Lakpesdam PWNU Jawa Barat-Tribun Jabar, Merumuskan Jalan Kesundaan

14

Bandung, NU Jabar Online
Tanggal 4 Maret 2017 di Graha Tribun Jabar Lantai 3 jl. Seekelimus Utara 2-4 dilangsungkan diksusi publik bedah buku “Tanah Air Sunda” Karya Hawe Setiawan.

Diskusi yang dihadiri lebih 70 orang peserta termasuk para penggiat kesundaan seperti Iip D. Yahya, Jajang A. Rahmana, Unu Nugaraha, Mathori A. Elwa, terselenggara berkat kerjasama Tribun Jabar dengan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PWNU Jawa Barat.

Dalam pengantarnya ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat menyebutkan bahwa diskusi publik seperti ini akan dijadikan agenda rutin Lakpesdam, “Kita akan mendiskusikan secara serius persoalan keumatan dan kebangsaan sekaligus memberikan jalan solusinya minimal ikut memikirkan persoalan itu”. Sementara Tatang yang mewakili Pemred Cecep Burdansyah yang sedang dirawat di RS Santosa menegaskan pentingnya orang Sunda memaksimalkan selurh potensi dirinya untuk mencapai kemajuan dalam segala hal.

Diskusi yang dipandu Asep Salahudin, menghadirkan dua narasumber Dr. Bambang Q. Anees dan Wawan Ng, MA. Dalam telaah Bambang, “Buku ini sangat bagus walaupun ada banyak hal yang harus didefiniskan lagi secara lebih utuh. Sunda tidak harus semestinya selalu kembali kepada Rusydi dan Misnem”. Sementara Wawan Ng, mencatat tentang pentingnya membangun Ki Sunda yang moderat, “Provinsi Jawa Barat itu termasuk yang paling tinggi termasuk dalam hal korupsi dan intoleransi. Buku ini menjadi jawaban bukan hanya tentang etos Sunda yang masih hidup namun juga menambah khazanah kesundaan”. Sementara Hawe menyebutkan bahwa buku yang ditulisnya merupakan sehimpunan esai tentang kebudayaan Sunda dalam rentang waktu 2011-2015.

Dalam telaah Asep Salahudin, di tangan Hawe, kebudayaan dimaknai sebagaimana Ignaz Kleden, sebagai sebuah proses menjadi. Bergeraknya budi dan daya manusia yang tidak mengenal khatam. Kebudayaan sebagai kata kerja, bukan kata benda. Matinya kebudayaaan sesungguhnya menunjukan tentang alamat kematian kemanusiaan itu sendiri.

Dalam mengupas kebudayaan Sunda, Hawe sepenuhnya menggunakan sastra sebagai alat analisisnya. Sehingga nampak kemudian Sunda tampil menjadi moderen di satu sisi namun tidak kehilangan jati diri tradisonalismenya di sisi lain. Sunda yang berpijak pada silam dan terampil merumuskan konsep masa depannya. Sunda yang ngindung ka waktu mibapa ka zaman. Sunda yang shalihun li kuli zaman wa makan. Sunda go blog! (Editor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here