Ketum PBNU: Rasulullah Tidak Mendirikan Negara Islam

9

Ketum PBNU: Rasulullah Tidak Mendirikan Negara IslamTIMESINDONESIA, JAKARTA – Ketua Umum PBNU yang juga Guru Besar H.C UIN Sunan Ampel, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA mengisi kuliah umum di UIN Sunan Ampel (UINSA), Surabaya, Senin (5/3). Kuliah umum ini membahas tema “Islam Nusantara, Radikalisme dan Geo Politik Global”. Acara ini dihadiri ratusan mahasiswa Pascasarjana UINSA.

Direktur Pascasarjana UINSA, Prof Dr H Husein Aziz, M.Ag, memberikan sambutan sekaligus membuka acara tersebut. Dalam sambutannya Husein Aziz mengatakan; “Tema yang kita ambil Islam Nusantara. Tema ini kita ambil karena maraknya radikalisme,” ucapnya.

“Radikalisme yang ada di kampus itu karena kehausan ideologi, orang haus itu akan minum apa saja yang disajikan meskipun basi, nanti baru sadar setelahnya,” sambungnya.

Orang haus ideologi, lanjut Husein Aziz, jangankan radikalisme, ISIS pun akan dimasuki. Oleh karena itu Islam Nusantara perlu kita sosialisikan lagi.

Dalam kesempatan kuliah umum ini KH Said Aqil memaparkan, sejarah, politik, budaya Timur Tengah dan perjuangan Rasulullah dalam menyatukan umat.

“Yang namanya umat yang dimaksud Nabi Muhammad yaitu umat secara keseluruhan. Baik muslim maupun non muslim. Rasulullah mengajak bersatu, konsiliasi, bukan membenturkan antara umat muslim dan umat non muslim,” kata Kiai Said.

“Rasulullah tidak pernah mendirikan negara Islam, yang didirikan Rasulullah Citizenship kewarganegaraan, yaitu Negara Madinah,” lanjut kiai kebolan Ummul Quro, Madinah ini.

Soal Islam nusantara, dia mengungkapkan bahwa Islam nusantara bukan mazhab, bukan pula aliran. Tapi tipologi, mumayyizaat, khashais.

Kang Said menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam yang anti-Arab dan Islam yang benci Arab. “Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara, mari kita jadikan budaya sebagai infrastruktur agama, kita jadikan Indonesia jadi kiblatnya budaya,” katanya.

Ia pun memberi contoh. Misalnya sarung atau baju batik sebagai bentuk budaya. Sarung digunakan untuk salat dan beribadah.

“Jangan di balik. Agama untuk budaya, gamis untuk demo, itu enggak bener,” ucapnya disambut tawa mahasiswa dan dosen

Kiai Said Aqil menutup kuliahnya dengan mengajak mahasiswa dan para intelektual untuk memecahkan persamaan bangsa.

“Tantangan kita ada empat, kedzaliman dalam berpolitik, kedzaliman bidang ekonomi, kedzaliman bidang moneter, kedzaliman bidang ilmu,” ungkapnya. (*)

Sumber : Times Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here