The news is by your side.

Pertiwi Telah Banyak Memberi, Kita Balas Dengan Apa ?

Pertiwi Telah Banyak Memberi, Kita Balas Dengan Apa ? | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

LTN NU Jawa Barat, Bambang Melga suprayogi M.Sn. – Usia kemerdekaan Republik Indonesia kita telah genap mencapai usia 77 tahun, usia yang renta jika itu diukur dengan hitungan umur manusia.

Peringatan ulang tahun kemerdekaan Indonesia, diperingati dengan meriah oleh segenap anak bangsa, diseluruh pelosok, penjuru, di pulau-pulau batas-batas terluar negeri kita, semuanya euforia gembira menyambut kemerdekaan RI kita.

Pertanyaannya, gembirakah kita jika melihat Indonesia belum seperti apa yang di cita-citakan para founding fathers kita, para pendiri bangsa ini ?

Tentu kita sangat bersedih !
Masih banyak PR kita yang bolong-bolong, yang harus kita tambal dan benahi itu.

Kapan kita kerja ?
Secepatnya kita lakukan kerja hebat, sesuai upaya dari pemerintah dengan slogan pemerintah pusat yang mengaungkan adanya revolusi mental, sebuah langkah merevolusi diri setiap manusia, penduduk Indonesia untuk memiliki semangat etos kerja yang tak biasa, dalam menyiapkan potensi dirinya, sehingga panggilan Pertiwi bisa kita penuhi.

Kemudian di tiap provinsi, seperti di Jawa Barat, kita punya Gubernur Ridwan Kamil dengan slogannya, “Jabar Juara Lahir Batin.” Yang mengandung arti, Jawa Barat tidak hanya fokus membangun infrastruktur fisik saja, tapi infrastruktur spiritual juga harus diperhatikan.
Sebuah pendekatan pembangunan fisik, dan spiritual, yang akan memberi penguatan warna bagi tiap daerah untuk memperhatikan masalah tersebut.

Maka gairah kearah membangun muatan pada sisi spiritual inipun akhirnya menjadi pondasi dasar yang di Amini banyak daerah di Jawa Barat, dalam menyiapkan masyarakatnya untuk bisa menghidupkan kekuatan spirit ruhani spiritualnya, sehingga gelombang kekuatan Jabar Juara lahir batin, di tiap kabupaten /kota menjadi warna warni penguat identitas kahadiran spirit tersebut, yang menjelma, berraikarnasi di kabupaten Bandung menjadi, sebuah tagline, ” Bedas,” sebagai spirit perubahan untuk Kabupaten Bandung yang mengandung arti yakni, Bangkit, Edukatif, Dinamis, Agamis, dan Sejahtera atau yang disingkat menjadi BEDAS.

Di kota Tasikmalaya, taglinenya mengacu pada Visi Kita Bersama
Kota Tasikmalaya Yang Religius Maju dan Madani, spirit dari identitas kota santri, yang sudah sangat kuat warna religiusnya, yang didorong untuk lebih maju, lebih memiliki peran unggulan, dan Madani, diartikan sebagai masyarakat yang beradab, yang menjunjung tinggi nilai kemanuasiaan, dan maju sehingga dapat mengikuti penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Begitupun di daerah lain, seperti Cirebon, Walikotanya mencanangkan tagline, “Ngobeng Yuh…” Sebuah ajakan pada masyarakat untuk menyiapkan dirinya dalam kesadaran spiritual, bermuamalah, Habluminannas, untuk bisa saling membantu, bergotong royong, mensukseskan pekerjaan, hajat besar masyarakat Cirebon dalam semua aspek yang ingin di capai, dimana, jiwa dari semangat, “Ngobeng Yuh,” merupakan ajakan semangat bekerja sama, menyelesaikan kerjabesar secara gotong royong, sehingga dengan kesadaran semua siap bekerja, hasil suksesnya sebuah hajatan, bisa sesuai harapannya.

Pertiwi telah banyak memberi !
Kita balas dengan apa ?

Sudah saatnya seluruh manusia Indonesia, penduduk Nusantara, yang terkenal dari dahulu sebagai bangsa Arif dan bijaksana, kembali ke kearifan lokalnya, meleburkan diri dengan semangat bumi, semangat langit, dimana kedua semangat tadi saling menjadi unsur penguat, bumi yang ajeg kita pijak sebagai tempat dimana kita berkiprah hebat, berkiprah kuat, yang menjadi pemimpin berkesadaran memajukan wilayahnya, dengan segenap amanah yang ia emban.

