The news is by your side.

Ironi, Tidak Setuju Pancasila Tapi Tinggal di Indonesia

Jakarta, NU Online

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Prof Irfan Idris mengungkapkan keironisan terhadap kelompok-kelompok tertentu yang tidak menyetujui Pancasila sebagai dasar negara, tetapi masih tinggal di Indonesia.

Irfan mengumpamakan sikap dan perilaku kelompok ini seperti orang yang sedang menaiki perahu tetapi berusaha membocorkan perahunya sehingga akan tenggelam. Padahal sendirinya ada di dalam perahu tersebut.

“Ini sama saja lagi naik perahu tapi membocorkannya,” ujar Irfan Idris saat memberikan materi dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pembinaan Paham Keagamaan dan Penanganan Konflik, Selasa (12/12) di Jakarta yang digelar Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI.

Menurut doktor lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, substansi atau inti dari Pancasila sudah sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam sehingga tidak perlu mengganti dasar negara. Bahkan menurutnya, Pancasila berhasil menciptakan harmonisasi kehidupan berbangsa sebagai wujud dari prinsip rahmatan lil ‘alamin.

“Kita ini dianjurkan meneguhkan nilai-nilai agama, bukan mendirikan formalitas agama ke dalam sistem negara,” tegas Irfan.

Dia menyadari, benturan antara Pancasila dan agama disebabkan karena beberapa masyarakat belum memahami korelasi nilai-nilai Pancasila dengan agama. Sebab itu, menurutnya, harus ada yang bisa memberikan pemahaman Pancasila dengan integrasi nilai-nilai agama.

“Pemahaman Pancasila ini mulai bergeser karena masyarakat belum banyak yang memahami,” tuturnya.

Ia menegaskan, Indonesia sudah sesuai syariat Islam, tidak bertentangan dengan agama. Berbeda tidak harus sama. Dan Indonesia mampu menciptakan harmonisasi kehidupan beragama. Adapun, katanya, konflik bisa diselesaikan secara bersama-sama sehingga tidak menjalar ke persoalan sentimen keagamaan.

“Tanpa adanya negara, agama tidak dapat disebarkan. Sehingga memperkuat negara menjadi hal utama untuk mendakwahkan nilai-nilai agama secara luas,” tandas Irfan Idris. (Fathoni)

Sumber : NU Online

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.