Mewaspadai Kembalinya HTI

22

Mewaspadai Kembalinya HTIOleh Ayik Heriansyah

Jika Anda melihat bendera hitam dan atau putih yang bertuliskan dua kalimat syahadat, pastikan itu bendera HTI, bukan bendera tauhid. Karena tauhid bukan bendera.

Tauhid (tawhîd) dalam bahasa Arab merupakan bentuk mashdar dari fi’il (kata kerja) wahhada-yuwahhidu-tawhîd[an]. Artinya, mengesakan sesuatu. Dengan demikian tawhîdulLâh bermakna mengesakan Allah SWT. Tidak mengakui keberadaan tuhan selain Allah SWT. Hanya menyembah Allah Yang Maha Esa.

Iklan Layanan Masyarakat

Tauhid adalah inti semua risalah yang dibawa oleh para nabi dan para rasul ke alam dunia. TawhîdulLâh adalah inti agama yang mereka bawa. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami mewahyukan kepada dia bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku. Karena itu sembahlah Aku oleh kalian (QS al-Anbiya’ [21]: 25).

Melihat status hukum syara’ atas bendera HTI yang hukumnya mubah, bukan fardhu dan bukan juga sunnah, masuk akal kiranya kalau timbul kecurigaan umat mengapa ek-HTI getol membawanya di muka umum. Pasti ada motif-motif politik tertentu di balik penyusupan bendera HTI di kerumunan-kerumunan massa.

Pencabutan badan hukum HTI tidak menghilangkan misi ideologis mereka meraih kekuasaan untuk mendirikan negara Khilafah di wilayah NKRI.

Tentu saja ada pesan politik yang ingin mereka sampaikan di balik hadirnya bendera HTI. Setidaknya mereka mau menyampaikan pesan kepada pemerintah dan masyarakat luas bahwa mereka masih ada, belum the end. Pencabutan badan hukum HTI oleh Kemenkumham bersifat administrasif hanya berdampak pada lenyapnya nama HTI dan seruan Khilafah di ruang-ruang publik.

Akan tetapi pengurus, anggota dan simpatisan HTI tetap bisa bergerak, bebas mengorganisasi diri, berdakwah, berinteraksi dengan masyarakat baik secara individual maupun dalam arahan tanzhim (struktur organisasi).

Mereka terus melakukan rekrutmen secara rahasia, meningkatkan kapasitas internal sampai suatu saat jika iklim politik nasional sudah kondusif mereka akan kembali dengan tubuh yang lebih besar dan kuat guna meraih kekuasaan di negeri ini. “Kami akan kembali!” , begitu kira-kira pesan singkat yang disampaikan eks-HTI melalui bendera hitam putihnya.

Di samping kehadiran bendera itu untuk mengadu domba, memprovokasi aparat menindak pembawanya yang bisa jadi bukan anggota HTI cuma karena semangat keislaman dan kebodohannya membawa bendera organisasi terlarang. Kemudian mereka membentuk opini “aparat penguasa anti Islam.”

Kelainan Jiwa HTI

Jiwa kaum khawarij adalah melawan dan memberontak pemilik otoritas agama dan politik yang lahir dari ketidakpuasaan terhadap kebijakan penguasa yang mereka anggap dzalim dan menyimpang akibat sifat tamak, iri dan dengki atas harta dan kekuasaan yang dimiliki orang lain.

Kelainan jiwa inilah sebenarnya akar dari kekritisan Khawarij kepada penguasa yang menutupi akal dan hati mereka sehingga sulit ditembus oleh cahaya ilmu. Penyakit yang diidap kalangan elit khawarij. Adapun kalangan awam mereka, terbawa arus karena kejahilan akan ilmu dan tersihir oleh propaganda pemimpin mereka. Terbukti ada sekitar dua ribu dari mereka kembali ke dalam Islam setelah dialog ilmiah dengan Ibnu Abbas ra (Khashaish ‘Amiril Mu’minin Ali bin Abi Thalib, an-Nasa’i, tahqiq: Ahmad al-Balusyi, hal. 200, sanadnya hasan).

Gerakan khawarij merupakan ekspresi ketidakpuasan terhadap penguasa khususnya soal kebijakan. Kala Nabi Saw masih hidup, soal pembagian emas yang mereka ributkan. Di zaman Ali bin Abi Thalib, ijtihad politik Khalifah Ali ra. untuk bertahkim dengan Mu’awiyah yang mereka permasalahkan. Baik kebijakan Nabi saw maupun ijtihad politik Ali keduanya absah secara ilmiah syar’iyah.

Dari perjalanan gerakan Khawarij old kita dapat mengambil pelajaran untuk menilai gerakan Khawarij jaman now. Isi sama, beda kemasan saja. Sama seperti Khawarij old, Khawarij jaman old merupakan kelainan jiwa ketidakpuasaan atas kebijakan penguasa karena mengidap penyakit tamak, kikir jiwa dan sempit hati. Itulah HTI, Khawarij jaman now.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here