Kyai Kampung

179
Kyai Kampung

Andri Nurjaman – Anda pasti pernah mengalami belajar mengaji kepada ajeungan atau kyai di kampung anda sendiri, belajar mengaji Al-qur’an dari mulai mengeja huruf-huruf arab, iqro dan lancar membaca Al-qur’an. Kyai kampung adalah sosok central dalam sebuah masyarakat di pedesaan. Dia adalah seorang penganjur kesalehan, membimbing masyarakat ke arah kebaikan dalam bingkah ahlaqul karimah, tentunta kebaikan secara individual dan secara sosial. Rerata ajeungan kampung memiliki profesi bertani dan berladang dan sedikit banyak memiliki gembala baik ayam, maupun kambing serta memiliki kolam ikan dan sebagainya. Gaya hidup ajeungan kampung sederhana dan bersahaja, mengajarkan anak-anak dengan penuh keiklasan hati dan kesabaran luar biasa. Oleh karena itu tidak aneh murid-murid dari ajeungan kampung tersebut menjadi pribadi-pribadi yang memiliki karakter baik dan cerdas.

Kyai kampung yang memang tidak mempunyai lembaga pesantren tapi memiliki kedudukan dan tugas seperti halnya pemimpin pesantren. Kyai kampung memulai dan mengembangkan peradaban Islam melalui pengajar di masjid-mesjid, langgar dan madrasah sebagai tempat pendidikan bagi anak-anak bahkan bagi orangtua.

Kyai kampung merupakan jebolan pondok pesantren, itu artinya pernah menjadi santri dan belajar kepada kyai di pesantren. Setelah lulus dan dianggap mumpuni keilmuan dan pengalamannya selama nyantren dia mulai mengabdi kepada masyarakat, berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat di kampungnya. Karena memang salah satu tujuan dari pesantren adalah mencetak kader-kader ulama yang alim, ulama yang mengamalkan ilmunya kepada masyarakat.

Iklan Layanan Masyarakat

Hal ini merupakan warisan dari proses Islamisasi yang panjang. Peran pondok pesantren sebagai tempat pengkaderan ulama begitu terasa bagi kita, sehingga kita mengenal Islam, mampu membaca al-qur’an dengan baik dan benar, faham mengenai hukum Islam dan sebagainya. Dakwah Islam sampai kepelosok-pelosok desa dan perkampungan di Indonesia ini berkat produk atau jebolan pesantren, ya ajeungan kampung yang sangat dekat dengan masyarakat, karena memang dia sendiri adalah bagian dari masyarakat.

Keiklasan, kesabaran dan keuletan yang diekpresikan oleh seorang kyai kampung menunjukan sikap dan nilai-nilai luhur dari pesantren, dia mengajar dan mendidik umat tanpa ada harapan untuk dibayar, apalagi membandrol dirinya untuk mengajar agama, tidak sama sekali. Hal ini (mengajar dan mendidik) semata-mata ajeungan kampung lakukan hanya untuk mendapatkan keridhoan dari Allah SWT, mengharapkan kehidupan yang barokah, dengan lapang dada dan bersyukur kepada sang khaliq atas apa-apa yang telah dan akan dimilikinya. Sebuah fenomena dan hakikat hidup yang telah jarang kita temui apalagi di kota-kota besar dengan bisingnya kenalpot.

Peran besar dari kyai kampung ini perlu saya utarakan, agar tidak melupakan jasa-jasa mereka dalam mendidik kita waktu kecil (tanpa mengurahi hormat dan jasa orang tua serta guru lainnya di pondok pesantren), sehingga kita akan tetap menjaga silaturahmi kepada mereka, ya minimal kita selalu mendokan ajeungan kita di kampung. Jangan sampai kita mengidolakan ustad-ustad (yang maaf-maaf) selalu tampil di Televisi dan Media Sosial dan melupakan jasa luar biasa kyai kampung kita yang telah menyerap ilmu darinya, tentu ini bukan hal yang bijak.

Kehidupan dari kyai kampung yang sederhana (sederhana adalah sebuah prilaku bukan dilihat dari keadaan ekonomi) dan tentunya bersahaja, membimbing masyarakat dengan cinta kasih dan ahlaq yang mulia, bersyukur dan bersabar dengan apapun selama menjalani hidup didunia, karena memang manusia akan dicoba oleh Allah dengan kesengsaraan dan kebahagiaan. Iklas mengajar dan mendidik anak-anak sebagai generasi penerus dan pelanjut perjuangan agama bahkan bangsa dan negara, oleh karena itu diharuskan mendidik meraka agar mempunyai pondasi yang kuat, pondasi yang paham akan agama, memiliki karakter dan nilai-nilai luhur dan bermoral religiolitas.

Jadi kelak apabila anak didiknya menjadi seorang pedagang, akan menjadi pedagang yang bermoral, jika ada yang menjadi pejabat akan menjadi pejabat yang bermoral, jika ada yang menjadi ulama akan menjadi ulama yang bermoral. Nilai-nilai moralitas dan religiolitas ini harus dipupuk dan dididik sejak kecil oleh ya orangtuanya sendiri sebagai madrasatul ula dan tentunya oleh kyai kampung untuk dididik dan diajarkan ilmu agama, yang rerata dilaksanakan pada malam hari (biasanya ba’da magrib dan isya, kadang-kadang ada juga tambahan ba’da subuh).

Semoga kita, orangtua kita serta guru-guru kita selalu ada dalam kesehatan, keselamatan dan kerberkahan. Amin.

Penulis
Andri Nurjaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here