Pondok Pesantren Cibeureum Kidul Kota Cimahi

147
Pondok Pesantren Cibeureum Kidul Kota Cimahi

Pondok Pesantren merupakan sarana kongkrit, yang mana keberadaannya berperan sebagai tempat membina kader Umat, pewaris para Nabi serta penerus perjuangan para Wali, terutama dalam rangka mewujudkan masyarakat madani, tentram, dan tenang dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Kaitannya dengan itu upaya perintisan dan pendirian Pondok Pesantren yang didirikan dengan dasar iman dan taqwa serta bertujuan untuk membina umat khususnya dalam membina ukhuwah islamiyah dan pembangunan mental spiritual guna menunjang pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Pondok Pesantren Cibeureum Kidul yang berlokasi di Jalan Mukodar Kebon Kopi Kelurahan Cibeureum Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, didirikan kira-kira pada tahun 1620 M oleh seorang ulama bernama Embah Mukodar.

Embah Mukodar adalah seorang ulama yang berasal dari Surabaya Jawa Timur, bermaksud menyebarluaskan agama Islam yang pada waktu itu sebagai agama yang di anggap “agama baru” oleh mayoritas masyarakat yang beragama Hindu, dengan mengembara keberbagai tempat sehingga akhirnya sampai dan membuka lahan rawa-rawa di lokasi Pondok Pesantren Cibeureum Kidul sekarang.

Pada awal pendiriannya Pondok Pesantren Cibeureum Kidul oleh Embah Mukodar merupakan padepokan tempat mengaji para santri yang sederhana dan bersahaja, serta menjadi salah satu padepokan yang didatangi santri yang sangat banyak, karena pada saat itu padepokan agama islam masih sangat jarang terutama di wilayah Jawa Barat.

Keberlangsungan padepokan yang merupakan cikal bakal Pondok Pesantren mendapatkan hambatan baik dari Pemerintah Penjajah Belanda dengan membatasi ruang dan gerak para tokoh ulama yang dianggap sebagai kaum radikal/pemberontak, maupun dari masyarakat priangan yang mayoritas masih memeluk agama Hindu yang pada saat itu dipimpin oleh Bupati Priangan Raden Suriadiwangsa atau Pangeran Rangga Gempol Kusumadianata.

Hambatan tersebut tidak menjadikan Embah Mukodar putus asa dan menyerah, sehingga para santri yang ada tetap bersemangat untuk terus menetap. Hari demi hari pun dilalui dengan semakin bertambah santri yang berdatangan dari berbagai penjuru daerah di Jawa Barat dari berbagai latar belakang.

Eksistensi pedepokan ini terus dipertahankan secara terus menerus oleh para penerus perjuangan Embah Mukodar sehingga nama padepokan pun seiring dengan bergantinya zaman lebih popular dengan sebutan Pondok Pesantren.

Ketokohan dan kepemimpinan serta ke’aliman Embah mukodar sebagai ulama yang mempunyai jasa besar terhadap masyarakat sekitar menjadikan nama Embah Mukodar diabadikan menjadi nama jalan sampai sekarang.

Setelah Embah Mukodar sebagai perintis Pondok Pesantren ini wafat (kira-kira pada tahun 1691 M) maka tonggak kepemimpinan Pondok Pesantren di teruskan oleh menantunya yaitu Mama Abdul Jalal sampai + tahun 1714 M, kemudian diteruskan oleh menantu Alm. Mama Abdul Jalal yang menikahi putri keduanya (Nyai Hj. Roliah) yaitu Mama KH. Hasan Ijra’i.

Pada masa Pondok Pesantren Cibeureum Kidul dipimpin dan diasuh oleh Mama KH. Hasan Ijra’i inilah banyak melahirkan alumni-alumni/ulama-ulama yang masyhur seperti Mama Ajengan Kurdi (Pontren Cibabat Kota Cimahi), Mama Ajengan Jarkasih yang lebih popular dengan sebutan Mama Cibaduyut (Cbaduyut Kota Bandung), Mama Santawi yang lebih popular dengan sebutan Mama Jelegong (ayah dari Alm. Mama Oha Pontren Alburdah Jelegong Kab. Bandung), Mama Kudang (Kudang Tasikmalaya), dan lain-lain.

