MATAN Perangi Radikalisme dan Terorisme Melalui Intelektualitas dan Spiritualitas

111
MATAN Perangi Radikalisme dan Terorisme Melalui Intelektualitas dan Spiritualitas

Dr. H. Srie Muldrianto, MPd – Bom bunuh diri yang dilakukan oleh sepasang suami isteri merupakan kasus bom bunuh diri yang kesekian kalinya. Di Surabaya sekitar tahun 2018 kasus bom bunuh diri dilakukan oleh satu keluarga ayah, ibu dan kedua anaknya. Pelaku terror dua bom bunuh diri tersebut dilakukan dari organisasi yang sama yaitu JAD (Jama’ah Anshorut Daulah). Tindakan teroris tersebut sungguh bertentangan dengan akal sehat dan fitrah kita sebagai manusia. Kehilangan akal sehat merupakan ciri khas teroris. Mengorbankan diri, keluarga, dan manusia lain demi agama atau demi egonya agar masuk surga secara instan. Padahal agama lahir untuk merawat kehidupan, kedamaian, dan ketentraman umat manusia.

Mengapa bisa begitu?

BNPT pernah menulis buku panduan tentang pencegahan radikalisme dan terorisme di BUMN yang isinya menjelaskan bahwa tindakan bom bunuh diri atau terorisme berasal dari paham radikalisme sedangkan radikalisme berasal dari sikap dan pemikiran intoleran. Jadi Pemikiran dan sikap intoleran dapat menjadikan orang radikal sementara sikap radikal dapat menjadikan orang terorisme. Apa itu intoleran? Radikalisme?

Iklan Layanan Masyarakat

Intoleran adalah suatu pendapat atau keyakinan yang tidak mau menghargai orang lain. Intoleran dapat mendorong orang untuk menjadi fanatik yaitu suatu sikap yang menganggap dirinya paling benar dan orang lain salah. Sikap fanatik dapat menjadikan orang hidup ekslusif yang membedakan dirinya dari orang lain secara ekstrim. Tindakan berikutnya yaitu melakukan tindakan radikal yaitu suatu sikap yang mulai aktif menyalahkan, membid’ahkan, dan mengkafirkan serta benci kepada orang lain yang berbeda dengan dirinya. Sikap dan tindakan radikal inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan dan aksi kekerasan (terorisme).

Sebenarnya radikal itu dapat memiliki arti positif yaitu berpikir hingga ke akarnya atau bertindak secara total. Tapi yang dimaksud penulis adalah makna negative seperti yang diungkapkan di atas. Akar dari tindakan teroris adalah keyakinan yang tidak didasarkan pada pemikiran yang bersifat rasional dan logis. Paham keagamaan yang diyakini kaum teroris adalah keyakinan yang anti pada akal sehat dan keyakinan yang di dasarkan pada fatwa Ulama yang mengagungkan kebenaran teks saja (literalis).
Para teroris tak hanya orang yang tidak berpendidikan bahkan kadang orang dari kalangan terdidik bahkan dari perguruan tinggi ternama. Tapi masalahnya adalah keyakinan dan pengetahuan mereka kadang tidak sejalan. Dalam hal ilmu pengetahuan mereka meyakini tentang kebenaran ilmiah tapi dalam beragama keyakinan mereka hanya berpatokan pada kebenaran testual dan kaku. Oleh karena itu perlunya peran kajian ilmu rasional dalam beragama dalam rangka memberantas paham radikal.
Perlawanan terhadap paham radikalisme dan tindakan terorisme dilakukan oleh dua ORMAS besar Islam yaitu NU dan Muhammadiyah. Muhammadiyah misalnya telah menetapkan epistemology beragama melalui tiga pendekatan yaitu pendekatan bayani (tekstual), burhani (rasional), dan irfani (tasawuf/spiritual). Begitupun dengan NU bahkan organisasi di bawah JATMAN yang dibina dan dibimbing oleh Maulana Habib Lutfi sekitar tahun 2000 an mendirikan organisasi yang disebut MATAN (Mahasiswa Ahli Thoriqoh Al Mu’tabaroh An-Nahdliyah).

