Hasil Diskusi Kitab Fathul Qarib dengan Tema Siwak

823

Pada Rabu, 3 Oktober 2018 di PP. Arrahmaniyyah dilangsungkan kegiatan Bahtsul Masa’il yang mengambil tema “Siwak”. Berikut ini laporan dari Ustadz Fuad Munir, S.Pd.I (Ketua LBM PCNU Depok) tentang pembahasan seputar tema tersebut.

1. Apakah makruh tanzih itu? Apa perbedaan makruh tanzih dengan tahrim?

الفرق بين كراهة التحريم وكراهة التنزيه: أن الأولى تقتضي الإثم، والثانية لاتقتضيه.

Perbedaan antara Makruh TAHRIIM dan Makruh Tanziih adalah makruh yang pertama berakibat dosa sedang makruh yang kedua tidak.

(I’aanah at-Tholibin I/121, Al-Fiqh al-Islaam I/598)

Perbedaan MAKRUH TAHRIM dengan HARAM

والفرق بين كراهة التحريم والحرام مع أن كلا يقتضي الإثم أن كراهة التحريم ما ثبتت بدليل يحتمل التأويل والحرام ما ثبت بدليل قطعي لا يحتمل التأويل من كتاب أو سنة أو إجماع أو قياس

Perbedaan antara makruh tahriim dan Haram yang kedua-duanya berakibat dosa.

Makruh Tahrim: Ketetapan hukum yang berdasarkan dalil yang masih memungkinkan dita’wil (ditafsiiri)

Haram:
Ketetapan hukum yang berdasarkan dalil yang tidak dapat lagi dita’wili baik berdasarkan alQuran, Hadits, Ijma ataupun Qiyas.

(I’aanah at-Thoolibiin I/121, Tuhfah al-Habiib II/43, Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khathiib III/416)

Perbedaan dan Persamaan antara Haram dan Makruh Tahrim

وَالتَّحْرِيمُ وَكَرَاهَةُ التَّحْرِيمِ يَتَشَارَكَانِ فِي اسْتِحْقَاقِ الْعِقَابِ بِتَرْكِ الْكَفِّ ، وَيَفْتَرِقَانِ فِي أَنَّ التَّحْرِيمَ : مَا تُيُقِّنَ الْكَفُّ عَنْهُ بِدَلِيلٍ قَطْعِيٍّ .
وَالْمَكْرُوهُ مَا تَرَجَّحَ الْكَفُّ عَنْهُ بِدَلِيلٍ ظَنِّيٍّ (1) .

وَفِي مَرَاقِي الْفَلاَحِ : الْمَكْرُوهُ : مَا كَانَ النَّهْيُ فِيهِ بِظَنِّيٍّ . ، وَهُوَ قِسْمَانِ : مَكْرُوهٌ تَنْزِيهًا وَهُوَ مَا كَانَ إِلَى الْحِل أَقْرَبَ ، وَمَكْرُوهٌ تَحْرِيمًا وَهُوَ مَا كَانَ إِلَى الْحَرَامِ أَقْرَبَ ، فَالْفِعْل إِنْ تَضَمَّنَ تَرْكَ وَاجِبٍ فَمَكْرُوهٌ تَحْرِيمًا ، وَإِنْ تَضَمَّنَ تَرْكَ سُنَّةٍ فَمَكْرُوهٌ تَنْزِيهًا ، لَكِنْ تَتَفَاوَتُ كَرَاهَتُهُ فِي الشِّدَّةِ وَالْقُرْبِ مِنَ التَّحْرِيمِ بِحَسَبِ تَأَكُّدِ السُّنَّةِ (2)

(1) شرح مسلم الثبوت للأنصاري 1 / 57 – 58 ، والتعريفات للجرجاني 228 .
(2) حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح 188 – 189 .

Artinya:
Haram dan Makruh Tahriim kedua-keduanya dalam kesamaan dalam berhaknya atas siksa akibat pelarangannya, keduanya berbeda dari segi ketetapan hukum haram pelarangannya bersumber dari dalil pasti sedang makruh tahrim dari dalil yang zhonny (dalil dugaan kuat) yang diunggulkan.

(Syarh al-Muslim ats-tsubuut li anshoory I/57-58 dan Ta’rifat li alJurjaany hal.228)

Dalam kitab Muraaqi al-Falaah dijelaskan “Makruh adalah ketetapan yang pelarangannya berdasarkan zhonny (praduga kuat) dan terbagi atas dua macam :
1. Makruh Tanziih ialah makruh yang lebih cenderung mendekati hukum halal
2. Makruh Tahriim ialah makruh yang lebih cenderung mendekati hukum haram

Maka sebuah perbuatan bila mengandung meninggalkan kewajiban kemaruhannya kearah tahriim sedang bila mengandung meninggalkan kesunahan kemaruhannya kearah tanziih hanya saja kadar dan kedekatan yang terdapat pada makruh tanzih dengan makruh tahriim tentunya juga berbeda disebabkan muakkad (dianjurkan) dan tidaknya sebuah kesunahan.

(Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah X/206)

2. Apakah menggunakan siwak yang sudah dihaluskan menjadi pasta, berkumur dengan listerin dan sejenisnya sudah mendapatkan kesunahan siwak?

Dalam Al- Majmu’ syarh Muhaddzab I/282 dijelaskan kriteria siwak yang sunah adalah sbb:

والمستحب أن لا يستاك بعود رطب لا يقلع ولا بيابس يجرح اللثة بل يستاك بعود بين عودين وبأى شئ استاك مما يقلع القلح ويزيل التغير كالخرقة الخشنة وغيرها أجزأه لانه يحصل به المقصود

وقوله وبأى شئ اشتاك مما يزيل التغير والقلح أجزأه كذا قاله أصحابنا واتفقوا عليه قال القاضى أبو الطيب وصاحبه صاحب الشامل وآخرون فيجوز الاستياك بالسعد والاشنان وشبههما

Artinya:
Disunnahkan untuk tidak bersiwakan memakai KAYU BASAH yang tidak bisa mengangkat (kotoran) dan KAYU KERING yang bisa melukai gusi, pakailah kayu di antara keduanya, dan DENGAN APA SAJA yang bisa menghilangkan warna kuning dan bau gigi seperti sobekan kain kasar dan selainnya bisa mencukupi karena sesuai dengan tujuan bersiwak.

Berarti kriteria alat siwak yang disunahkan adalah:
1.Bisa menghilangkan kotoran pada gigi
2.Menghilangkan bau mulut
3.Tidak melukai

Previous articleMajelis Ta’lim Kripik Singkong Menyambut Hari Kesaktian Pancasila
Next articlePakar Al-Qur’an: Jangan Kaitkan Gempa dengan Dosa
Aktif sebagai wakil sekretaris LTM PCNU Kab. Bogor, Penasihat di Yayasan Al Ittihadul Islami Annahdliyah Bogor, menekuni dunia penterjemahan, pengurus Aswaja Center NU Jabar, Wakil Ketua Pergunu kota Depok dan sebagai muharrik dakwah blusukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here