Mama KH. Hasan Ijra’i di anugerahi tiga anak hasil pernikahannya dengan Nyai Hj, Roliah yakni Nyai Hj. Khodijah, Mama Ejeb, dan Mama KH. Pagih. Setelah Mama KH. Hasan Ijra’i wafat kira-kira pada tahun 1799 M maka estapet kepemimpinan diteruskan oleh menantu beliau / suami dari Nyai Hj. Khodijah yaitu Mama KH. Faqih sampai dengan tahun 1878 M.
Dari hasil pernikahan Mama KH. Faqih dengan Nyai Hj. Khodijah dianugerahi 6 orang putera puteri yaitu Nyai Hj. Maemunah, Nyai Hj. Quraesin, Mama H. Rusdi, Nyai Hj. Juhro, Nyai Hj. Qomariah, dan Nyai Hj. Hamidah.

Pada tahun 1878 M setelah mama KH. Faqih wafat, Pondok Pesantren Cibeureum Kidul diasuh oleh menantu dari Alm. KH. Faqih atau suami dari Nyai Hj. Maemunah binti KH. Faqih yaitu Mama KH. Ma’shum.

Pernikahan Mama KH. Ma’shum dengan Nyai Hj. Maemunah dianugerahi 11 orang anak, yaitu:

  1. Hj. Maesaroh yang menikah dengan Mama KH. Abdussobur (Pondok Pesantren Assiroji Rancabentang Kel. Cibeureum Kota Cimahi)
  2. Hj. Fatimah yang menikah dengan Mama KH. Izzudin (Mama Kaler)
  3. Hj. Halimah yang menikah dengan Mama KH. Zaenuddin (Mama Kidul)
  4. Hj, Hasanah yang menikah dengan KH. Saefudin (Pontren Rajamandala)
  5. KH. Faqih
  6. Ayi Efendi
  7. Hj. Juaenah yang menikah dengan Mama KH. Athoillah (Pondok Pesantren Nahjussalam Panyaungan Cileunyi Kab. Bandung)
  8. Aang Saefullah
  9. Hj. Imas Saerah
  10. Ma’mur Hendarsyah
  11. Hj. Atikah.

Kemudian setelah wafatnya Mama KH. Ma’shum + pada tahun 1949 M, maka Pondok Pesantren Cibeureum Kidul diasuh oleh putera dan menantu Alm. Mama KH. Ma’shum yaitu Mama KH. Izzudin (Mama Kaler), KH. Zaenuddin (Mama Kidul), dan KH. Faqih (Mama Faqih).

Dari hasil pernikahan Mama KH. Izzudin dengan Hj. Fatimah Binti KH. Ma’shum mendapat 7 orang anak, yaitu:

1. Hj. Siti Rokayah
2. Siti Saodah
3. Siti Jenab
4. Hj. Enok Siti Kholisoh yang menikah dengan KH. Alan Nur Ridwan
5. KH. Zaenal Arifin
6. H. R. Dadang Nawawi
7. H. Asep Hidayat

Sedangkan hasil pernikahan Mama KH. Zaenudin dengan Hj. Halimah Binti KH. Ma’shum mendapat 7 orang anak, yaitu:

  1. Hj. Aisyah yang menikah dengn KH. Aca Burhanudin (Pondok Pesantren Cidawolong Majalaya Kab. Bandung)
  2. Khofsah Nafisah
  3. KH. Kholilulloh
  4. KH. Habibulloh
  5. Masyrifah
  6. KH. Maman Abdulrahman
  7. Enung Mursilah

Setelah generasi ke 6 wafat yaitu KH. Zaenuddin pada tahun 1990 M dan KH. Izzuddin pada tahun 1999 M, maka Pondok Pesantren sampai sekarang diasuh oleh putra dan menantu dari keduanya, yaitu KH. Alan Nur Ridwan (menantu KH. Izzuddin), KH. Kholilulloh (putera KH, Zaenuddin), KH. Habibulloh (putera KH. Zaenuddin), dan KH. Maman Abdulrahman (putera KH. Zaenuddin), serta disesepuhi oleh salah satu putera Alm Mama KH. Ma’shum yaitu KH. Faqih.

  • Generasi pertama/Pendiri : Embah Mukodar ………. – 1691 M
  • Generasi kedua : Mama Abdul Jalal 1691 M – 1714 M
  • Generasi ketiga : KH. Hasan Ijra’i 1714 M – 1799 M
  • Generasi keempat : KH. Faqih 1799 M – 1878 M
  • Generasi kelima : KH. Ma’shum 1878 M – 1949 M
  • Generasi keenam : KH. Izzuddin (1949 M – 1999 M), KH. Zainuddin (1949 M – 1990 M), KH. Faqih (1949 M- 2014 M)
  • Generasi ketujuh : KH. Alan Nur Ridwan, KH. Kholilulloh, KH. Maman Abdurahman, KH. Habibulloh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here