Perlawanan MATAN terhadap radikalisme dan terorisme adalah dengan menetapkan dua pilar organisasi yaitu intelektualime dan spiritualisme. Bahkan dengan organisasi ini Habib Lutfi berharap akan lahir Mursyid-mursyid baru dalam tasawuf. Visi MATAN adalah mengupayakan lahirnya generasi penerus dan calon pemimpin bangsa yang memiliki ketajaman intelektual dan kearifan serta kedalaman spiritual sebagai basis untuk membangun dan menegakkan kejayaan NKRI.

Intelektual dan Kearifan serta Kedalaman Spiritual dalam Melawan Radikalisme dan Terorisme

Sikap intelektual dapat dipahami sikap yang didasarkan pada kekuatan pemikiran yang benar atau logis. Artinya setiap keyakinan yang dianut harus berbasis pada kaidah-kaidah benar sesuai dengan kebenaran teks(bayani), kebenaran logika atau mungkin filsafat (burhani), dan kebenaran Irfani (tasawuf dan spiritual). Oleh karena itu seorang alim atau berilmu harus dibekali kompetensi dalam gramatika bahasa Arab baik nahwu maupun shorof agar memiliki ketajaman dalam kemampuan bayani (tekstual) dari kitab suci. Seorang intelektual juga dapat didefinisikan orang yang memiliki kecerdasan dalam berpikir abstrak, dapat memecahkan masalah atau memiliki kecerdasan kognitif.

Sebenarnya pemahaman teks kitab suci juga terutama ketika mengakaji kitab suci dari pendekatan nahwu dan shorof secara tidak langsung kita belajar kaidah logika. Bukankah Nahwu dan shorof merupakan ilmu alat untuk memahami teks dari pendekatan logika? Oleh karena itu biasanya santri yang belajar nahwu dan shorof memahami logika praktis juga.

Keyakinan yang kita anut bukan suatu keyakinan yang tidak memiliki dasar kebenaran. Kebenaran tidak hanya dapat diraih lewat empirik atau kajian sains tapi juga lewat kebenaran filsafat khususnya filsafat islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa untuk mengukur dan menimbang kebenaran dapat melalui akal melalui ilmu logika. Logika sebagai alat untuk mengukur pernyataan kita benar atau salah. Sedangkan Filasafat Islam adalah pengetahuan yang mempelajari tentang metafisika atau tentang ada. Filsafat Islam lahir dalam rangka meneguhkan wujud yang Maha Ada yaitu Allah SWT. Jadi bagi seorang intelektual mempelajari agama khususnya tentang aqidah tidak hanya membahas teks atau dhohirnya saja melainkan batinnya juga.

Kaum inteloran, radikalisme, dan terorisme biasanya kaum yang anti filsafat, logika dan ajaran rasional lainnya. Baginya agama itu pokoknya. Di beberapa surat kabar diberitakan bahwa pelaku teror pernah memarahi ibunya gara-gara membaca barzanji. Sikap radikal yang dibiarkan dapat berbuah pada tindakan kekerasan. Bagi kaum intelektual, agama dapat dijelaskan secara akal dan dibahas secara ilmiah dan mengikuti metode keilmuan sebagaimana ilmu lainnya. Walaupun tentu memiliki perbedaan. MATAN lahir sebagai reaksi atau respon atas berbagai kejadian di tanah air diantaranya karena merebaknya paham intoleran, radikal, dan bahkan terorisme di kampus dan di lembaga pendidikan lainnya. Namun demikian kekuatan intelektual saja tidak cukup dalam melawan radikalisme dan terorisme tapi juga dibarengi oleh kekuatan spiritual melalui dzikir dan jalan riyadloh lainnya atau latihan pengendalian emosi.

Dr. H. Srie Muldrianto, MPd Ketua MATAN, Nahdlatul Ulama Kab. Purwakarta. Pengurus HIPAKAD (Himpunan Putra Putri Keluarga TNI AD) Kabupaten Purwakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here