19.3 C
Bandung
Friday, May 27, 2022

Sebuah perkumpulan yang tak memiliki media, sama dengan perkumpulan buta tuli - KH Abdul Wahab Chasbullah

Must read

Ayik Heriansyah
Penulis artikel produktif yang sering dijadikan rujukan di berbagai media massa, pemerhati pergerakkan Islam transnasional, khususnya HTI yang sempat bergabung dengannya sebelum kembali ke harakah Nahdlatul Ulama. Kini aktif sebagai anggota LTN di PCNU Kota Bandung dan LDNU PWNU Jawa Barat.

PERSEKUSI TERHADAP PELAKU MAKSIAT, MAKSIAT ITU SENDIRI

Oleh Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar

Persekusi terhadap tempat yang dianggap maksiat terjadi lagi. Sebuah video menunjukkan ada kedai tuak di Deli Serdang, Sumut, yang dipaksa tutup oleh sekelompok orang saat bulan Ramadhan viral. Menurut Polisi Ketua salah satu organisasi Islam setempat sebagai pihak diduga pemaksa kedai tutup sudah meminta maaf ke pemilik kedai.

Masalah itu sudah selesai. Akan tetapi tindakan pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas karena melakukan maksiat, terulang lagi, jika pemahaman terhadap pelaku maksiat tidak berubah di waktu dan tempat yang lain. Tindakan main hakim sendiri (vigilante) berawal dari sikap “main tafsir dan syarah” sendiri. Tanpa merujuk kepada pemegang otoritas ilmu dan hukum yang diakui masyarakat dan negara.

Pelaku persekusi merasa sedang melaksanakan perintah Allah swt, yaitu hisbah. Hisbah adalah kewajiban individu atau bersama untuk melakukan campur tangan dan amar makruf nahi mungkar sesuai dengan norma syariah. Berbeda dengan dakwah dan nasihat, hisbah melibatkan kekerasan fisik dalam penerapannya.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article