The news is by your side.

Ke Mana Banser Saat Terjadi Bencana? Ini Jawabannya

Jakarta, NU Online
Banser ke mana? Pertanyaan itu sering diperdengarkan saat terjadi bencana. Entah dengan maksud apa pertanyaan itu muncul. Apakah untuk menyudutkan Banser? Apakah pertanyaan itu muncul dari orang yang benci pada Banser? Ataukah mereka benar-benar tidak tahu menahu tentang Banser?

Wakil Sekretaris PCNU Lombok Tengah, Bahaidin Ahmad, mencoba menjelaskan jawabannya. Melalui tulisan di akun facebook-nya yang diunggah Ahad (30/9), ia mengawali dengan penjelasan bahwa Banser adalaah sayap GP Ansor. Adapun GP Ansor adalah badan otonom NU. NU sendiri adalah organisasi besar yang memiliki banyak badan otonom (Banom) serta lembaga yang mempunya tugas dan fungsi masing-masing.

Ia pun menegaskan yang pertama harus diketahui bahwa lembaga di NU yang memiliki tugas menanggulangi dampak bencana alam adalah Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI NU). Adapun Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulaa (LAZISNU) bertugas menopang dari sisi penyediaan dana. Dalam penanganan kebencanaan, kedua lembaga ini bergabung dalam NU Peduli.

“Semua Banom dan lembaga NU akan melebur ke sana ketika terjadi bencana,” tulis Bahaidin.

Hal kedua yang harus diketahui adalah bahwa Banser ada di semua kabupaten dan kota di Indonesia, jadi tidak perlu menunggu keberangkatan Banser yang ada di luar wilayah itu baru Banser berbuat. Banser yang berada di luar wailayah bencana tugasnya lebih pada ikut mengumpulkan dana dan kebutuhan lainnya untuk menopang kerja penanggulagan bencana yang dilakukan Banser atau lembaga NU lainnya di wilayah bencana.

Kalaupun ada Banser dan Ansor yang turut terjun ke wilayah bencana biasanya berasal dari wilayah terdekat. Misalnya untuk penanganan pascagempa bumi NTB, Banser dan Ansor yang terjun berasal dari Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, selain dari NTB sendiri.

Lebih besar dari itu, bahwa kerja-kerja NU dalam berbuat kebaikan bukan untuk mencari nama kemudian menjatuhkan pihak lain. “Tapi semata-mata karena Allah dan atas nama kemanusiaan,” lanjut pria yang pada periode 2014-2016 diamanahi sebagai Ketua PKC PMII NTB.

Seandainya pun kerja-kerja NU itu disebarkan lewat media masa maupun medsos, menurut Bahaidin, hal itu tidak lebih karena syiar untuk mengajak sesama agar saling peduli. Juga sebagai bentuk pertanggugjawaban atas kepercayaan semua pihak, yang menyalurkan bantuan melalui NU.

Akhirnya, Bahaidin mengajak agar masyarakat bersama-sama berbuat kebaikan dalam mencari keridhaan Allah Swt, tanpa menjatuhkan pihak lain. Semua pihak punya cara masing-masing dalam melakukan kebaikan yang mungkin tidak kita ketahui. Atau mungkin banyak di antara mereka yang memang tidak mau diketahui seperti halnya orang yang bersedekah tidak mau namanya diketahui orang lain, sehingga tercantumlah nama ‘Hamba Allah’. (Kendi Setiawan)

Sumber : NU Online

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.