Kualitas SDM Pasca Ramadhan

47

Dr. Asep Totoh,SE.,MM – Kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kajian atau tema yang banyak diperibancangkan dalam berbagai kesempatan, baik dalam membicarakan masalah kesempatan kerja, daya saing ekonomi umat dan bangsa, kualitas hidup bangsa, sampai pada masalah penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governmance) dan pemerintah yang bersih dan bebas dari KKN (clean government).

Menyoal kualitas sumber daya manusia tidak terlepas dari aspek yang dimiliki oleh manusia itu sendiri, manusia mempunyai dua aspek yaitu aspek jasmani dan aspek rohani. Sehingga kualitas sumber daya manusia berarti juga kualitas jasmani dan rohani, dari segi jasmaninya bahwa kualitas sumber daya manusia adalah manusia yang memiliki jasmani yang sehat. Sedangkan dari aspek rohaninya, beriman dan bertakwa kepada Allah Swt, dan berakhlak mulia.

Menurut ajaran Islam orang yang dipandang paling berkualitas adalah orang yang bertaqwa, kualitasnya bisa terukur jika tidak memiliki penyakit hati seperti menganggap rendah orang lain (takabbur), merasa dirinya adalah yang terbaik (‘ujub), riya, pelit (bakhil), dan hasud. Tidak memiliki penyakit lisan seperti berdusta, berkata kotor, menipu, mengejek, menghina, menggunjing, bersilat lidah, bertengkar, berdebat secara berlebihan, dan tidak memiliki penyakit kecerdasan akal adalah percaya diri berlebihan sehingga suka meremehkan, kesombongan intelektual yang menghilangkan akhlaq al-karimah, merasa superior dan berkualitas padahal lemah dan tidak mempunyai apa-apa, dan lain sebagainya.

Iklan Layanan Masyarakat

Melalui ibadah puasa ramadhan terlebih disaat pandemi Covid-19, dengan begitu indah dan strategisnya cara Islam dalam meningkatkan kualitas SDM. Pendidikan yang tidak berbayar dan bisa diikuti oleh siapapun orang yang beriman, tujuannya agar meraih derajat taqwa orang dilatih selama sebulan penuh untuk menahan diri yaitu menjauh dari keinginan memenuhi hawa nafsu. Orang yang berpuasa tidak saja mencegah makan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, serta hal lain yang membatalkan puasa tetapi juga menjaga diri tidak melakukan berbagai hal yang mendatangkan dosa.

Jika direnungkan secara mendalam, ramadhan memiliki konsep yang luar biasa dalam meningkatkan kualitas manusia. Itulah sebabnya bulan puasa juga disebut sebagai syarut tarbiyah, baik tarbiyah jasadiyah, tarbiyah qolbiyah, dan tarbiyah fikriyah. Harapannya, selepas mengikuti pendidikan, seluruh peserta didik yang terdiri dari orang-orang bertakwa yang menjalankan puasa, mampu membawa nilai-nilai kebaikan selama mengikuti proses pendidikan setelah bulan suci ramadhan.

Secara umum, puasa mempunyai tiga tingkatan yaitu puasa biasa, puasa khusus (khas) dan puasa sangat khusus (khawasul khawash). Puasa biasa adalah puasa yang dilakoni umat Muslim kebanyakan dalam bentuk menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.
Pada tingkat kedua adalah  puasa khusus. Puasa ini dilakoni dengan cara  menahan telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari perbuatan maksiat. Sedangkan, pada tingkat ketiga, puasa sangat khusus (khawasul khawash) adalah puasa hati yang dihayati dengan cara menjaga hati dari lalai mengingat Allah SWT.

Level Kualitas SDM

Berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM, terdapat banyak nilai-nilai yang bisa digali dalam pelaksanaan ibadah puasa. Misal; Pertama, Puasa menjadi sarana mensucikan hati dan jiwa agar taat kepada perintah-Nya, sekaligus mengobati dan menjadi terapi kesehatan manusia. Ramadhan merupakan bulan pendidikan rohani yang melatih keuletan, kejujuran, kesabaran serta menjadi pakem menahan gejolak nafsu yang mendorong hamba melakukan dosa dan kesalahan.

Kedua, puasa mengajari kita untuk peduli akan sesama (sense of responsibility). Ibadah puasa merupakan ibadah yang memiliki nilai sosial paling tinggi, tidak ada ibadah yang memiliki nilai sosial melebihi ibadah puasa. Hanya dengan mengalami dan merasakan langsung jiwa sosial dan kepekaan kita terhadap sesama akan muncul dan terasah, puasa mengajari kita untuk saling berbagi dan memberi kepada saudara yang kekurangan.

