MULIANYA AKHLAK ULAMA

68
MULIANYA AKHLAK ULAMA

Oleh Andri Gunawan, Ketua Karang Taruna Kota Bandung

Kemarin, 24 Desember 2019 saya di WA oleh Kyai Wahyul Afif, Sekretaris PC NU Kota Bandung, untuk hadir ke acara Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Gereja Katedral.

Kenapa saya kenal Kyai Mako, begitu Kyai Wahyul Afif biasa disapa, sebabnya karena beliau pernah ditodong secara mendadak untuk mendoakan saya di Ponpes Daarut Taubah menjelang Pemilihan Ketua Karang Taruna Kota Bandung. Ceritanya waktu itu beliau mampir Jum’atan disana, selesai Shalat tak sengaja berpapasan dengan KH Ahmad Haedar, Pemimpin Ponpes Daarut Taubah sekaligus pendukung saya sebagai Calon Ketua Karang Taruna. Ditodonglah beliau mendoakan saya, doanya makbul, dua hari setelah peristiwa itu saya terpilih menjadi Ketua.

Iklan Layanan Masyarakat

Kurang lebih seminggu setelah terpilih sebagai ketua saya diundang Beliau ke sebuah acara. Meskipun waktu itu hari telah berubah menjadi malam, badan sudah capek, jarak jauh dan macet saya tetap memutuskan datang ke pesantren beliau di daerah Kopo, saya lakukan itu tak lain karena menghargai undangan beliau sebagai kyai.

Nah, barusan saya datang ke acara Forum Kerukunan Umat Beragama, acaranya itu dilaksanakan di Gereja Katedral Bandung yang mengundang pejabat Kota Bandung, Provinsi dan seluruh Pemuka Agama. Saya sebetulnya tidak diundang panitia untuk hadir ke acara itu, saya hanya memenuhi petunjuk Kyai Afif untuk datang kesana.

Saya datang telat ke acara tersebut. Sampai ke lokasi, yang hadir banyak sekali. Maklum yang datang Pangdam, Wakil Walikota, Kapolres, Dandim, Ceu Popong Djunjunan, Uskup Keuskupan Bandung, Tokoh dan Pemuka Agama Jawa Barat dan Ketua Ormas Islam dan Agama lainnya di Bandung.

Saat saya datang kursi sudah penuh diduduki karena yang datang banyak sekali. Karenanya saya berdiri saja di belakang.

Kyai Mako melihat saya tengah berdiri, beliau beranjak dari kursinya menghampiri saya dan mempersilahkan untuk duduk di kursi Ustadz Tjutju Sahrum (Mantan Ketua Muhammadiyah Kota Bandung, Wakil Ketua FKUB) yang sedang memberikan sambutan. Selesai sambutan tentu kursi kosong itu harus kembali diduduki Pak Tjutju. Saya kikuk waktu sambutan beliau berakhir, saya memutuskan untuk beranjak dari kursi yang sudah terlanjur duduki.

Belum saya berdiri, secepat kilat Kyai Mako berdiri, katanya saya harus tetap duduk, beliau saja yang beranjak meninggalkan kursi untuk digantikan Ustadz Tjutju. Kyai Mako berjalan menjauh pergi ke barisan di belakang dan melanjutkan acara sambil berdiri. Dalam hati saya takjub akan keluhuran akhlaknya. Saya ini bukan siapa-siapa. Tapi seorang Kyai, Pimpinan Pondok Pesantren, Sekretaris NU Kota Bandung, mengalah untuk memberikan tempat duduk. Saya sendiri tidak menikmati situasi itu, saya rikuh, takut su’ul adab pada ulama.

Kejadian menakjubkan tidak berhenti di situ saja. Pada saat acara akan berkahir ada sesi foto. Yang di foto di panggung tentu tidak semua hadirin, namun Para Pejabat dan Tokoh-tokoh saja. Pembawa acara Memanggil Pangdam, lalu Wawali, Kapolres, Dandim, Uskup Bandung, Ceu Popong dan Tokoh2 lainnya, tiba-tiba saja saya dipanggil sebagai Ketua Karang Taruna, padahal diundang panitia saja tidak. Rupanya Kyai Mako yang membisiki MC, minta agar saya dipanggil ke depan. Ketemulah saya dengan Pangdam dan Wawali, kita bersalaman, Beliau sumringah sekali.

Inilah akhlak ulama, sikap dan perbuatannya mulia, namun sulit kita menirunya. Perlu keluhuran hati untuk bersikap seperti ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here