Meneladani para Sahabat Nabi Muhammad SAW

12

Nabi Muhammad SAW mempunyai beberapa sahabat yang dapat menjadi teladan bagi umat Islam. Di antara para sahabat tersebut ialah Abu Bakar As-Shiddiq, Umat bin Khattab, Utsman bin Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, dan Khalid bin Walid.

Setidaknya para sahabat tersebut yang diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim. Walaupun tidak terpungkiri banyak sahabat lain yang juga bisa menjadi teladan baik.

Kiai Luqman menyebut bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq terkenal lembut dan sabar. Namun ketika rakyat ada yang membelot tidak mau membayar zakat, beliau perangi dengan tegas.

“Karena bisa merobohkan pilar yang dibangun Nabi SAW. Ketegasan yang mengalahkan protes Umar bin Khathab yang terkenal keras saat itu,” jelas Kiai Luqman dikutip NU Online, Senin (22/4) lewat twitternya.

Umar bin Khathab ra terkenal keras, tegas, dan temperamental. Setan pun takut kepadanya, hingga digelari Nabi SAW dengan sebutan Al-Faruq. Namun ditengah malam ketika manusia lelap, Umar senantiasa berurai banjir airmata, dalam munajat-munajat kepada Allah.

“Kelembutan hatinya melebihi kapas-kapas putih,” sebut Kiai Luqman.

Direktur Sufi Center itu juga mengajak umat Islam untuk meneladani sosok Utsman bin Affan. Utsman terkenal kaya dan dermawan demi perjuangan Rasulullah SAW. Dermawan jadi hobi.

“Beliau dapat gelar Dzun Nurain karena pernah menikah dengan dua putri Nabi SAW. Beliaulah yang mengodifikasi Al-Qur’an jadi satu mushaf, mushaf utsmani,” jelasnya.

Begitu juga dengan Ali bin Abi Thalib (Karromallah Wajhah). Ketika Ali hendak menghunuskan pedangnya ke jantung musuh, ia lempar pedang itu, gara-gara mukanya diludahi musuh.

Sayyidina Ali berkata, “Aku tidak mau membunuhnya, gara-gara ada sedikit jengkel di hatiku.” “Semoga Allah memuliakan wajah Ali,” kata para sahabatnya.

“Perang tanpa amarah. Indah,” ungkap Kiai Luqman.

Selain itu, umat Islam juga bisa meneladani sikap komandan perang Khalid bin Walid. Kehebatan Khalid bukan pada kemenangan dia dalam pertempuran demi pertempuran. Kehebatannnya terletak pada pribadinya yang taat hukum.

“Di tengah-tengah puncak karirnya ia harus taat pada Khalifah Umar, untuk diganti dengan komandan lain tanpa memberontak sedikit pun,” jelas Kiai Luqman. (Fathoni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here