NU dan Agama

75

Toufk Imtiikhani,SIP*) – DINAMIKA sosial semakin hari semakin rigid dan komplek. Kebangkitan teknologi komunikasi memacu permutasi sosial budaya bergerak cepat. Pergerakan cepat ini kadang menyebabkan masyarakat tercabut dari akar kehidupan sosial-budayanya itu sendiri. Maka perkembangan yang cepat ini bisa menyebabkan dis-orientasi sosial. Dinamika kebangkitan agama, sebagai bagian terpenting dari kehidupan sosial, mengambil bentuk dan perspektif yang berbeda-beda. Dis-orientasi perkembangan sosial ini menyebabkan amorfisasi. Banyak hal terjadi dalam kehidupan agama itu, keluar dari pakemnya. Sehingga umat dalam kebimbangan yang nyata. Mereka kehilangan rujukan dan oreintasi dalam kehidupan agamanya.

Nahdlatul ‘Ulama ( NU ), adalah ormas yang menjadi wadah para ‘Ulama dalam memperjuangkan islam yang sesuai fungsi dan fitrahnya. NU memperjuangkan manhaj Aswaja An-nahdliyah yang diyakini sebagai aliran dalam Islam yang paling benar. Kebenaran itu tentu saja bukan sekedar anggapan. Namun dalam praktek dan kenyataan, manhaj ini sesuai dengan Qur’an-sunah, serta Ijma dan qias. Empat hal ini yang dipedomani oleh NU, justru untuk merawat agama ( bukan hanya Islam ) dan kehidupan sosial.

***

Hanya dalam masyarakat sekarang ini, terdapat pandangan yang berbeda tentang istilah ulama. Pengertian ulama yang benar menurut kaidah bahasa, struktur dan fungsi, penting, karena setiap kelompok mempunyai ulamanya sendiri-sendiri. Dari ulama-ulama inilah pemahaman dan pengertian agama diketahui.  Maka kedudukan ulama dalam islam penting. Ulama menjadi key person yang sangat mempengaruhi pandangan dan cara beragama umat. Jika ulama itu mengajarkan kesesatan atau penyimpangan, atau dasarnya memang sesat dan menyimpang, dikarenakan ulama dalam atribut  saja, makna dan fungsinya tidak ada, akan menyebabkan kerusakan di masyarakat.

Ulama secara bahasa, berasal dari kata ‘alim. ‘alima, ya’lamu, ‘ilman. Yang artinya, orang yang berilmu, ilmu apa saja. Tetapi dalam perkembangannya, terdapat proses gramatikalisasi, yaitu dimaknai sesuai dengan konteks tertentu, sehingga ulama mengandung pengertian,sebagaimana secara umum dipahami dalam masyarakat, sebagai orang yang pandai dalam urusan ilmu agama. Di tengah-tengah masyarakat justru lebih sederhana. Orang yang biasa berdoa dalam kenduren atau yasin tahlil pun bisa disebut ulama. Jadi ulama itu sebuah produk sub-kultur. Sebagai sebuh produk sub-kultur, maka ulama pun mempunyai struktur atau tingkatan-tingkatan. Misal ulama kampung, lokal, nasional, atau international.

Namun apakah ulama itu hanya mendasari kepada kemampuan ilmiah dalam bidang agama? Tentu kalau kita berangkat dari definisi semantik, iya seperti itu. Tetapi jika kita mendasarkan kepada hadist Nabi, al ‘ulama warasatul anbiya, tentu pewarisan kenabian itu tidak semata-mata ilmu, namun yang terpenting adalah akhlak. Dengan ilmu, seharusnya ulama mempunyai akhlak yang baik. Sebab dengan ilmunya ulama mengetahui ukuran-ukuran kebaikkan dan keburukan, serta resiko yang harus ditanggung apabila melanggar hukum-hukum agama.

Dengan ilmunya itu seorang ulama menjadi hamba Allah yang paling takut ( QS, Fathir:28 ). Maka seorang ulama mempunyai akhlak sebagaimana akhlak Nabi, menjauhkan diri dari perbuatan-perbuata maksiyat dan mafsadat, serta selalu membuat maslahat dengan cara-cara yang penuh rahmat kasih sayang. Al ‘ilmu nuurun, ilmu itu cahaya. Cahaya ilahiah. Artinya, dalam hal ilmu terdapat unsur makrifatullah. Seorang yang berilmu, maka ia akan menjadi seorang hamba yang takut terhadap Allah, beserta semua ketentuannya. Jadi, ilmu adalah bahwa barangsiapa memilikinya, maka akan bertambah takutlah ia kepada Allah.

***

NU merupakan Ormas yang menjadi wadah para ulama. Tentu yang saya maksud adalah ulama yang warasatul anbiya. Dia betul-betul mewarisi ilmu nabi, yang ditunjukkan dengan sanad keilmuan yang jelas, serta mewarisi akhlak Nabi yang akhlaqul karimah. Dua hal penting ini, adalah atribusi yang harus dimiliki oleh ulama sebagai pewaris Nabi. Parameter ini jelas dimiliki oleh ulama NU. Hanya di NU berkumpul sanad dan nasab. Banyak para ulama NU yang merupakan keturunan Nabi, dan juga para Habaib yang jelas keturunan Nabi pula, bergabung dalam barisan NU. Kalau bicara sanad ilmu, jelas ini tidak bisa diragukan.Ulama yang datang kemudian, selalu merujuk kepada keilmuan para ulama pendahulunya. Tidak ada penyelisihan dalam hal ilmu di antara para ulama yang berbeda generasi dan jaman dalam memahami sumber hukum islam yang pokok, yaitu quran dan hadist. Kalau seandainya ada kesan perselisihan, itu sesungguhnya hanya perbedaan. Tapi sumbernya dan cara pemahamannya itu sama. Justru perbedaan ini, menjadi memunculkan sifat hukum islam yang lues, fleksibel, dan akseptabel.

Sehingga dengan fleksibilitas ini, agama  mudah dijalankan dan dipraktekkan sebagai sebuah sub-sistem masyarakat, baik menyangkut politik, idiologi, ekonomi, sosial-budaya, bahkan pertahanan keamanan. Ya kalau mau bicara bahwa Islam itu sholih lii kulli jaman wal makan, atau al islamu ya’lu walaa yu’la ‘alaih, ya harus seperti ini. Bukan semata doktrin an-sich, yang berbicara halal-haram, akherat, surga-neraka.

Karena itu, pemahaman agama NU, atau yang disebut manhaj aswaja an-nadliyah, yang sekarang terkonsepsikan sebagai Islam Nusantara, sangat akomodatif terhadap warisan budaya masa lalu,  terbuka kepada perkembangan kontemporer dan futuristis terhadap kemungkinan perubahan masa depan. Inilah makna al mukhafadlotu ‘alaa qodlimishsholih wal akhdu biijadiidil ashlah yang selalu dipedomani oleh NU.

Inilah cara NU merawat agama. Menjadi nilai yang realistis, bukan ilusi. Mendekatkan atau merapatkan bahkan mensinergikan agama dengan sistem sosial, yang secara fungsional secara subtitutif dan komplementer, membangun peradaban manusia.***

*) Penulis adalah kader pinggiran Nahdlatul Ulama Cilacap

Previous article[SALAH] Ustadz Maaher Meninggal Karena Disuntik Paksa di Penjara
Next articleJelang Harlah IPNU yang ke- 67 dan IPPNU yang ke- 66, PC IPNU IPPNU Sumedang gelar LAKMUD Zona Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here