K.H. Fuad Affandi : Kyai Agribisnis

414

K.H. Fuad Affandi : Kyai AgribisnisKH Fuad Affandi merupakan Pimpinan Pesantren Al Ittifaq Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Bandung. Meski sebagai guru mangaji ilmu agama yang bergelut spenuhnya dalam dunia sayur mayur hasil pertanian santri dan warga sekitar, Beliau dikenal telah menemukan MFA (Mikroorganisme Fermentasi Alami) dan tiga jenis pembasmi hama tanaman yang diberi nama Innabat (Insektisida Nabati), Ciknabat (Cikur Nabati), dan Sirnabat (Siki Sirsak Nabati).

KH Fuad Affandi lahir di Bandung pada 20 Juni 1948. Beliau memiliki lima anak. Sang Kyai ini nyentrik dan unik. Janggut tergerai panjang, bicara ceplas ceplos namun mempunyai kepedulian luar biasa pada santri dhuafa dan warga sekitar ponpes. Banyak orang mengenalnya dengan Kyai agrobisnis dengan tarekat sayuriah.

Perjalanan hidup

Iklan Layanan Masyarakat

K.H. Fuad Affandi : Kyai AgribisnisDahulu saat kakeknya, KH Mansur memimpin pesantren yang berdiri tahun 1934 ini, banyak larangan yang wajib dipatuhi masyarakat sekitar. Misalnya; Berhubungan dengan pejabat pemerintah, masuk sekolah formal, membuat rumah menggunakan tembok, penggunaan radio, serta larangan pembangunan kamar mandi di dalam rumah.

Konon, sang kakek merupakan orang buangan Belanda. Maka segala hal yang berhubungan dengan Belanda ia haramkan. Kebiasaan ini pun menurun kepada ayahnya, KH Rifai’ saat memimpin pesantren.

Tahun 1970, tampuk kepemimpinan beralih ke tangan KH Fuad Affandi yang juga murid Kiai NU legendaris Mbah Maksum Lasem. Kebiasaan pun perlahan berubah. Kini di al Ittifaq telah berdiri sekolah formal, mulai tingkat Taman Kanak-kanak (TK), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Beberapa bangunan pondok tampak bertingkat. Setiap kamar dan ruangan/lokal sudah dilengkapi tempat mandi dan televisi.

Perubahan yang digagas KH Fuad bukan tanpa rintangan. Ratusan orang silih berganti mengancam akan membunuh KH. Fuad Affandi yang telah berani mengubah tradisi leluhurnya itu. Belum lagi KH. Fuad Affandi disebut wong edan, orang aneh, sinting, dan banyak lagi.

Begitu juga saat KH Fuad meminta masyarakat memasang listrik. Lantaran persyaratannya harus ada 20-25 rumah yang juga turut serta dipasangi listrik, untuk mewujudkan itu, Fuad nekad meminjam rumah orang lain meski awalnya ditolak sang pemilik.

Inspirasi Gus Dur

K.H. Fuad Affandi : Kyai AgribisnisMang Haji, demikian panggilan akrab ulama yang dikenal sebagai ilmuwan bidang teknologi pertanian ini menyatakan punya kesan yang mendalam pada sosok Gus Dur. Secara khusus pada tahun 1980an saat bertemu Gus Dur di Surabaya ia diberikan motivasi. “Hal yang membekas dalam diri saya saat beliau bilang, Kiai Fuad, kalau sudah punya keinginan baik, jangan terhalang oleh kenyataan yang ada. Saya camkam betul soal itu. Saya buktikan dengan kelemahan saya yang tidak sekolah nyatanya saya mampu bikin sekolah. Kenyataan pada saya bukan sarjana pertanian, saya bisa menjadikan pertanian berkah untuk hidup,” terangnya.

Menurut Mang Haji, nasihat Gus Dur terhadap dirinya seperti itu tentu bukan asal-asalan dan mudah diterapkan. Pasalnya untuk benar-benar mampu melewati rintangan dalam setiap usaha itu selalu butuh prinsip-prinsip yang setiap orang harus membangun sendiri. Sebab menurutnya, jika Gus Dur berkeyakinan bahwa setiap keinginan baik pasti akan tercapai, maka Kiai Fuad Affandi merasa harus membangun etos hidup yang luar biasa berat dilakukan tetapi menjadi kewajiban.

