Peran Tasawuf dalam Menanggulangi Radikalisme

107
Peran Tasawuf dalam Menanggulangi Radikalisme

Abid al Jabiri seorang ulama yang juga intelektual Islam asal Maroko pernah meneliti tentang cara dan metode orang Arab untuk memahami Islam. Dia menggolongkan pada tiga kategori cara untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam yaitu:

  • Pendekatan bayani
  • Pendekatan burhani
  • Pendekatan irfani

Pendekatan bayani adalah memahami ajaran Islam melalui teks, baik kitab suci maupun hadits Nabi. Bayan terpisah/zuhur atau nampak hubungan antar lafadz dan makna. Pendekatan ini bisa dengan cara kajian al qur’an dan hadist dari tata bahasa atau nahwu, shorof, balaghoh dll. Untuk memahami Islam ya paham kitab suci yang berbahasa Arab. Pendekatan ini kadang ulama bersifat literlek dan menjadi orang literalis/ tekstualis yang dapat membawa orang pada kebenaran tunggal. Padahal al qur’an dan hadits interpretatif. Yang kemudian merasa benar sendiri. Dan bukan tidak mungkin dapat mendorong orang menjadi radikal?

Pendekatan kedua bersifat burhani yang artinya memahami Islam dengan pendekatan dalil akli. Islam adalah agama yang sesuai dengan akal sehat. Islam hanya bagi orang-orang berakal. Dll. Pemahaman burhani biasa dilakukan oleh kaum intelektual muslim yang senang dalam berfikir dan mengkaji Islam lebih dalam walaupun tidak lepas dari nilai-nilai wahyu. Yang melakukan ini biasanya orang-orang filosof Islam, ahli ilmu kalam dan para mantiqiyun. Kelemahan pendekatan ini dapat saja atau mungkin saja orang terlalu luas dalam berfikir kemudian menjadi terlalu berani dalam berargumentasi dan sikap seperti ini dapat mendorong orang berpandangan liberal?

Adapun cara ketiga untuk memahami Islam adalah pendekatan irfani. Pendekatan irfani adalah pendekatan yang menggunakan hati atau intuisi. Tujuan dari pengetahuan ini adalah untuk membangun kesadaran. Ibarat manusia dalam kegelapan cahayanya dari ilmu dan filsafat sedangkan daya geraknya(motivasi) dari cinta. Kalau filsafat membangun pengertian dan pemahaman sedangkan tasawuf membangun kesadaran. Tujuan pembelajaran tasawuf adalah cinta. Kalau iman dibangun oleh aqidah sementara islam dibangun oleh syariah/fiqh sedangkan ihsan dibangun oleh tasawuf. Namun sayangnya ada sebagian orang yang melakukan ritual tasawuf melakukan hal yang berlebihan dengan cara uzlah dan menjauhkan dunia secara ekstrem sehingga kemudian tasawuf dianggap ilmu atau pengetahuan yang menyebabkan kemunduran Islam (zumud). Menjadi seorang sufi dapat mendorong orang menjauhkan diri dari dunia, padahal dunia adalah fakta bukan untuk dihindari tapi dihadapi. Bukan tidak boleh kaya tapi tidak boleh kekayaan atau dunia yang mengendalikan manusia.

Tasawuf sebagaimana ilmu lain dalam khasanah keilmuan Islam adalah pengetahuan yang baru muncul setelah 200 sampai dengan 300 tahun setelah Rosulullah wafat. Lahirnya beragam ilmu keislaman seperti Nahwu, shorof, balaghoh, ilmu akhlaq, fiqih, ilmu kalam,mantiq, filsafat Islam merupakan upaya Ulama dan ahli ilmu keIslaman untuk menjaga, mengembangkan ajaran Islam menjadi ajaran yang maju, berkembang dan memberi sumbangsih bagi kemajuan peradaban Islam. Tak dapat kita bayangkan ilmu keislaman dikaji dan dikembangkan tanpa suatu sistem dan bangunan yang teratur mungkin akan melahirkan ajaran Islam yang keluar dari nilai-nilai yang diajarkan Rosulullah SAW.

Untuk menjaga kemurnian ajaran Islam perlu dikerangka oleh sistem yang jelas dan tegas agar Islam terjaga kemurniannya. Tasawuf sebagai sebuah Ilmu lahir dalam rangka membangun dan menyadarkan Umat Islam pada kecintaan pada Allah SWT sebagai awal dan akhir perjalanan manusia. Mengenal Tuhan tidak dapat diraih oleh pengetahuan inderawi (ma’rifatul Hissi), demikian juga tidak cukup dengan pengetahuan akal (ma’rifatul aqli). Pengetahuan inderawi dan pengetahuan akal dapat memperkaya pengetahuan hati (ma’rifatul qolbi) sehingga kelemahan epistemologi bayani, burhani, dan irfani dapat ditanggulangi dengan mengharmonikan satu sama lain dari ketiga epistemologi tersebut.

