NU-ku, NU-mu, NU kita

66

Hari Minggu 31 Januari 2021, Jam’iyah Nahdlatul Ulama genap berusia 95 tahun, hitungan tahun Masehi (Syamsiyah) NU didirikan tanggal 31 Januari 1926 M. Dalam hitungan tahun Hijriyah (Qomariyah) tertanggal 16 Rajab 1344 H, berarti usia NU 98 tahun qomariyah. Usia yang sangat matang untuk sebuah jamiyah besar, melintasi segala zaman dan teruji oleh waktu.

16 Rajab 1344 H bertepatan 31 Januari 1926 M tidak ujug-ujug bediri jamiyah NU, tapi melewati berbagai langkah, pemikiran dan kontemplasi spiritual yang panjang. Para pelopornya adalah para Kyai pesantren pada tahun 1916 M mendirikan sebuah perkumpulan yang disebut NAHDLATUL WATHAN. Sesuai namanya yang berarti “Kebangkitan Tanah Air”, perkumpulan tsb untuk membangkitkan nasionalisme melawan koloniaslisme kala itu. Tahun selanjutnya, 1918 M, didirikan pula perkumpilan TASWIRUL AFKAR atau Nahdlatul Fikri, sesuai namanya perkumpulan tersebut berupaya membangun pola pikir umat utk melek sosial politik juga pemikiran keagamaan. Tahap selanjutnya berdiri perkumpulan NAHDLATUTUJJAR yang konsen pada perbaikan ekonomi ummat.

Sekitar 1924 ketika Raja Saud menguasai Hijaz termasuk Makkah Madinah, muncul kebijakan penguasa (Saud) yang dominan Wahabi untuk menyeragamkan madzhab di Saudi termasuk jamaah Haji dan pembongkaran situs2 bersejarah di Makkah Madanah. Muslim di Hindia Belanda (Indonesia kala itu), dimotori Kyai2 pesantren, diwakili oleh Komite Hijaz yang dipimpin KH. Abdul Wahab Chasbullah untuk melakukan negosiasi ke Raja Saud. Di tahun itu juga Kyai Wahab mengusulkan untuk mendirikan sebuah perkumpulan Nahdlatul Ulama kepada Mbah Hasyim. Berselang 2 tahun kemudian (1926) melalui perjalanan spiritual yang panjang antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim yang dimediasi Kyai As’ad akhirnya berdiri NU (cerita spiritualnya sudah saya tulis tahun lalu).

Iklan Layanan Masyarakat

Di tahun-tahun selanjutnya masa perebutan dan pertahanan kemerdekaan, NU selalu hadir. Secara fisik diantaranya terbentuk Laskar Hizbullah. Pada masa mengisi kemerdekaan mulai awal pergolakan sampai sekarang, NU selalu hadir menjadi “bamper” untuk meneguhkan eratan keutuhan kebangsaan agar NKRI tetap terjaga dalam kebhinekaan. Menjadi “bemper” NKRI…? Iya, dan itu sudah dilakukan sejak dulu oleh para Masyayikh pendiri NU. Para masyayikh waskito bahwa Nusantara ini amat sangat beragam, mudah retak jika tidak dijaga kerekatannya.

Jika mau, sudah sejak dulu NU mampu mendirikan Negara Indonesia Nahdlatul Ulama, atau negara Islam Ahlussunah Waljamaah, jika mau. Bahkan jika mau, amat bisa memaksakan sila kesatu dalam rumusan BPUPKI tidak dihapus dan tetap “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, jika mau. Tapi tidak dilakukan, karena persatuan dan kesatuan hal yang utama. Untuk apa memaksakan diri tapi akhirnya terpecah2 berantakan seperti negara2 Timteng misalnya. Para masyayikh piawai memahami dan menerapkan koidah2 ushul fekih, tak hanya dalam urusan fikih, tapi dalam urusan sosial politik juga. DAR’UL MAFASID MUQODDAMUN ALA JALBIL MASHOLIH.

Islam Indonesia juga unik dan amat menghargai serta akomodatif terhadap kultur Nusantara, sangat unik. Lagi2 hal tersebut tak lepas dari waskito, hikmah, wisdom, kebijaksanaan para Wali dan masyayikh pendakwah Islam di Nusantara yang piawai menerapkan koidah ushul fekih. Bayangkan jika model dakwah teriak bidngah, khurafat, musyrik, sesat, pokoke syariat (mementingkan bungkus dari pada isi/substansi), naudzubillah.. mungkin kita akan mewarisi Indonesia yang tercerai berai dan perang saudara sampai sekarang.

ALFATIHAH UNTUK PARA MASYAYIKH DAN PEJUANG NU… Alfatihah…

Previous articleMengenang Gus Dur Pada Haul ke-11 dan Harlah NU ke 95M/98H
Next article[SALAH] Pesan Berantai “Paradox vaksin”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here