Mudik dari Kacamata Santri

36

Andri Nurjaman, S. Hum. – Mudik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya berlayar atau pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman), mudik juga disama artikan dengan pulang kampung. Walaupun Pak Jokowi membeda artikan antara mudik dan pulang kampung, yang jelas mudik atau pulang kampung tersebut adalah suatu kegiatan untuk pulang ke kampung dimana dia dilahirkan.

Tradisi pulang kampung atau mudik sendiri pada masyarakat Indonesia biasa dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri atau lebaran. Para imigran yang mempunyai aktifitas di luar kota atau diluar tempat kelahirannya baik kegiatan pekerjaan ataupun kegiatan belajar saat menjelang lebaran akan pulang ke tempat masa kecilnya untuk bercengkrama, bersilaturahmi dan merayakan hari kemenangan bersama sanak family.

Tradisi mudik ini hanya akan kita jumpai di Indonesia, karena sejak dari dulu masyarakat Indonesia banyak yang menjadi pengelana dan pengembara baik untuk urusan usaha dan perdagangan ataupun dalam urusan mencari ilmu dan pengalaman, mereka rela berpisah dengan orang tuanya demi memenuhi kebutuhan fisik dan rohaninya.

Iklan Layanan Masyarakat

Emha Ainun Nadjib atau akrab dipanggil Cak Nun dalam sebuah karya tulisnya yang berjudul “Sedang Tuhan pun Cemburu” menuturkan bahwa seorang yang mudik itu sebenarnya sedang setia kepada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya.

Yang menarik dari pernyataan Cak Nun tersebut bahwa mudik adalah tuntuan batin untuk kembali kepada asal-usulnya. Jika kita perdalam lagi bahwa fitrah manusia asalnya suci, dan dari latihan selama satu bulan lamanya puasa, manusia akan kembali kepada kesucian tersebut.
Lantas, bagaimana caranya agar kondisi jiwa dan rohani kita tetap suci diluar ramadhan? Ramadhan hanya bulan latihan, ujian yang sebenarnya ada di 11 bulan diluar bulan suci Ramadhan, untuk menjaga kesucian jiwa dan rohani kita, kita harus mampu berpuasa diluar bulan puasa.

Jika hal ini kita insyafi-renungi dan dilakukan, maka kita akan suci sepanjang masa, Maka kita akan benar-benar kembali ke kampung tempat kita diciptakan sebelum di turunkan ke dunia, yaitu syurga. Kita sudah mengetahui bahwa ketika di alam ruh dari kita satu persatu ditanya apakah kalian mengakui bahwa Tuhan kalian adalah Allah dan ruh kita pada waktu itu menjawab qolu bala syahidna ya kita mengakui dan menyaksikan bahwa tuhan kita adalah Allah.

Konsep innalillahi wa innalilahi rajiun adalah konsep teologis seorang mu’min, bahwa kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah, kita hidup di alam dunia yang kelihatannya maju namun hakikatnya sedang mundur untuk kembali kepada asal-usul. Maka pulang kampung seorang mukmin hakikatnya bukan kembali kepada suasana ke tempat kelahirannya namun suasana kembali ke tempat diciptakannya.

Oleh karena itu pemahaman mudik bagi seorang mu’min apalagi seorang santri yang setiap hari mengkaji berbagai macam kitab klasik karangan para ulama sholeh harus bisa menatap lebih jauh mengenai hakikat mudik. Bahwa mudiknya seorang santri adalah nanti ketika bertemu dengan sang Khaliq di kampung Syurga.

Maka dalam perjalanan menuju mudik tersebut, seorang santri harus benar-benar serius dan istiqomah dalam mencari bekal, bukan untuk dinikmati selama dalam perjalanan, namun untuk dinikmati ketika sudah sampai ke kampung halaman. Celakalah seorang santri jika bekal tersebut dihabiskan dalam masa perjalanan. Masa perjalanan tersebut adalah masa untuk berjuang, bersusah payah dan berlelah-lelah, hanya santri yang istiqomah lah yang akan menuai hasil kerja keras tersebut.

Dari pemahaman ini kita seorang santri harus tetap istiqomah dalam belajar dan mengaji, karena ini merupakan sebuah bekal dalam sebuah perjalanan yang panjang untuk kembali. Mesantren hanya dibatasi waktu, namun belajar sepanjang hayat. Toh setelah lulus dari pesantren kita masih dikenai hukum kewajiban untuk terus belajar; belajar menyampaikan ilmu, belajar membimbing keluarga dan masyarakat, belajar berwirausaha dan bekerja.

Kita boleh berhenti dari lembaga pesantren atau dari lembaga pendidikan lainnya, tapi kita tidak diperbolehkan untuk berhenti belajar. Belajar adalah sebuah kewajiban yang semuanya itu jika diniatkan baik dan hanya semata-mata mengharap ridho Allah akan menjadi sebuah kebaikan, dan kebaikan-kebaikan ini adalah bekal untuk dinikmati di kampung halaman kita nanti.

Hal ini diperkuat dengan keterangan yang diambil dari kitab Ta’lim Muta’alim karya imam Al-zarnuji bahwa banyak yang kelihatannya perkara dunia tapi dengan bagusnya niat menjadi perkara akhirat yang bernilai pahala, dan sebaliknya banyak sekali yang kelihatannya perkara akhirat namun karena jeleknya niat menjadi perkara dunia yang tidak menjadi kebaikan dan nihil pahala.

Wallahu ‘alam.

Penulis
Andri Nurjaman, S. Hum.
Previous articleKualitas SDM Pasca Ramadhan
Next articleMengenal Karya Mama Sempur Idhahul-Karathaniyyah: Tentang Kesesatan Wahabi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here