Literasi Digital Inklusif Di Kalangan Milenial

28

Naimatus Tsaniyah – Kemajuan teknologi bak pisau bermata dua, satu sisi membuat interaksi sosial menjadi tak sebatas kontak fisik semata. Namun, sisi yang lain justru memunculkan sejumput residu persoalan relasi sosial seperti propaganda, adu domba, dan radikaslisme. Hal ini tentu berbahaya bagi generasi milenial yang notabene masih labil. Selain melahirkan peluang-peluang baru ia juga memunculkan aneka disrupsi yang menggetarkan. Persebaran konten radikalisme melalui gawai tidak mengenal ruang dan waktu. Apalagi geliat perkembangan teknologi informasi yang dibarengi dengan menguatnya peran media sosial telah banyak mengubah pola komunikasi dan pengetahuan digital pada anak-anak dalam keluarga. Hal itu terlebih pada anak-anak dan para generasi milenial yang tumbuh di era digital.

Ujaran kebencian, berita hoax tak hanya menyasar melalui dunia nyata saja, melainkan juga sudah merambah demikian masif ke ruang virtual atau dunia maya. Padahal, sebagaimana kita pahami bahwa ujaran kebencian kerap muncul di ruang virtual, seperti media sosial (medsos) sangat rentan berpotensi menjadi virus kebencian, terorisme, berita hoax. Karenanya, ruang gerak medsos patut mendapat kontrol dan juga pengawasan sejak dini, supaya potensi bahaya radikalisme tidak berkembangbiak hingga berujung pada aksi tindakan terorisme.

Dewasa ini di ruang-ruang maya terkadang sulit membedakan mana infotainment dan penyebaran hoax. Keduanya kerap kali memiliki kesamaan dalam memainkan drama yang memukau. Mungkin para sastrawan terengah-engah diantara realitas bangsa ini, yang benar mengalahkan surealisme dunia fiksi. Bahkan, berita hoax yang di sajikan media lebih dahsyat dari kisah yang biasa di sajikan oleh cerpenis. Sebagai smart-nitizen tentunya jangan tinggal diam. Kita harus mampu menjadi kontrol dan filter terhadap informasi yang beredar. Sebagai produk yang lahir dari pemikiran modernitas.

Iklan Layanan Masyarakat

Banyak sekali aliran ideologi tumbuh dengan suburnya sangat disayangkan beberapa aliran ini terperangkap dalam aliran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang disyiarkan oleh Rasulullah SAW. Nilai-nilai yang bersinggungan dengan perkembangan zaman jangan hanya dimaknai sebagai proses transformasi ilmu agama. Akan tetapi, salah satunya dikarenakan oleh perkembangan era digital. Di mana masyarakat masuk ke dalam gemuruh banjir infromasi yang mengakibatkan masyarakat mengalami gegar budaya dan kesulitan mengambil makna dari setiap informasi yang bertebaran. Dakwah di era digital harus mampu mengakomodir kepentingan masyarakat yang bergerak ke arah budaya massa. Masalah muncul ketika salah satu aliran atau kelompok teologis tertentu memandang kebenaran mutlak formulasi teologis kelompoknya dan mulai memandang cedera formula teologis di luar kelompoknya. Mereka menganggap kelompoknya paling benar dan kelompok lain salah.

Mereka memandang bahwa kelompok lain tidak lebih suci, lebih islam, dan lebih beriman daripada kelompoknya. Sikap snob seperti ini berimbas pada kehidupan sosial-politik di tengah masyarakat. Mereka memaksakan kebenaran kelompoknya, menekan kelompok lain dengan senjata maupun secara simbolis, dan sekali waktu melakukan upaya penggulingan terhadap kekuasaan yang sah meski ada yang berhasil dan juga gagal.

Dengan keunggulan yang demikian, tentunya medsos dapat berperan dalam merajut tenun persaudaraan atau ukhuwah dalam bingkai perdamaian sekaligus merawat dan menjaganya. Namun meskipun begitu, ibarat dua sisi mata uang koin logam, medsos juga bisa berpotensi sebaliknya, menjadi perusak tatanan persaudaraan. Tumpah ruahnya informasi hoax yang tak terkendali, bisa jadi membuat kita terprovokasi. Belum lagi hasutan fitnah, adu domba, dan ujaran kebencian lainnya akan sangat berbahaya bagi kekokohan bangunan persaudaraan atau perdamaian negeri ini. Bahkan, konten-konten medsos seperti ini mampu membuat kawan menjadi lawan.

Di awali dengan peran orang tua harus lebih banyak menyediakan waktu khusus, misalnya ketika anak-anaknya menggunakan gawai dan berselancar di internet. Para orang tua harus bisa memberikan penjelasan tentang kreativitas yang dapat dilakukan hingga aspek apa saja yang harus dihindari dari pengunaan teknologi infromasi. Sebut saja perihal manfaat yang didapat dari beragam model pendidikan online yang kekinian dengan kondisi zaman now. Termasuk kemudian ikut aktif memilah dan memilih fitur-fitur teknologi mana saja yang bermanfaat dan harus di hindari oleh anak-anaknya. Sehingga para orang tua terlibat aktif menerapkan proses verifikasi sebelum sharing konten.

Selain itu, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk bisa melakukan pembatasan penggunaan gawai bagi anak-anaknya dan bukan memberikan akses secara bebas tanpa kendali. Dengan komitmen dan kendali yang ketat kita berharap peran orang tua dapat mendukung gerakan literasi digital inklusif yang dapat menjadi penentu apakah anak-anak kita berpeluang menjadi korban dari benih-benih radikalisme ataukah terselamatkan dari benih-benih radikalisme tersebut. Sekaligus bisa turut membumikan akan pentingnya konten Pancasila sebagai pegangan hidup keseharian bagi anak-anak sejak dini tanpa harus membatasi mengenal dunia maya.

Salah satu faktor perubahan life style manusia yang diakibatkan kecanggihan teknologi pada bidang komunikasi yang memberikan efek negatif bagi manusia khususnya kaum muslim. Sehingga di butuhkan terobosan baru, konsep yang membicarakan tentang literasi yang relevan serta literasi yang berbasis kompetensi dan keterampilan teknologi, komunikasi, namun menekankan pada kemampuan evaluasi informasi yang lebih baik. Selain itu, literasi digital sangat penting dan menjadi tugas kita semua untuk memberikan pengetahuan yang luas mengenai informasi-informsi di dalam media dan internet. Banyak ditemukan informasi yang ada di dalam media internet kurang asli atau palsu.

Kita harus mengetahui informasi yang diambil dari internet apakah bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya atau malah sebaliknya, sehingga kita bisa mengetahui pengetahuan dan informasi yang positif untuk orang yang membutuhkannya. Masyarakat harus bisa menjadi kontrol dan filter informasi yang beredar. Bila ada situs atau oknum yang menebar informasi berbahaya di medsos, harus segera dilaporkan. Dengan adannya simbiosis mutualisme antara medsos dengan pemerintah serta masyarakat. Agama dapat mudah digunakan sebagai isu oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk urusan kepentingan apa saja. Kita telah menyaksikan beragam peristiwa membela agama yang digaungkan baik di mimbar media sosial hingga di mimbar khotbah yang sebenarnya hanyalah pemanfaatan untuk keuntungan kalangan atau kelompok tertentu demi perebutan kekuasaan politik. Semoga kita tidak terikut dalam arus ini.

Penulis
Naimatus Tsaniyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here