The news is by your side.

KH Achmad Chalwani: Jangan Terkecoh dengan Istilah Rumah Tahfiz

Jakarta, NU Online – Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Achmad Chalwani mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam memilih rumah tahfiz ataupun pesantren bagi pendidikan putra-putrinya. Kiai Chalwani mengingatkan pentingnya melihat silsilah atau sanad keilmuan dari guru yang mengajar pada lembaga rumah tahfiz yang digunakan untuk menghafalkan Al-Qur’an.

“Penting sekali masuk pesantren. Tapi kita hati-hati. Hari ini, ada pesantren betul-betul pesantren, tapi ada pesantren cuma casing (bungkus) saja pesantren, tapi softwarenya bukan pesantren,” kata Kiai Chalwani di kanal Youtubenya, Ahad (12/12/2021).

Hal ini menurutnya juga pernah diingatkan oleh KH Chudlori, Pendiri Pesantren Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, yang menyebut  ada dua jenis pesantren yang ada di tengah-tengah masyarakat. “Ada pesantren plastik, ada pesantren besi,” sebutnya mengutip perkataan Kiai Chudlori.

Pesantren besi lanjutnya adalah pesantren yang memiliki sanad keilmuan jelas dan berpaham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Sedangkan pesantren plastik adalah pesantren yang tak jelas sanadnya. “Kalau masuk ke pesantren jangan hanya lihat ada  tulisan ‘Pondok Pesantren’ terus masuk. Jangan begitu. Tanya sama pengurus NU. Tanya sama kiai,” tegasnya.

Ia mengungkapkan fenomena di berbagai daerah khususnya di perkotaan banyak bermunculan rumah tahfiz plastik. “Hati-hati. Jangan terkecoh dengan istilah rumah tahfiz,” Kiai Chalwani mengingatkan.

Menurutnya, sanad Al-Qur’an dan Qira’ah Sab’ah di Indonesia ini hanya dari KH Munawir Krapyak Yogyakarta. Dan satu-satunya murid Kiai Munawir yang khatam Qira’ah Sab’ah adalah KH Arwani dari Kudus.

Terkait pentingnya silsilah ilmu agama ini, Pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi NU telah mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan bagian dari agama dan penting untuk memperhatikan dari mana ilmu pengetahuan tersebut didapatkan.

I’lam anna hadza ilma dinun, falyandzur ahadukum ‘amman ya’khudzu dinahu. Ketahuilah bahwa ilmu agama adalah agama. Maka ketika kalian mengambil ilmu agama harus jelas dari siapa kalian mengambilnya. Jangan asal ambil,” tegasnya.

Hal ini sudah dicontohkan oleh KH hasyim Asy’ari sendiri yang merupakan sosok ulama dengan silsilah keilmuan yang jelas. Di bidang syariat, beliau adalah murid dari Syaikhona Khoili Bangkalan. Di bidang tarekat, beliau bersanad kepada KH Mahfud Termas Pacitan dan seterusnya sampai Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Aiz Luthfi

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.