Munas NU dan Nilai-nilai Kemanusiaan Gus Dur

27
Munas NU dan Nilai-nilai Kemanusiaan Gus Dur
Indonesian President Abdurrahman Wahid waves as he enters the closing session of the second OPEC heads of state summit September 28, 2000. OPEDC heads of state signed a solemn declaration at the close of the summit. REUTERS/Juan Carlos Ulate — Image by © Reuters/CORBIS

Oleh Fathoni Ahmad

Salah pembahasan penting dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat ialah posisi Non-Muslim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembahasan persoalan tersebut terkait dengan penyebutan kafir kepada mereka oleh kelompok tertentu.

Persoalan tersebut dibahas dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah. Para kiai yang hadir dalam komisi tersebut sepakat bahwa Non-Muslim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia bukan kafir, tetapi mereka warga negara (muwathinun). Langkah ini untuk menciptakan kondisi di mana sesama warga negara harus saling menghormati. Penyebutan kafir hanya akan menyakiti suadara sesama bangsa, padahal mereka juga turut berjuang dalam memerdekakan Indonesia.

Dalam beberapa literatur klasik kitab kuning, para kiai memang menyebut jenis-jenis orang kafir, yaitu kafir dzimmi, kafir harbi, kafir mu’ahadah, dan kafir musta’man. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, posisi seluruh masyarakat sama atau setara di hadapan hukum dan konstitusi. Kesetaraan sebagai warga negara ini juga penting dalam menyebut mereka yang non-Muslim. Bukan kafir jenis apapun, mereka adalah warga negara Indonesia.

Iklan Layanan Masyarakat

Lebih dari mewujudkan kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara, NU selalu berusaha menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal. Berangkat dari nilai ini, Islam juga memiliki nilai-nilai universal. Bahkan nilai-nilai luhur karena penghormatan terhadap kemanusiaan telah dicontohkan sejak lama oleh Nabi Muhammad SAW.

Ingat kemanusiaan atau humanisme, tentu masyarakat mengingat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, ketua umum PBNU tiga periode (1984-1999). Sosok yang dekat dengan siapa saja dan dicintai oleh hampir semua elemen masyarakat. Perbedaan agama, ras, etnis, dan lain-lain tidak menghalangi mereka untuk mencintai Gus Dur. Dalam hal ini, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan bahwa Gus Dur dicintai banyak orang, karena Gus Dur juga mencintai mereka.

Aspek kemanusiaan menjadi perhatian utama seorang Gus Dur dalam setiap pemikiran, pandangan, dan gerak langkahnya. Maka dari itu, di dalam batu nisannya tertulis here rest a humanist, di sini istirahat seorang humanis. Sosok yang dekat siapa saja sekaligus mencintainya.

Gus Dur pernah berpesan singkat, namun mendalam dan penuh makna. Beliau mengatakan tiga substansi soal hubungan antar-manusia, “Mari kita wujudkan peradaban di mana manusia saling mencintai, saling mengerti, dan saling menghidupi”. Pesan tersebut termaktub dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur anggitan KH Maman Imanulhaq (2010).

Pesan tersebut disampaikan oleh Gus Dur ketika memberikan tanggapan atas kontroversi goyang ngebor yang dilakukan oleh pedangdut Inul Daratista. Tidak sedikit orang yang mengecam goyang tersebut karena menimbulkan dampak moral yang kurang baik untuk generasi muda sehingga apa yang dilakukan Inul perlu dihentikan dan diboikot.

Namun tidak dengan Gus Dur. Menurut Kiai Maman, Gus Dur menekankan bahwa dalam kehidupan yang banyak warna dan banyak wajah ini, manusia sebaiknya belajar memahami, mengerti, dan memaafkan orang lain. Hal ini bernagkat dari prinsip bahwa Allah SWT tidak bosan memaafkan hamba-hambanya yang sering bertindak salah dan melakukan dosa.

Dalam hal ini, Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 159 menjelaskan, “Karena Rahmat Allahlah kamu bersikap lunak kepada mereka. Sekiranya kamu keras dan kasar, niscaya mereka akan menjauhimu. Karena itu, maafkanlah dan mohonlah ampun bagi mereka. Ajaklah mereka bermusyawarah tentang suatu hal”. 

Al-Qur’an mengajak manusia untuk senantiasa bermusyawarah. Kalau pun berdebat tentang suatu hal, musyawarah dengan penuh kelapangan dada, besar hati, dan pikiran terbuka perlu untuk dikedepankan. Perbedaan dan persoalan yang timbul harus dihadapi dengan cara yang baik dan lembut, bukan dengan cara yang menghujat, mencaci maki, apalagi menggunakan cara-cara teror dan kekerasan.

Terkait kontroversi Inul ini, Gus Dur bercerita tentang seorang kiai yang datang ke Kantor PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat sambil marah-marah. Bagaimana mungkin seorang ulama sekelas Gus Dur dengan jutaan umat di belakangnya serta punya kredibilitas tinggi, membela penari bernama Inul?

Setelah puas melampiaskan amarahnya, kiai tersebut dipersilakan duduk dan minum air putih oleh Gus Dur. Setelah kiai tersebut duduk, Gus Dur mencoba memberikan beberapa pertanyaan singkat dan mudah dijawab.“Emang kiai sudah lihat bagaimana ngebor-nya Inul?” tanya Gus Dur.

Kiai tersebut dengan menggebu-gebu bercerita bagaimana hebohnya goyangan Inul. Bukan hanya iman, nyawa pun akan melayang, jelas sang kiai.

“Oh, kalau aku belum pernah lihat. Dan tidak akan bisa lihat. Aku kan buta,” kata Gus Dur.

Mendengar tanggapan Gus Dur, sang kiai terdiam seribu bahasa dengan muka memerah. Ia memahami yang bahwa yang dibela Gus Dur murni dari sisi kemanusiaan. Karena Islam menganjurkan memelihara kasih sayang terhadap sesama manusia dalam kondisi apapun.

Nilai-nilai pokok kemanusiaan ini terus dipegang teguh oleh NU terutama dalam menjaga dan merawat kehidupan berbangsa dan bernegara agar tetap bersatu dan kuat antar sesama suku di Indonesia. Tidak terpungkiri, saat ini kehidupan bangsa Indonesia dalam kondisi normal dan damai. Kedamaian ini harus terus dijaga dengan menciptakan ruang-ruang harmonis antar sesama pemeluk agama. Wallahu’alam bisshawab.

Penulis adalah Pengajar di FAI Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here