21.6 C
Bandung
Wednesday, May 25, 2022

Sebuah perkumpulan yang tak memiliki media, sama dengan perkumpulan buta tuli - KH Abdul Wahab Chasbullah

Must read

Ayik Heriansyah
Penulis artikel produktif yang sering dijadikan rujukan di berbagai media massa, pemerhati pergerakkan Islam transnasional, khususnya HTI yang sempat bergabung dengannya sebelum kembali ke harakah Nahdlatul Ulama. Kini aktif sebagai anggota LTN di PCNU Kota Bandung dan LDNU PWNU Jawa Barat.

KIAI DARING, WAHABI PENING

Wabah Covid-19 zhahirnya musibah, batinnya pelajaran. Syaikh Ibnu ‘Atha’illah berujar:
اَلاَكـْواَنُ ظاَهِرُهاَ غِرَّ ةٌ وَباَطِنُهاَ عِبْرَةٌ فاَالنَّفْسُ تَنْظُرُ اِلىَ ظاَهِرِ غِرَّتِهاَ والقَلبُ يَنْظُرُ اِلٰى باَطِنِ عِبْرَتِهاَ ٭
“Alam semesta ini lahirnya berupa tipuan, dan batinnya sebagai peringatan, maka hawa nafsu melihat lahir tipuannya, sedangkan mata hati memperlihatkan peringatan/akibatnya”.

Wabah ini membalikkan arus dan gelombang keberagamaan umat Islam di Indonesia. Kaum Wahabi terbelalak menyaksikan ulama-ulama di Arab Saudi memfatwakan bid’ah dalam ibadah. Dulu mereka petantang petenteng mem-bid’ah-kan shaf-shaf shalat yang renggang, yang ada sela 1-5 sentimeter. Kini mereka diam, mendengar fatwa ulama “salafi”, shaf shalat harus minimal berjarak satu meter.

Dulu mereka menolak mashlahah sebagai illat dalam penetapan hukum syari’ah karena dianggap berdasarkan hawa nafsu. Apalagi dalam ibadah mahdlah. Orang-orang yang menjadikan mashlahah sebagai illat dituding berpaham liberal. Jongos negara-negara kapitalis Barat. Dicap musuh Islam.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article