Ketiga, puasa melatih kita untuk mempererat dan memperkokoh senasib, mencintai, dan menyayangi sesama muslim lainnya. Maka perilakunya menjadi lebih terpuji dan dijauhkan dari sifat meng-underestimate orang lain, cenderung bersifat toleran, peduli dan rekonsiliatif yang lebih mengutamakan hidup dalam kebersamaan.

Dan Keempat, menguatkan aspek mental. ramadhan memotivasi kita untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, dan membersihkan dosa dan kesalahan, sehingga menghasilkan kualitas mental dan diri yang lebih baik. Dengan pelipatan pahala terhadap ibadah sunnah dan wajib dan terbukanya ampunan dari Allah SWT, membuat umat Islam semakin lebih giat daripada amaliah yang sama di luar ramadhan. Harapannya adalah meningkat taqwanya dan terus terjaga ketaqwaannya dengan kualitas yang lebih baik di masa-masa mendatang.

Tidak dinampikkan setelah bulan ramadhan berlalu, orang akan terbagi menjadi beberapa bagian, namun secara garis besarnya mereka terbagi dua kelompok. Kelompok yang pertama yaitu orang yang pada bulan ramadhan tampak sungguh-sungguh dalam ketaatan namun itu semua hanya berlalu begitu saja bersama habisnya bulan ramadhan dan setelah itu ia kembali lagi bermalas-malasan, kembali mendatangi maksiat seolah-olah ia baru saja dipenjara dengan berbagai macam ketaatan lalu kembali terjerumus dalam syahwat dan kelalaian juga mengulangi perbuatan-perbuatan maksiatnya di masa lalu.

Kelompok yang kedua yaitu orang yang bersedih ketika berpisah dengan bulan ramadhan mereka rasakan nikmatnya kasih dan penjagaan Allah, mereka lalui dengan penuh kesabaran, mereka sadari hakekat keadaan dirinya, betapa lemah, betapa hinanya mereka di hadapan Yang Maha Kuasa, mereka berpuasa dengan sebenar-benarnya, mereka shalat dengan sungguh-sungguh. Perpisahan dengan bulan ramadhan membuat mereka sedih, bahkan tak jarang di antara mereka yang meneteskan air mata.

Jelaslah jika makna ramadhan bagi peningkatan kualitas SDM adalah tumbuhnya kesadaran yang akan terus memelihara interaksinya dengan Allah Ta’ala dengan mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan meskipun ia telah tamat dari Madrasah ramadhaniyah. Ia sangat yakin bahwa esensi ketakwaan seharusnya dapat tetap disemai dan ditumbuh suburkan pada hari-hari selanjutnya pasca ramadhan sepanjang hidup.

Kualitas SDM dapat terlihat pada sosok yang tetap istiqomah berusaha untuk shaleh terhadap dirinya dan kepada sesama, bahkan kepada makhluk yang lain, meskipun tidak diiming-imingi dengan ganjaran pahala yang belipat ganda seperti dalam ramadhan. Makna La’allakum tattaquun menggunakan kata fiil mudzari, yang menunjukkan sifat yang aktif dalam bertaqwa.

Semakin jelas bahwa kehadiran ramadhan menjadi kebutuhan kita untuk meng-upgrade iman dan taqwa sehingga kita benar-benar menjadi khaira ummah, menjadi semakin kuat dan tebal iman, semakin meningkat taqwanya yang akhirnya kita dapat mendekati bangunan yang ideal yakni menjadi insan kamil.

Sejatinya di saat pandemi Covid-19 ataupun tidak, yakin saja ketika ritual-ritual ramadhan dilaksanakan atas dasar iman dan penuh kesadaran ikhlas semata karena Allah swt dan sesuai petunjuk rasulullah saw akan memberikan sentuhan dan energi transformatif yang segnifikan terhadap setiap mukmin sebagai proses peningkatan kualitas SDM atau yang lebih sempurna sebagai upaya mengantarkan manusia agar meraih derajat tertinggi, yaitu taqwa.

Wallahu a’lam.

Penulis

Kepala HRD Yayasan Bakti Nusantara 666

Penulis
Dr. Asep Totoh,SE.,MM
Previous article[SALAH] Bank Indonesia Mengeluarkan Uang Pecahan 1.0
Next articleMudik dari Kacamata Santri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here