Nilai Intrinsik Pengalaman

17
Nilai Intrinsik Pengalaman

Muhammad Farhan Iskandar – Istilah “Pengalaman” sudah tidak lagi terdengar asing di telinga kita, disadari  atau tidak dia sering dibicarakan banyak orang, bahkan rutinitas kita sehari-hari selalu membekas dengannya, ia bagaikan coretan tinta di atas kertas.

Penulis mencoba menjelaskan sejauh mana seseorang mampu memaknai  pengalaman dalam kehidupannya?

Dalam kesehariannya seseorang adakalanya berada pada kondisi yang sulit, lalu menemukan kemudahan, merasakan  kesedihan lalu datang kebahagiaan, itu terjadi secara bergantian, saling terikat satu sama lain.

Iklan Layanan Masyarakat

Pengalaman  dalam kamus bahasa Indonesia berasal dari kata alam, mengalami v, yang berarti merasai (menjalani, menanggung) pengalaman berarti yang pernah dialami, dijalani, dirasai, ditanggung, dsb).

Segelintir orang mengartikan pengalaman seperti di atas sebagai sesuatu yang pernah ia alami yang pernah terjadi di masa lalunya, sebatas itu lalu dikemas dengan berbagai karakter sehingga menjadi sebuah cerita menarik yang berlaku dari mulut  ke mulut, namun lebih dari itu ada nilai yang terkandung di dalamnya yang banyak orang kurang berhasil memaknainya, seperti kata pepatah “Pengalaman adalah guru terbaik” orang hanya melihat itu sebagai tulisan baku dan menjadi sarapan di bangku sekolah, yang terlintas seketika itu saja tanpa memahaminya lebih jauh, yang darinya kita dapat merujuk suatu proses dalam jangka waktu  kehidupan yang sedang terjadi maupun yang akan datang.

Dalam Wikipedia bahasa pengalaman adalah hasil persentuhan alam dan panca indra manusia. Berasal dari kata peng-alam-an. Pengalaman memungkinkan seseorang menjadi tahu dan hasil tahu itu kemudian disebut pengetahuan.

Dalam dunia kerja istilah pengalaman juga digunakan untuk merujuk pada pengetahuan dan keterampilan tentang sesuatu yang diperoleh lewat keterlibatan atau berkaitan dengannya selama periode tertentu secara umum, pengalaman menunjuk kepada mengetahui  bagaimana atau pengetahuan procedural  dari pada pengetahuan proposisional. Lebih jelasnya prosedur adalah tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas, atau metode langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan suatu masalah, sedangkan proposisi adalah ungkapan yang dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar-tidaknya.

Dari statement di atas dapat diambil sebuah pelajaran bahwa yang ditinjau dari pengalaman itu sendiri bukan hanya sebuah cerita klasik yang disimpan dalam figure kaca, jarang dibuka, bahkan hanya dilihat ketika terdesak saja, semestinya ia diperlakukan seperti mesin dalam tubuh yang senantiasa terawat dan diperbarui. Esensinya pengalaman berperan sebagai kekuatan, di dalamnya dibangun sebuah sistem yang mengatur pribadi secara kontiunitas, terstruktur dari segi mental dan akal dalam proses kehidupan.

Seseorang yang terbiasa ketika mendapat masalah, dia akan tanggap dan tahu bagaimana mencari solusi terbaik. Inilah yang disebut dengan struktur, bekerja secara berkesinambungan. Kata kunci diatas adalah “terbiasa”, tentu bukan hal yang dilakukan hanya sekali saja, namun berlanjut hingga dapat dikatakan sebagai rutinitas. Yang perlu ditegaskan dalam hal ini adalah adanya  komitmen dan keinginan, bagaimana menanamkan dalam setiap aktivitas itu sebagai pengalaman  dan pembelajaran yang mana pengamalannya ternilai, dan itu dijadikan sebagai tolok ukur kemampuan dan senjata atas permasalahan yang selalu mengepung tanpa ada toleransi waktu. Tidak harus yang besar, tidak perlu jauh-jauh, hal kecil yang dilakukan secara terbiasa pun memiliki nilai yang ditujukan untuk menata kepribadian secara intensif.

Perlu keberanian untuk memulai hal baru, pengalaman juga saya katakan tidak jauh berda dengan hikmah, ia adalah barang hilang orang mu’min, dimanapun ditemukan maka ambilah.

Saya tertarik mengutip kata mutiara dari novel Tere Liye yang berjudul “Negeri Para Bedebah” kurang lebih seperti ini “Pengalaman selalu lebih penting dari level pendidikan dan nilai akademis” realita pun membuktikan adanya kata ini, cerita yang masih terekam dalam benak saya, dikisahkan Alm. Gus Dur ketika menjabat sebagai orang no 1 di Indonesia kurang lebih  “Saya gak nyangka bakal jadi presiden, bukan lulusan sekolah politik, hukum, ataupun militer, saya hanya sebatas lulusan pesantren, “tuturnya”, yang diabadikan oleh seorang penulis bernama Achmad Fachruddin dalam bukunya yang berjudul “Gus Dur: dari Pesantren ke Istana Negara”.

Beliau hanya bermodalkan hobby membaca diantaranya politik, hukum, budaya, dll. Buku yang dibacanya sangatlah banyak, menurut kabar beliau telah membaca ribuan buku dia itu semua berkat desakan ayahnya  KH. Wahid Hasyim agar berpengetahuan luas, senang berbaur dengan banyak orang, siapa saja tanpa memilih siapa dia, toleransi antar sesama, memiliki budi yang luhur, dan memiliki sikap sosial yang baik.

Dari sekian banyak keajaiban yang kita ketahui selain Gus Dur, tentunya lingkungan sekitar adalah ladang dimana pelajaran-pelajaran baru terkandung di dalamnya sebelum terjun ke lingkungan yang lebih besar, tak kalah penting peran aktif diri sendiri dalam kancah kehidupan akan terciptanya keajaiban-keajaiban baru.

Penulis: Muhammad Farhan Iskandar

Penulis
Muhammad Farhan Iskandar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here