The news is by your side.

Nabinya Begini Umatnya Begitu

Nabinya Begini Umatnya Begitu | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Bambang Melga suprayogi M.Sn. – Agama yang di bawa Nabi adalah agama yang datang dari Dia yang maha Rohman dan Rohim, agama yang mengajarkan kehalusan budi pekerti, agama cinta yang mengedepankan ahlaq mulia, sehingga Nabi sendiri menegaskan dalam sabdanya ;
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak,” (H.R. Baihaqi).

Nabi Muhammad SAW, adalah contoh paling sempurna dalam berperilaku, baik dalam kehidupan berkeluarga, sebagai seorang suami untuk istrinya, maupun sebagai warga, dalam kehidupan bermasyarakatnya, dan seorang pemimpin keagamaan bagi umatnya.

Nabi memberi contoh berkehidupan yang sehat pada umatnya, ia membangun semangat persaudaraan, persatuan seperti yang dibuat pada kaum Anshar dan Muhajirin.

Oleh Nabi masyarakatnya dibuat cerdas, dan berpikiran maju kedepan dengan memberi bekal kitab suci Al Qu’ran, Wahyu Tuhan, sebagai sumber rujukan, untuk dipedomani umatnya, baik yang sezaman, maupun yang jauh masa hidupnya, yang tidak pernah melihat dan bersinggungan dengan Nabinya.

Ucapan Nabi adalah petuah suci, amanat yang mengalirkan hikmah kebijaksanaan, dari seorang ahli langit, yang menghadirkan ketentraman, ketenangan, petunjuk yang kuat, dalam membangun kesalehan sosial, keadilan, dan persaudaraan untuk seluruh kalangan.
Baik untuk umatnya, maupun umat lainnya, sehingga terbangun kerukunan hidup, untuk saling menghormati, saling menjaga, dan saling memberikan kedamaian.

Hal ini bisa kita lihat pada aktualisasi dari keberadaan piagam Madinah itu sendiri, yang menunjukan kematangan dan kedewasaan seorang manusia, yang memiliki pandangan jauh melampaui zamannya.

Perilaku Nabi yang sempurna, dalam koridor penjagaan Tuhan dari adanya kesalahan, di catatkan para sahabat menjadi hadist, yang menjadi syareat, dan landasan hukum selain Al Qur’an oleh umatnya.

Dalam hukum Al Qur’an, maupun di hadist, Allah maupun Nabi menekankan manusia, maupun umat Nabi untuk menjaga fitrah dirinya sebagai mahluk yang mampu memberi kedamaian, memberi manfaat, saling ingat mengingatkan dalam kebaikan, dan berkontribusi dalam kemanusiaan, dengan saling kenal mengenali, membangun silaturahmi, juga persaudaraan.

Firman Allah ;
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Qur’an, surat Al-Hujurat, ayat 13

Betapa indahnya Allah menyeru umatnya Muhammad SAW, untuk saling berkomunikasi, membuka pergaulan, mengenali satu dengan lainnya, sambil menegaskan, manusia mulia itu manusia yang paling bertaqwa diantara manusia lainnya.

Dan begitupun Nabi, betapa teduhnya Nabi menginggatkan umatnya untuk membangun kebermanfaatan diri, menuju kemulyaan sejati yang dicontohkan para Nabi dan Rosul.

Dalam Qu’ran surat Al Ahzab ayat 21 ;
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Dari pembahasan di atas, mari kita lihat fenomena umat Rasulullah di zaman ini.

Apakah umat Islam yang kita bisa lihat khususnya di Indonesia, sudah meniru Nabinya dalam hal memberi manfaat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ?

Apakah umat Islam, para pemukanya, sudah memberi kenyamanan dan keamanan pada umat lainnya, dan tidak menjadi duri dalam daging bagi saudaranya yang muslim, dengan tidak menyakitinya, baik dengan sikap, dan ucapan ?

Apakah umat Muslim sudah menjadi umat yang tercerahkan oleh wawasan keagamaannya yang membuat umat jadi faham, jadi cerdas dan kritis pemikirannya, dan tumbuh kedewasaan dalam beragama, sehingga menjadikannya semakin memiliki ahlaq mulia, dan kuat ketaqwaannya, atau malah sebaliknya, umat, atau segelintir umat, semakin meraja nafsu emosinya tak karuan, tak terkendali, sehingga keberadaan dirinya, kelompoknya, menjadi perusak marwah agamanya sendiri ?

Jika hal negatif yang sebaliknya dari nilai positif terjadi, lantas siapa yang salah ?

Kembali pada individu pribadi muslimnya !
Berguru dan dekat pada ustad seperti apa ia selama ini ?
Berfaham moderat, atau berfaham radikal dan intolerankah ia ?
Ingin menjadi Muslim yang meniru akhlak Nabinya, atau meniru Ahlaqnya Abu Jahal, si penentang Nabi kah ia ?

Semuanya kembali pada diri masing-masing.
Nabinya, “Begini,” ada dalam kebaikan dan menganjurkan kemulyaan, dan ketaqwaan, sedangkan hal sebaliknya terjadi. Umatnya, “Begitu,” ada dalam balutan pemikiran picik, intoleran, dan penuh emosi serta kebencian.

Untuk itu, mari kita kembali pada menjadi muslim yang membangun kepribadian unggul, berahlaq mulya, dan penebar ruh Rahmatan Lil Alamin pada dunia… Alhamdulillah.

Semoga bermanfaat.
Bambang Melga suprayogi M.Sn.

Leave A Reply

Your email address will not be published.