Urgensi Tasawuf dalam membangun manusia seutuhnya

Seperti yang penulis singgung di atas bahwa tasawuf merupakan cabang ilmu Islam yang tujuan utamanya untuk membangun kesadaran manusia agar sadar diri bahwa dirinya memiliki awal dan akhir kehidupan. Sadar dirinya bahwa diri kita merupakan bagian dari alam semesta yang Allah ciptakan, sadar dirinya bahwa setiap diri memiliki tujuan inna lillah wa inna ilaihi roojiuun. Dirinya merupakan pengejawantahan dan Ruh yang Tuhan tiupkan. Oleh karena itu dirinya juga memiliki nilai-nilai Ilahiah dan harus berbuat seperti Tuhan berbuat (Takholaku bi Khuluqillah).Dirinya merupakan bagian kecil dari alam lain oleh karena itu ia pasti cinta diri juga cinta alam semesta. Jika ilmu pengetahuan ada untuk memberi cahaya maka tasawuf lahir untuk memberi dorongan agar bergerak menuju Allah. Jalan suluk dilakukan melalui Takholi, tahali, dan tajali. Takholi berarti mengosongkan diri dari selain nilai-nilai Tuhan. Takholi diperlukan karena tidak mungkin wadah yang terisi kotoran dapat bersih dan bening jika bercampur air yang bersih. Kebersihan (tazkiyah) merupakan syarat awal menuju Tuhan. Pikiran, hati, dan raga harus seiya sekata dalam mewujudkan kebenaran. Benar menurut pikir harus turun benar menurut hati yang kemudian terejawantahkan dalam perbuatan. Perbuatan yang bernilai di sisi Allah adalah perbuatan yang ditujukan pada Allah semata.

Tahali adalah menghiasi dan mengisi diri dengan perbuatan dan sikap yang luhur dan agung. Kosong tidak bernilai jika tidak kita isi. Wadah yang kosong harus segera diisi oleh air yang bening dan bersih agar dapat bermanfaat dan bernilai di sisi Allah SWT. Setelah terisi dan penuh dengan hiasan dan keindahan maka akan tampak hakikat keindahan, keagungan ilahi di dalam diri. Saking indah dan terang benderang kebenaran maka dirinya sulit membedakan antara dirinya dengan yang lain, antara dirinya dengan pencipta. Dirinya kehilangan diri yang ada hanyalah Allah, dirinya tiada yang ada hanyalah Allah. Itulah tajali yang merupakan tingkat tertinggi dari maqom tasawuf. Keyakinan ini bertingkat dari tingkat ilmul yakin, ainul yaqin, dan haqqul yakin.

Belajar mengamalkan tasawuf berarti belajar untuk sadar diri bukan untuk menghakimi orang lain. Dirinya akan diminta pertanggungjawaban kelak di akherat bagaimana dirinya bermanfaat buat orang lain (Khoerunnas anfauhum linnaas). Dirinya hadir bukan untuk mengahancurkan dan mengalahkan orang lain, dirinya hadir untuk memberikan manfaat bagi alam semesta. Tidak ada dalil sedikitpun bahwa Rosulullah sebelum mendirikan Madinah melakukan peperangan, membantai musuh, menumpahkan darah, atau mencaci maki lawannya. Rosulullah datang atas permohonan warga Madinah untuk menegakkan rohmatan lil aalamiin.

Istilah Tasawuf memang belum ada di zaman Rosulullah tapi nilai-nilai tasawuf telah ada dan telah diajarkan Rosulullah (Al Jum’ah: 2). Ilmu tasawuf lahir agar manusia menyadari bahwa Tuhan adalah awal dan akhir perjalanan. Tasawuf tidak menafikan fiqih juga aqidah. Tasawuf adalah puncak manusia untuk mengamalkan fiqih dan aqidah. Bisa saja orang ingin menegakkan fiqih tapi bodoh akan pengetahuan tentang aqidah. Atau bisa saja orang mengetahui Tuhan lewat akalnya tapi tidak menyadari Tuhannya. Jadi berIslamlah dengan aqidah, fiqih, dan tasawuf karena pembagian itu hanya ada dalam pikiran tapi praktiknya ketiganya harus dapat dilakukan secara harmoni. Islam itu fiqih, aqidah juga tasawuf. Islam itu perlu iman dan ihsan. Ayo bertasawuf !!!(Penulis adalah ketua MATAN Kabupaten Purwakarta/ Dr. H. Srie Muldrianto, MPd) Materi tulisan ketika menjadi nara sumber pada diskusi interaktif pada tanggal 27 November 2019 di PP Al Muhajirin 3 Citapen Purwakarta dengan tema “Pentingnya Tasawuf dan Islam rohmatan lil Aalamiin di Era Mileneal dalam Menghadapi Radikalisme dan Ekstrimisme “

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here