Kiai Ma’ruf Amin Teureuh Sumedang

170
Kiai Ma’ruf Amin Teureuh Sumedang
KH. Maruf Amin by obiyshinichiart
devianart.com
Website resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) nu.or.id, pada 17 April 2017 mengunggah berita yang tak biasa. Rais ‘Aam Ziarahi Leluhurnya di Sumedang, demikian judul yang diturunkan. Rais Aam yang dimaksud adalah KH Ma’ruf Amin. Berita itu dilengkapi dengan foto Kiai Ma’ruf bersama sejumlah pengiring dan pengurus NU Cabang Sumedang sedang berdoa di makam Prabu Geusan Ulun dan Ratu Harisbaya di Dayeuh Luhur. Perjalanan ziarah itu kini seolah menyambungkan sejumlah puzzle yang sebelumnya terpisah, setelah secara resmi ia menjadi calon Wakil Presiden berpasangan dengan Joko Widodo.

Ziarah itu menjadi bukti bahwa perjalanan Kiai Ma’ruf menjadi Cawapres Jokowi tidaklah tiba-tiba, tetapi melalui proses yang panjang. Pengasuh Pesantren An-Nawawi Tanara ini seolah perlu mengungkap nasabnya (sunda: teureuh, turunan) ke publik.

Nasab keulamaannnya bersambung kepada Syaikh Nawawi al-Bantani, ulama masyhur yang pada masanya menjadi imam di Masjidil Haram, Makkah. Kitab-kitab karya Imam Ulama Haramain itu menjadi bacaan wajib di hampir semua pesantren di kawasan Nusantara.

Sementara nasab keningratannya tersambung kepada R Aria Wangsakara (Wiraradja II), putra R Wiraradja I, putra Prabu Geusan Ulun dan Ratu Harisbaya. Pada masa mudanya Wangsakara merantau ke Banten bersama dua saudaranya.

Iklan Layanan Masyarakat

Silsilah inilah yang jauh sebelumnya pernah dijelaskannya kepada Ketua Umum Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi (Pikiran Rakyat, 10-08-18). Ia menyebut masih keturunan Sunda dari Kerajaan Pajajaran. Maksudnya, Pangeran Geusan Ulun sebagai Raja Sumedang Larang memang dicatat sebagai penerus Kerajaan Pajajaran yang runtag akibat serangan Banten (1579), dengan bukti penyerahan Mahkota Binokasih oleh empat pengawal utama (Kandaga Lante) Pajajaran. Menurut Didi, di tengah harapan urang Sunda ada keterwakilan figur di pentas politik nasional, kehadiran Kiai Ma’ruf Amin ini menjadi jawabannya.

Pola Jalan Tengah

Pola terpilihnya Kiai Ma’ruf sebagai Cawapres hampir sama dengan terpilihnya Djuanda Kartawidjaja sebagai Perdana Menteri (1957-69). Pola jalan tengah. Nama Djuanda diajukan oleh Soekarno karena partai-partai saling kunci dengan tidak menerima calon dari partai lain. Kabinet silih berganti dalam hitungan bulan sehingga pembangunan tidak dapat berjalan. Maka kehadiran Djuanda sebagai birokrat non-partai, diterima sebagai jalan tengah. Kiai Ma’ruf pun menjadi jalan tengah di antara partai-partai pendukung Capres petahana Joko Widodo. Pola ini seolah membenarkan petikan dalam Wangsit Siliwangi, Urang Sunda disasambat, urang Sunda ngahampura. Dalam kondisi genting, orang Sunda diminta turun tangan dan atas kepercayaan itu orang Sunda menunjukkan kiprah terbaiknya untuk bangsa dan negara.

Sebelum menjabat Rais Aam PBNU hasil Muktamar 33 di Jombang (2015), Kiai Ma’ruf sudah malang melintang sebagai anggota parlemen sepanjang 1971 – 2004. Sementara di lingkungan NU ia memulainya pada 1964 sebagai Ketua Ansor Jakarta. Di Majelis Ulama Indonesia pusat ia aktif sebagai anggota sejak 1990. Dengan demikian lebih dari separuh  hidup kiai kelahiran 1943 ini dihabiskan dalam aktivitas politik dan sosial kemasyarakatan.

Di bidang akademik, Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (2001-07) ini meraih gelar profesor sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Ekonomi Mualamat Syariah dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (2017). Sebelumnya gelas doktor kehormatan bidang Hukum Ekonomi Syariah ia dapatkan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2012).

Representasi Kepentingan Islam

Terpilihnya Kiai Ma’ruf sebagai Cawapres tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Tetapi secara umum masyarakat menaruh optimisme bahwa Pilpres 2019 akan kembali memperkuat ikatan kebangsaan dan lebih menatap ke depan. Ancaman terjadinya perang hoax dengan isu-isu agama menjadi reda, terlebih setelah Capres Prabowo  Subianto memilih Cawapres Sandiaga Uno yang berlatar belakang pengusaha.

Anggapan bahwa Joko Widodo anti umat Islam, menjadi terbantahkan. Kiai Ma’ruf adalah Rais Aam PBNU sekaligus Ketua Umum MUI Pusat. Jika para “pejuang” kepentingan Islam mau jujur membela fatwa dan ulama, terpilihnya Kiai Ma’ruf sebagai Cawapres seharusnya disambut baik dan disyukuri. Inilah kesempatan terbaik bagi umat Islam dari berbagai mazhab yang ada di Indonesia untuk menitipkan aspirasinya. Saat ini Kiai Ma’ruf merupakan sosok paling representatif mewakili aspirasi umat Islam. Sebagai Ketua Umum MUI ia telah terbukti mampu mengakomodasi tokoh-tokoh dari berbagai kelompok dan gerakan Islam di Indonesia.

Iip Yahya, Pemimpin Redaksi nujabar.or.id.

Sumber : Judul asli, “Kiai Ma’ruf Amin Turunan Sumedang”  NU Jabar Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here