Dan yang menjadi rakyat berkontribusi membantu pemerintahnya, sehingga ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.’ Sesuai Peribahasa tersebut yang mengandung arti bahwa seseorang sudah sepatutnya mengikuti atau menghormati apa yang jadi spirit di daerahnya, yang berlaku di tempat dimana ia tinggal, dan ikut memajukan daerah dan negerinya dengan semua potensi yang ada.

Mari kita bantu negeri kita bangkit dan maju dengan cepat.
Pulih dan kuat kembali dengan segera.
Di tangan dan pundak kita, semua pemuda dan pemudi Nusantara di panggil oleh Pertiwi.

Ayo gelorakan semangat Pancasila !
Yang slogannya sudah lama hanya sebuah slogan ringkih !
Bhinneka tunggal Ika nya banyak di cabik masyarakat yang tak sadar arti kuatnya persatuan dalam perbedaan, arti perbedaan sebagai ciri kebersamaan, yang menjadi ciri khas bangsa kita.

Lalu lihat lima gambar di tameng Garuda kita.
Itu jangan terus hanya jadi pemanis !

Hidupkan dan kuatkan oleh para pemegang amanah, apa yang jadi semboyan dalam Pancasila kita.
Kuatkan nilai ketuhanannya, karena itu jadi spirit bersama bangsa religius ini.

Kuatkan nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang belum terasa dan merata, nilai keadilannya.

Dimana masih ada oknum manusia yang tak beradab di bangsa ini, yang menjadi penghalang spirit itu.

Khusus nya, dalam memberi keadilan pada penduduk minoritas lainnya, dalam banyak sisi, yang masih mencolok mata kita di depan mata…itu tak boleh terjadi lagi.

semisal hak minoritas membuat tempat ibadahnya, dalam menjalankan sila pertama, masih terganjal masyarakat mayoritas yang merasa menjadi penentu, menghalang-halangi, berlaku layaknya Tuhan yang memiliki otoritas.
Kedepan setelah 77 usia kemerdekaan kita, aparat wajib menindak perilaku oknum masyarakat seperti ini.

Kita jaga Persatuan Indonesia, jangan sampai lengah dalam menjaga Pertiwi sehingga kita bisa dipecah belah lagi, cukup sekali setelah masa revolusi, kita dipecahkan persatuannya di pilpres kemarin…selanjutnya kita bangun persatuan, dengan seluruh semangat dan kesadaran kita dalam membangun persatuan itu.

Semangat, “Rawe-rawe rantas malang-malang putung,” harus digelorakan, segala sesuatu yang merintangi maksud dan tujuan Pertiwi membangun masyarakat Madani, siapapun yang menghalanginya harus kita disingkirkan.

Kita jaga dan aping Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, untuk menjadi nyata di usia ke 77 tahun keberadaan Indonesia ini. Sudah tak ada artinya slogan itu jika hanya basa basi seperti masa lalu !

Rakyat sudah terlanjur puluhan tahun di pertunjukan banyak pemimpin yang tak amanah, yang akhirnya tertangkap karena ia korupsi, menyalah gunakan amanah.

Partai harus malu dan minta maaf jika itu terulang lagi.
Jika masih berlangsung, masih berani pemimpin yang dimajukan partai berbuat tak bijaksana, mengedepankan golongannya, dan terjerumus penyalahgunaan wewenang, harus ada satu sistem, yang membuat partai itu mendapat kartu kuning, bahkan kartu merah, tak bisa mengajukan calon pemimpin di satu wilayah dalam 1 atau 2 kali masa Pilkada.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, inilah tujuan para pendiri bangsa kita, para founding fathers kita !

Usia 77 tahun bangsa kita saat ini, sudah waktunya rakyat merasakan hal yang mereka damba selama puluhan tahun yang tak dirasakan penuh !

Kini itu harus terwujud, tak ada lagi basa basi, dan pemanis retorika, bujuk rayu busuk, yang menipu rakyat.

Masyarakat bangsa ini harus mendapat banyak porsi kebermanfaatan dari pemerintah yang mengelola negara ini.
Sehingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, nyata dirasa, nyata terbukti.
Insyaallah !!

Dirgahayu Negaraku Republik Indonesia ke 77 tahun.
Kecintaan kami pada Pertiwi membuat kami siap menunjukan bukti !
Daulat bangsaku, daulat negeriku.
Merdeka, Merdeka, Merdeka.

Alhamdulillah
Semoga bermanfaat.
Bambang Melga suprayogi M.Sn.

Leave A Reply

Your email address will not be published.