The news is by your side.

Pandangan Orientalis Terhadap Al-Qur’an

Pandangan Orientalis Terhadap Al-Qur’an | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat
Abraham Geiger

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi sumber referensi bagi para penuntut ilmu, dalam hal ini orientalis juga termasuk di dalamnya. Mereka  menjadikan al-Qur’an  sebagai objek penelitian. Bagaikan buih lautan yang datang dan menghilang begitu saja, penelitian terhadapal-Qur’an pun tidak pernah berhenti.

Kurdi Fadal dalam artikelnya mengutip pendapat Nur Kholis Setiawan; “sejarah teks al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari ciri khas kesarjanaan Barat yang melakukan penelitian melalui telaah filologis. Telaah filologis ini dipakai sebagai sebuah disiplin yang banyak berhubungandengan ortografi dan sejarah muncul dan berkembangnya sebuah teks.”[1]

Orientalisme yang kita kenal saat ini sebagai tradisi kajian Islam secara ilmiah, sebenarnya berdasarkan pengalaman orang Barat yang dipicu oleh motif dan semangat missionaris. Namun motivasi ini tertutup oleh jubah intelektualisme dan dedikasi akademik. Maka dari itu tidak heran jika orientalis kemudian dianggap memiliki disiplin dan sikap ilmiah yang khas, bahkan menjadi sebuah framework pengkajian. Betapapun ilmiahnya, jika paradigma dan tujuannya dilatarbelakangi agama dan politik serta nilai-nilai peradaban Barat, kajian mereka cenderung bias bahkan salah.[2]


Follow Channel LTNNU Jabar di Whatsapp untuk mendapatkan update artikel terbaru. Klik Link ini >> Channel LTNNU Jabar


 

Lenni Lestari dalam artikelnya mengutip pendapat Sahiron Syamsuddin yang mengelompokkan pendekatan orientalis dalam studi al-Qur’an menjadi tiga, yaitu; Pertamahistoris-kritis, yaitu mengkaji sebuah narasi dengan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kritik historis ini meliputi bentuk, redaksi, dan sumber. Kedua interpretatif penafsiran, yaitu melakukan penafsiran terhadap teks menggunakan salah satu dari tiga metode; filologi, sastra,dan linguistik. Ketiga fenomenologis, yaitu mendeskripsikan resepsi al-Qur’an yang dilakukan oleh individuatau kelompok tertentu.

Lestari juga menambahkan, berdasarkan pengelompokan diatas, Abraham Geiger memempati kelompok yang pertama.[3] Tulisan ini akan membahas Abraham Geiger yang berusaha mencari pengaruh agama lain dalam Islam, terutama Yahudi. Ia mengklaim bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengadopsi ajaran Yahudi yang kemudian beliau refleksikan dalam teks al-Qur’an.

Pemikiran Abraham Geiger tentang Nabi Muhammad dan al-Qur’an

Isu klasik yang menarik untuk dibahas kembali adalah soal pengaruh Yahudi, Kristen, Jahiliyyah dan sebagainya terhadap kemunculan Islam dan isi kandungan al-Qur’an. Abraham Geiger (1810-1874), adalah yang pertama kali menggunakan pendekatan pengaruh Yahudi terhadap al-Qur’an. Geiger berpendapat bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang tidak murni, sebab di dalamnya terdapat berbagai tradisi yang berkembang ketika al-Qur’an diturunkan, baik itu Yahudi, Nashrani, dan Jahiliyyah. Selain itu, Geiger juga menyatakan al-Qur’an hanyalah refleksi Nabi Muhammad SAW dari tradisi dan kondisi masyarakat Arab saat itu.[4] Dari sini, tampak Geiger mengklaim bahwa al-Qur’an adalah hasil inspirasi Nabi Muhammad SAW. Wahyu yang diturunkan kepada beliau bukan secara literal, melainkan dalam bentuk ide yang kemudian dibahasakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam kata lain Geiger memposisikan Yahudi sebagai otoritas yang lebih tinggiuntuk menilai Islam. Sehingga, ia menganggapbahwa Islam hanya mengadopsi tradisi semitik yang sebelumnya sudah tersebar di Arabia.[5] Kesimpulan Geiger ini didapatnya setelah ia melakukan kajian historis-kritis terhadap al-Qur’an dengan analisis komparatif antaraYahudi dan Islam. Kajian Geiger ini menginspirasi para orientalis setelahnya seperti Theodor Noldeke, John Wansbrough, Hartwig Hirschfeld dan lainnya.

Theodor Noldeke, seorang pendeta Kristen asal Jerman memberi pujian atas usaha Geiger. Noldeke menyatakan:

“Kita menginginkan, misalnya klasifikasi dan diskusi yang komprehensif mengenai segala elemen Yahudi didalam al-Qur’an. Permulaan untuk menggalakkan itu dibuat oleh Geiger pada usia muda dalam esainya ”Apa yang Muhammad pinjam dari Yahudi?.””[6]

Dalam esai tersebut, Geiger berusaha melakukan penelitian ilmiah untuk membuktikan adanya pengaruh Yahudi  yang kemudian diadopsi Nabi Muhammad ke dalam al-Qur’an. Awalnya penelitian ini ditulis dalam bahasa Jerman pada tahun 1833 di Wiesbaden, lalu pada tahun 1896, F. M. Young menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dengan judul Judaism and Islam. Karya ini merupakan karya monumental dengan menggunakan perspektif dan pendekatan baru yang ia kembangkan dari gagasannya mengenai reformasi Yahudi. Pendekatan kritik historis yang dilakukan Geiger ini ternyata telah memberi kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan studi Islam di Barat.[7]

