Ponpes Sukamiskin Bandung Catatan Historis dari Minyak Wangi hingga Rumah Gedong

406
Ponpes Sukamiskin Bandung Catatan Historis dari Minyak Wangi hingga Rumah Gedong
Khr Abdul Aziz Haedar Ponpes Sukamiskin Bandung dan Wahyu Iryana (penulis)

Oleh:Wahyu Iryana

Selasa, 27 Agustus 2019 penulis berkesempatan sowan ke ndalem pangersa Ajengan Khr Abdul Aziz Haedar Ponpes Sukamiskin Bandung dalam rangka tabarrukan dan ngalap berkah.

Dalam kesempatan itu Khr Abdul Aziz Haedar menceritakan bagaimana perjuangan pendiri Pesantren Sukamiskin Bandung Hingga menjadi seperti sekarang.

Nama Sukamiskin sendiri memiliki arti Pasar (Suuq), Minyakwangi (Miskun-Misk) karena Mama Ajengan dahulu ketika pulang dari Mekah membawa minyak wangi yang banyak dan setiap pengajian santri santri yang mondok pesantren berjualan Minyakwangi, “Termasuk di Pasar Ujung Berung keturunan Mama Hamid Sukamiskin dan Mama Suja’i Ponpes Aljawami yang memberi wakaf tanah untuk membangun Masjid Raya Ujung Berung, dahulu di belakang Masjid itu ada Pesantren juga, dan terbentuknya komunitas pedagang hingga menjadi pasar Ujung Berung memang awalnya karena adanya pengajian rutin mingguan di Masjid Raya Ujung Berung.”Ucap Ajengan Abdul Aziz.

Pesantren Sukamiskin adalah salah satu Pesantren tertua di Jawa Barat yang berdiri tahun 1881 enam tahun sebelum Gunung Krakatau Meletus. Ponpes Sukamiskin pernah mengalami dalam lintas dekade jaman Penjajahan Belanda, Jepang, Masa Revolusi kemerdekaan hingga hura-hara 30 September 1965.

Pesantren Sukamiskin pernah di Bom Jepang hingga pada masa Mama Ajengan R. Ahmad Dimyati, berinisiatif santri harus diungsikan ke Ciparay. Ponpes Sukamiskin kembali dibangun oleh Mama Ajengan R. Ahmad Dimyati setelah beliau pulang dari Tanah Suci Makkah. Beliau membangun pesantren dengan fondasi bangunan yang megah dan kokoh hingga penduduk sekitar kagum atas bangunan Pesantren. Dalam bahasa Sunda bangunan megah itu lazim disebut “Gedong.” Hingga Mama Ajengan R. Ahmad Dimyati dikenal dengan sebutan Mama Gedongan.

“Pesantren Sukamiskin ini tanahnya sangat luas hampir mencapai 500 hektar pada waktu itu. Mohon maaf kita bukan agul ya, termasuk pernah ada seorang pejabat yang pernah datang ke sini selalu kami tolak kalau mau kasih sesuatu, jangan bicara masalah materi yang ada di dunya kalau di Pesantren kami, di sini lebih banyak membincangkan kaedah Ushul Fiqh, Qur’an Hadist, semua kaitan menuntut ilmu ya tentu kita senang dan terbuka.” Tambah Ajengan Abdul Aziz.

Dahulu pada masa Ajengan Ahmad Haedar Sukamiskin pernah ikut Kongres RMI NU di Banyuwangi. Bahkan pada waktu berdirinya NU, Mbah Hasyim Asyari menunjuk Gus Wahid Hasyim untuk menjadi pelaksana tugas turun ke akar rumput, ketika Gus Wahid menghadiri acara konfercab PCNU. Sumedang, beliau sempat singgah ke Pesantren Sukamiskin dan memberikan amanah agar Ponpes Sukamiskin mengembangkan NU di Wilayah Bandung Timur.

“Di sini (Ponpes Sukamiskin red) sering ada perlombaan pencak silat, ketangkasan, volly, maen bola, dan lomba drumband, jadi semarak ber-NU memang harus riang gembira, ya…termasuk juga Ansornya, masa masa 1947-1960-an menjadi Ansor itu bukan hanya harus cerdas tapi kudu wani oge jeung gelutna (ikut organisasi Ansor bukan hanya harus cerdas intelektual tetapi juga harus berani juga berkelahi) karena masa itu adalah masa huru-hara, dari Agresi Militer Belanda, mendirikan laskar Hizbullah, tragedi Di/TII, hingga peristiwa pembubaran PKI oleh Orba kami pernah alami” Tambah Ajengan Abdul Aziz.

Khr Abdul Aziz Haedar Ponpes Sukamiskin Bandung, Wahyu Iryana bersama sahabat Ansor

Perjuangan dakwah Islam juga sangat semarak pada masa KH. Hafid Usman kalau ada problem dalam menjalankan roda organisasi beliau pasti mengadakan acara Bahtsulmasail dan Ponpes Sukamiskin ditunjuk menjadi tuan rumahnya, tujuan acara sebenarnya untuk mencairkan suasana ketegangan dalam berorganisasi. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Sekarang kita isi kemerdekaan ini dengan kegiatan positif saja” Ungkap Ajengan Abdul Aziz yang merupakan keturunan ke-20 dari syech Syarif Hidayatullah. beliau anak dari Khr Ahmad Haedar bin khr. Ahmad Dimyati. Bin Khr Muhammad bin Alqo.

Wahyu Iryana (penulis)

Sekarang tabir yang dahulu pernah tertutup seolah terbuka termasuk penamaan Pesantren Sukamiskin yang oleh awam sering disalah artikan menjadi semakin benderang.

Karena malam sudah larut penulis akhirnya undur diri. Dengan membawa banyak informasi berharga, dan ijazah khusus dalam menjalani hidup. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here