala-gejala perubahan besar tersebut sudah mulai nampak. Contohnya pada perubahan industri atau bisnis transportasi, di mana perkembangan transportasi umum berbasis aplikasi atau online dapat membawa dampak cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Sebab, pertumbuhan ekonomi bisa ditopang oleh sektor yang kini semakin berkembang dalam penyerapan tenaga kerja.

Hal ini terlihat dari data yang dirilis oleh Alpha Beta pada tahun 2017, yang menunjukkan sekitar 43 persen dari mitra pengemudi Uber yang disurvei, sebelumnya tidak punya pekerjaan. Jumlah tersebut semakin tergambarkan dari hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir, yang menyatakan bahwa sektor yang melakukan perluasan kesempatan kerja berasal dari sektor transportasi. Selain meningkatkan perluasan kesempatan kerja dan menjadi penyerap angka tenaga kerja yang cukup signifikan, keberadaan transportasi online juga telah menciptakan efisiensi yang ujungnya meningkatkan produktivitas nasional.

Namun, perjalanan ekonomi digital khusus bisnis transportasi di lndonesia, yang belum dipandu oleh sebuah grand design untuk mengatur bidang ini secara menyeluruh, dapat mengancam terjadinya polemik akan sektor ini. Hal tersebut dapat dilihat dari gejolak antara pelaku transportasi online dan konvensional yang terjadi akhir-akhir ini. Sejauh ini, kebijakan yang ditempuh masih bersifat reaktif, parsial dan hanya fokus terhadap sub sektor tertentu.

Perubahan pola sistem transportasi yang diikuti oleh perubahan pola konsumennya telah memberikan dampak psikologis yang besar pula. Alih-alih menerima dan memperbaiki performanya, pengusaha yang masih bersifat konvensional dan mulai tergusur justru memilih langkah-langkah destruktif, seperti pengerahan opini dan massa tandingan. Muaranya adalah tudingan, penyangkalan, dan hambatan. Tidak sedikit dari para pimpinan pengusaha konvensional tersebut yang masih mencari argumentasi tandingan sehingga seakan-akan kemunduran usahanya bukan akibat kelalaiannya merespons secara aktif dan cepat atas perubahan era. Salah satu contoh perusahaan digital yang sudah berorientasi platform adalah Go-Jek.

Di tengah tren pemanfaatan big data, mereka dapat memetakan perilaku konsumen terhadap jasa transportasi hingga delivery produk-produk yang ditawarkan secara online. Secara perlahan namun pasti, mereka mulai memindahkan mindset perusahaan yang selama ini terfokus pada product-based menjadi platform-based

Pancasila dan Tantangan Saat Ini

Kembali pada poin memaknai Pancasila sebagai pedoman dasar kehidupan berbangsa dan bernegara kita, tidak ada salahnya kita coba membangun optimisme di masyarakat bahwa dengan bekerja mengikuti pedoman Pancasila tersebut disertai perkembangan zaman, serta perubahan era digital saat ini, kelak akan ada dampak positif dan prestasi bagi kehidupan bangsa Indonesia. 

Mengutip pernyataan Renald Kasali dalam bukunya the Great Shifting tentang proyeksi kehidupan dan bisnis dalam sepuluh tahun ke depan, generasi milenial diharapkan dapat bereaksi cepat dan aktif merespons perubahan dalam era industri 4.0. Proyeksi pertama bahwa kehidupan dan bisnis akan berpindah secara massif ke dalam platform. 

Kedua, dampak perpindahan kehidupan dari dunia lama ke platform tidak hanya sebatas pada aspek-aspek yang ramai dibicarakan secara sektoral, tetapi juga pada cara, metode berusaha (dari product-based ke platform-based), dan meluas menjadi multi industri. 

Perubahan ini tentu akan memaksa pemerintah untuk dapat segera meremajakan peraturan-peraturan lama, membuat regulasi baru, serta mengubah cara pandang dalam pengelompokan industri dan penciptaan lapangan kerja baru. 

Ketiga, negara (siapa pun pemimpinnya nanti) akan terus menghadapi tekanan-tekanan, baik dari pemain-pemain ekonomi lama maupun pendatang baru, hingga munculnya pelaku baru yang berhasil keluar menjadi pemain utama (dominant player) di pasar. 

Keempat, pekerjaan-pekerjaan yang kita kenal pada abad ke-20 perlahan-lahan akan digantikan oleh pekerjaan-pekerjaan baru yang lebih berbasiskan teknologi. 

Kelima, tak akan ada lagi tempat bagi kelompok medioker yang kurang menuntut diri untuk belajar kembali dan bermental penumpang. Keenam, pendidikan akan mengalami tekanan besar perubahan dari cara pengajaran, teknologi dan standard kualitas. Algoritma, artificial intelligence, dan sistem informasi akan berpengaruh signifikan terhadap proses pembelajaran. 

Ketujuh, pendekatan what to learn akan menjadi using dan berubah menjadi learn how to learn. Kedelapan, salah satu teknologi yang akan sangat berpengaruh dalam kegiatan ekonomi adalah 3D printing yang akan memasuki segala aspek kehidupan. 

Berikutnya, data dan informasi menjadi basis penting dalam perekonomian dan menjadi senjata strategis dalam persaingan. Terakhir, ketika penduduk dunia semakin bergeser ke kota dan membentuk megacities, Indonesia akan berpaling ke desa. Desa akan menjadi tumpuan utama kehidupan dengan wajah ekonomi pedesaannya, yang masih cenderung murni belum terkontaminasi ‘liarnya’ perkembangan teknologi seperti di perkotaan, dan masih tingginya semangat gotong-royong serta warganya menjalankan nilai-nilai Pancasila. 

Seluruh poin proyeksi di atas tentunya dapat menjadi salah satu referensi kita bersama dalam memaknai dan mengisi peringatan kesaktian Pancasila kali ini dan di masa yang akan datang. Nilai-nilai keadilan sosial untuk kemaslahatan hidup rakyat Indonesia masih perlu digaungkan dan diperjuangkan terus di era industri 4.0. Sudah saatnya kemajuan teknologi dimaknai dan dimanfaatkan secara bijak untuk peningkatan produktivitas kerja dan nantinya berdampak pada pertumbuhan positif ekonomi Indonesia.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Kita bikin Indonesia jadi bangsa yang agung.

Dosen Universitas Brawijaya, Malang dan kandidat doktor NCU Taiwan

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here