 Untukmembuktikan Nabi Muhammad mengadopsi ajaran Yahudi, Geiger menyatakan duafakta; pertama, adalah fakta tentang adanya unsur-unsuragama lain yang telah diambil dan dipadukan ke dalam Islam.  Karena sebuah budaya relatif terbuka bagi masuknya konsep budaya lain. Kedua, adalah fakta bahwa unsur-unsur agama lain dalam Islam berasal dari tradisi Yahudi, bukan Kristen atau Jahiliyyah.[8]

 Geiger menyebutkan ada 3 masalah pokok yang diadopsiNabi Muhammad dari tradisi Yahudi, yaitu;

a. Beberapa kosakata al-Qur’an yang berasal dari bahasa Ibrani

Menurut Geiger, ada sejumlah kata al-Qur’an yang diadopsi dari bahasa Ibrani, di antaranya; Tabut, Jannatu ‘Adn, Jahannam dan sebagainya.

b. Konsep keimanan

Geiger menganggap Nabi Muhammad mengambil beberapa konsep keimanan Yahudi, seperti:

Pertama, tentang konsep penciptaan langit dan bumi dan isinya dalam enam hari.

 Kedua,  surga memiliki tujuh tingkat. Dalam kitab suci disebutkan adanya tujuh tingkatan surga dan semuanya telah diberi nama (Chegiga 9; 2). Demikian pula dalam al-Qur’an QS. Al-Baqarah: 29 (…فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ…).

Ketiga, pembalasan di hari akhir. Geiger mengatakan bahwa konsep ini juga ada dalam Islam. Dalam Isaiah, v. 14, disebutkan bahwa penguasa neraka bertanya setiap hari, “Berikan kami makanan, agar kami merasa puas”. Dalam al-Qur’an juga terdapat pernyataan yang sama, walaupun dalam redaksi yang sedikit berbeda. Dalam QS. Qaf : 30 berbunyi:

(Ingatlah) padahari (ketika) Kami Bertanya kepada Jahannam, “Apakah kamu sudah penuh?” Ia menjawab, “Masih adakah tambahan?”[9]

c. Aturan hukum dan moral

Menurut Geiger, cara sholat yang diajarkan Nabi Muhammad dengan cara berdiri dan duduk, dan ketentuan ‘iddah bagi perempuan yang bercerai adalah bagian dari tradisi Yahudi yang sengaja dijiplak oleh Nabi Muhammad.[10]

Penelitian Geiger tersebut menuai  kritik dari Syed Muhammad Naquib al-Atthas yang berpendapat bahwa sekalipun kosa kata al-Qur’an berasal dari bahasa lain, bukan berarti Islam mengalami ketergantungan pada bahasa Yahudi dan Kristen. Al-Atthas juga menyatakan bahwa makna dari kosakata al-Qur’an tidak harus dikembalikan kepada makna dari dari bahasa sumber asalnya. Ini disebabkan Islam telah mengisi makna kosakata tersebut dengan makna yang baru dan meluruskan ajaran yang salah dari agama Yahudi, Kristen dan Jahiliyyah. Oleh sebab itu, menurut al-Atthas bahasa Arab dalam al-Qur’an adalah bahasa Arab dengan bentuk yang baru. Meskipun kata-kata yang sama dalam al-Qur’an telah digunakan pada zaman sebelum Islam, tidak serta merta memiliki peran dan konsep yang sama.[11] Kemungkinan terjadinya pinjaman dari bahasa Semit lainnya bisa saja dibenarkan, melihat dari berbagai hubungan orang-orang Arab dengan dunia di luarnya. Sehingga berbagai kosakata non-Arab telah dimasukkanke dalam bahasa Arab.[12]

Simpulan dan Saran

            Apa yang telah dikemukakan Geiger dalam penelitiannya membuat penulis ragu atas keobjektifannya. Karena didalamnya sarat akan motif theologis. Sehingga menggiring pada kesimpulan yang bias. Padahal, suatu keniscayaan bahwa dalam ajaran agama-agama semitik terdapat beberapa persamaan ajaran karena sama-sama diturunkan oleh Allah SWT. Akan tetapi yang perlu kita cermati kembali bahwa adanya kesamaan yang terdapat dalam al-Qur’an dan ajaran agama-agama sebelumnya, bukan berarti memiliki peran dan konsep yang sama. Disisi lain, bagi umat Islam yang perpedoman kepada kitab suci al-Qur’an, tentu seyogyanya memperdalam pemahaman terhadap al-Qur’an agar benar-benar menjadi petunjuk. Karena pemahaman yang mendalam terhadap al-Qur’an dapat mencegah mereka yang ingin menggugat keotentikan al-Qur’an.

Muhammad Hasbiyallah

Mahasiwa FakultasUshuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


[7] M. Muzayyin, “Al-Qur’an Menurut Pandangan Orientalis (Studi Analisis “Teori pengaruh” dalam pemikiran Orientalis),” Jurnal Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. 16, No. 2, 2015, hlm. 203


Leave A Reply

Your email address will not be published.