“Untuk berhasil dengan cita-cita yang kita inginkan itu maka saya tetapkan sebuah pedoman khusus. Sebagai santri yang di sana-sini banyak kekurangan, maka untuk menutupi kekurangan itu saya berpikir, tak boleh ada sejengkal tanah yang menganggur. Tak boleh ada sehelai sampah yang ngawur (terberai),” jelasnya.

 

Griya Gus Dur dan Kyai Fuad

Pendirian Griya Gus Dur yang berlangsung hari ini di Jakarta mendapat respon khusus dari Ulama terkemuka, K.H Fuad Affandi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittifaq Rancabali Kabupaten Bandung. Mang Haji, demikian panggilan akrab KH. Fuad Affandi, menyambut hangat inisiatif tersebut dan mengucapkan selamat kepada keluarga Alm KH. Abdurrahman Wahid.

“Saya mendengar informasi dan membaca berita sore ini. Yang mengawali niat pendirian itu patut dihargai. Yang menyukseskan acara tersebut juga patut mendapatkan kehormatan. Insya Allah Gusti Allah meridloi karena saya membaca kabar tersebut punya semangat yang baik,” ujarnya melalui sambungan telepon kepada Katakini.com, Ahad, 24/1/2016.

Kiai yang dikenal sebagai pejuang kaum tani itu berharap agar semangat kebangsaan Alm Gus Dur benar-benar mengalir dari Griya tersebut.

“Saya harap semangatnya. Dulu Gus Dur dalam urusan kenegaraan punya tantangan tersendiri yang berbeda dengan situasi sekarang ini. Karena itu pelajaran yang harus diambil adalah semangat dari Gus Dur. Anak-anak muda ambil semangatnya dan jangan mengekor karena persoalan sekarang dan berbeda. Jangan ambil ikannya, tapi pakai kailnya,” terangnya mewanti-wanti.

KH Fuad Affandi berpesan secara khusus agar Griya Gus Dur punya fokus garapan di tanah Pasundan. Sebab menurutnya, di Jawa Barat kelompok Nahdlatul Ulama masih sebatas bergerak dalam ranah kultural ubudiyah dan ada kelemahan dalam hal pergerakan.

“Sisi muamalah, lebih khususnya harakah NU di Jawa Barat ini masih lemah. Karena itu kalau keluarga Gus Dur tidak keberatan, harus ada fokus tersendiri untuk membantu perbaikan politik kebangsaan di Jawa Barat. Apalagi di sini warisan Islam ekstrem juga masih menjadi persoalan. Sebagai rasa takdzim kami kepada keluarga Gus Dur, saya terbuka, silahkan pondok Al-Ittifaq ini dijadikan kegiatan para Gus Dur muda. Silahkan gunakan tempat ini untuk kegiatan kebangsaan, lintas agama, lintas sektoral, lintas mazhab. Saya akan bantu semampunya,” pungkasnya.
Penemuan Mikroorganisme Fermentasi Alami (MFA)

Temuan MFA berawal ketika sisa-sisa pakan ternak dijadikan pupuk. Namun, kendala saat itu, memakan waktu sekitar 3 bulan hingga pupuknya busuk. Jika waktunya kurang, tanaman bukannya subur, malah mati.

Kemudian KH Fuad Affandi teringat akan koleganya, Prof Entang, di Belanda, sewaktu ia menerima tawaran pemerintah untuk belajar bercocok tanam pada 1987 di Universitas Wageningen, Belanda, Fuad menyampaikan keluhan ihwal lamanya pembusukan pupuk itu.

Prof. Entang menyampaikan melalui telepon bahwa bila kita makan pagi busuk sore, kalau kita makan sore busuk pagi. Proses tersebut tidak menunggu lama apalagi di dalam perut.

Kebiasaan bakteri, kalau tidak ada makanan yang masuk dalam waktu cukup lama, mereka akan naik untuk memakan sisa makanan yang ada di dalam rongga mulut. Maka ketika naik itulah, tepatnya saat manusia bangun dari tidur malam, bakteri beranjak ke mulut. Kemudian dengan cara berkumur-kumur bakteri ini bisa diambil.

