Kisah Orang Gila Menyembunyikan Identitasnya

50

Kisah Orang Gila Menyembunyikan IdentitasnyaSiapa dan bagaimana ulama itu? Ulama secara literal merupakan bentuk jamak dari kata alim yang berarti mengetahui. Sedangkan menurut pemahaman masyarakat bahwa ulama adalah orang yang tinggi ilmu agamanya, baik budi pekertinya, dan peduli pada umat seluruhnya.

Dengan demikian, ulama bukanlah gelar yang didapatkan secara tiba-tiba oleh seseorang, tapi lebih karena pengabdian dan pengamalan ilmu bersama masyarakat. Bukan karena kepentingan pribadi, apalagi politis.

Di kalangan ulama sendiri sebetulnya enggan menyatakan diri ulama. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari saja selalu menyebut dirinya sebagai orang yang fakir akan rahmat Allah. Di kalangan ulama tasawuf, bahkan keulamaan disembunyikan serapat mungkin. Tidak diumbar begitu saja.

Iklan Layanan Masyarakat

Terdapat kisah menarik yang didapat dari santri Kiai Hamid Pasuruan. Pada suatu hari datanglah seorang kiai dari Kendal yang sowan kepada Kiai Hamid. Setelah sowan, Kiai Hamid menitipkan salam kepada si ‘fulan’ yang tinggal di daerah Kendal.

Selepas pulangm Kiai Kendal tersebut menanyakan kepada masyarakat tentang identitas si ‘fulan’  yang sampai dikenal oleh Kiai Hamid. Walhasil, kiai tersebut terkaget mendapatkan kabar bahwa si ‘fulan’  yang dimaksud ternyata orang-orang menyangkanya sebagai orang gila yang berkeliaran di pasar Kendal.

Karena perintah Kiai Hamid. Kiai tersebut mendatangi “orang gila” itu. Beliau sedang tidur di teras toko dengan selimut sarung seadanya.

“Assalamualaikum, Pak,” sapa kiai.

“Wa’alaikum salam,” orang gila tersebut seketika bangun, karena mengetahui yang datang adalah kiai masyhur di kota Kendal.

“Siapa yang mengutusmu ke sini?” tanyanya.

“Mohon maaf, saya datang diutus Kiai Hamid Pasuruan untuk menyampaikan salam dari beliau untukmu, ” jelasnya.

Seketika orang gila itu berteriak

“Ya Allah, apa dosaku sehingga engkau buka identitsku sebenarnya.” sambil menangis.

Dari kisah di atas kita bisa mengambil hikmah bahwa seorang ulama atau bahkan wali sering kali tidak mau dirinya dikenal oleh publik. Sebab kiai, ulama dan wali adalah gelar masyarakat bukan berasal dari politisi. Bahkan banyak ulama yang acap kali menganggap popularitas hanya akan menganggu keintiman dengan Tuhan dan sering menimbulkan penyakit hati seperti takabur dan riya.

Para ulama dan ulama dan wali Allah lebih memilih jalan sunyi, mastur (tertutup). Mereka asing di bumi tapi terkenal di langit. Waallahu alam. (Abdur Rouf Hanif )

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here