Menjelang subuh, sesudah bangun tidur malam sang Kiyai menyuruh para santri untuk menampung air bekas kumur-kumur ke dalam kaleng yang telah disediakan di depan pondok.

Untuk menjaga agar bakteri itu tetap hidup, Fuad memasukkan molase atau gula putih, dedak, dan pepaya ke dalamnya sebagai makanan bakteri.

Setelah beberapa hari, air liur santri berubah menjadi cairan kental berwarna keruh. Untuk memeriksa apakah bakteri itu masih hidup atau mati dengan cara mencium baunya. kalau tercium aroma coklat, berarti bakteri masih hidup. Namun, jika tercium bau bangkai, berarti bakteri itu sudah mati.

Setelah itu cairan berisi bakteri yang masih hidup disiramkan ke bahan pupuk yang terdiri dari limbah sayuran dan kotoran ternak. Dari penemuannya ini, proses pembusukan berlangsung hanya dalam waktu 15 hari. Jauh lebih cepat dibandingkan proses sebelumnya, yang memakan waktu hingga 3 bulan.

Penemuan lain

Selain MFA, ada beberapa temuan lainnya di ranah pertanian, antara lain:

  • Ciknabat, formula pestisida nabati yang berbahan dasar cikur atau kencur, dan bawang putih.
  • Inabat, insektisida nabati yang terbuat dari kacang, cabai, bawang, temu lawak, dan air.
  • Sinabat, sirsak nabati yang berasal dari biji sirsak dan daun arpuse. Fungsinya mengusir hama jenis serangga tanpa meninggalkan residu. Sekaligus dapat menekan tingginya residu, pengaruh pestisida buatan pabrik yang merusak struktur serta sifat biologis tanah.
  • Betapur, merupakan campuran betadin dan kapur. Campuran ini menangkal sekaligus menyembuhkan sayuran dari serangan hama penyakit Phytophthora infestans yang sering menjangkiti tanaman kentang, serta penyakit Alternaria pori yang menyerang tanaman bawang daun. Bahkan, hama nematoda golden yang sering menyerang tanaman, dan hingga kini belum ada obat pembasminya, bisa diantisipasi dengan pestisida itu.

Penutup

Dari hasil pertanian yang dikelola santri, akhirnya ponpes mengelola beberapa kelompok tani yang juga dibantu berbagai instansi baik swasta ataupun pemerintah. Mang Haji adalah orang yang fleksibel dan mau belajar. Berbagai instansi pemerintah dan swasta yang kira-kira bisa membantu perkembangan agrobisnisnya dihubungi. Maka dari itu, berbagai bantuan baik program pelatihan, bantuan barang, mesin, pupuk, dan sebagainya diperoleh oleh ponpes ini.

Mang Haji menggandeng warga sekitar dengan memberikan fasilitas yang sama. Termasuk di dalamnya proses pemasaran. Ponpes lalu mendirikan koperasi. Pemasaran hasil pertanian santri dan warga sekitar yang dikelola kelompok tani ini disalurkan oleh koperasi ke supermarket-supermarket dan pasar tradisional, sisanya dikonsumsi oleh santri dan warga sendiri. Mang Haji lalu menjadi pahlawan yang bisa menggerakkan santri untuk belajar ilmu agama, namun juga meningkatkan kesejahteraan warga sekitar. Jadi, sosok pahlawan ini telah menampilkan kesederhanaan, rasa syukur, bekerja giat, sosial entrepreuneur dan mengajarkan menjaga harga diri untuk selalu menjadi insan yang bermanfaat.

Prospek agrobisnis dengan mengedepankan pestisida serta pupuk ramah lingkungan yang dikembangkan Ponpes Al-Iftifaq ini, sudah dikenal masyarakat luas bahkan jadi pilot project skala nasional di lembaga pertanian lain.

Penghargaan

  • Di masa Soeharto, ia menerima Tut Wuri Handayani Award.
  • Pada era presiden Habibie, Fuad dianugerahi Setya Lencana Wirakarya.
  • Kala Presiden Megawati berkuasa, menerima Kalpataru.
  • Good Agriculture Practices (GAP) dari Menteri Pertanian 2004-2009, Ir Anton Apriyantono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here