Puji-pujian Ajengan Dimyati dan Warisan Nadzhoman yang Terlupakan

Wahyu Iryana, Ketua Lakpesdam PWNU Lampung – Di masjid-masjid kampung, sebelum azan berkumandang, sering terdengar lantunan nadzhoman—puji-pujian yang berisi syair keislaman. Biasanya dilantunkan dengan irama khas, menenangkan hati sekaligus mengingatkan jemaah agar segera meninggalkan kesibukan duniawi dan bergegas ke rumah ibadah. Namun, seiring modernisasi, nadzhoman mulai jarang terdengar. Mungkin sekarang lebih sering kalah saing dengan dering notifikasi HP atau suara bocah yang berteriak, “Bunda, aku butuh skin baru di game!”
Salah satu ulama yang meninggalkan warisan nadzhoman ini adalah KH. Amad Dimyati, atau lebih dikenal sebagai Ajengan Dimyati Mama Gedong dari Pondok Pesantren Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Namanya memang tidak sepopuler influencer agama yang suka bikin ceramah clickbait di media sosial, tetapi karyanya sungguh mendalam. Kitab nadzhoman yang ditulisnya menjadi bukti betapa kuat tradisi lisan di kalangan pesantren.
Nadzhoman bukan sekadar puisi biasa. Ini adalah bentuk sastra Islam yang diwariskan secara turun-temurun, berisi ajaran akidah, fikih, tasawuf, hingga sejarah Nabi. Biasanya, nadzhoman digunakan sebagai media dakwah yang efektif karena mudah dihafal dan disenandungkan.
Ajengan Dimyati menulis berbagai nadzhoman yang hingga kini masih dihafalkan oleh santri di beberapa pesantren tradisional. Gaya bahasanya sederhana, tetapi penuh hikmah. Misalnya, ada nadzhoman yang mengingatkan bahwa dunia ini fana:
“Dunya ieu taya langgengna,
Kitu deui urang manusa,
Bakal balik ka pangkatna,
Teu bawa harta jeung banda.”
(Dunia ini tidak kekal,
Begitu pula manusia,
Akan kembali ke asalnya,
Tanpa membawa harta dan benda.)
Syair semacam ini begitu dalam maknanya. Ia mengingatkan bahwa sehebat apa pun seseorang di dunia, pada akhirnya akan kembali ke tanah. Makanya, tidak perlu terlalu sombong hanya karena followers Instagram sudah satu juta.
Dulu, nadzhoman sering dilantunkan di surau dan masjid kampung. Namun sekarang, anak-anak muda lebih hafal lirik lagu-lagu pop daripada nadzhoman. Mungkin kalau ada yang melantunkan nadzhoman di tongkrongan, teman-temannya malah bingung, “Lagi baca mantra, Bro?”
Fenomena ini terjadi karena perubahan pola dakwah. Dulu, dakwah lebih banyak dilakukan secara lisan dan melibatkan tradisi lisan seperti nadzhoman. Sekarang, ceramah agama lebih banyak disiarkan melalui media sosial. Ustaz kekinian lebih memilih membuat video pendek yang bisa viral dalam hitungan jam.
Minimnya pewarisan budaya juga menjadi salah satu penyebabnya. Generasi muda kurang mendapat transfer tradisi ini dari orang tua atau guru-guru mereka. Banyak pesantren modern tidak lagi mengajarkan nadzhoman sebagai bagian dari kurikulum.
Perubahan selera masyarakat juga berpengaruh. Di era serba digital, nadzhoman mungkin dianggap ketinggalan zaman. Santri sekarang lebih akrab dengan podcast dan YouTube daripada nadzhoman yang dilantunkan di musala.
Tentu, kita tidak bisa sekadar bernostalgia tanpa berbuat apa-apa. Ada beberapa cara agar nadzhoman tetap hidup di tengah zaman digital ini.
Kitab nadzhoman Ajengan Dimyati perlu dikumpulkan, ditulis ulang, dan diterbitkan dalam bentuk e-book atau aplikasi. Bayangkan kalau ada aplikasi “Nadzhoman Daily” yang bisa mengingatkan pengguna untuk membaca satu bait nadzhoman setiap hari, seperti notifikasi zikir.
Coba bayangkan kalau ada musisi santri yang mengaransemen nadzhoman ke dalam musik pop atau lo-fi yang bisa diputar di Spotify. Bisa jadi trend baru di kalangan anak muda.
Pemerintah dan lembaga pendidikan Islam juga bisa memasukkan nadzhoman ke dalam kurikulum ekstrakurikuler. Dengan begitu, generasi muda tetap mengenal warisan sastra Islam ini.
Pondok Pesantren Sukamiskin, tempat Ajengan Dimyati mengajarkan ilmunya, merupakan salah satu pesantren tertua di Bandung. Selain terkenal dengan kajian kitab kuning, pesantren ini juga melahirkan banyak ulama besar. Sayangnya, keberadaan pesantren ini tidak sepopuler lembaga-lembaga pendidikan Islam modern.
Kalau kita berjalan-jalan ke Sukamiskin, kita bisa menemukan peninggalan sejarah berupa manuskrip-manuskrip klasik. Di sinilah ajengan-ajengan zaman dahulu menulis karya yang menjadi referensi para santri. Namun, seiring dengan perubahan zaman, banyak manuskrip yang mulai terlupakan.
Sebagai penutup, mari kita bayangkan jika Ajengan Dimyati masih hidup di era digital ini. Mungkin ia akan menulis nadzhoman tentang kehidupan modern:
“Aya nu diajar tina reels,
Langkung resep ngopi di hills,
Hirup teu cukup ukur thrills,
Ulah hilap kana hadits.”
(Ada yang belajar dari reels,
Lebih suka ngopi di perbukitan,
Hidup tak cukup hanya dengan kesenangan,
Jangan lupa pada hadis.)
Nadzhoman tidak boleh hilang dari budaya Islam kita. Ia adalah warisan yang harus dijaga, seperti menjaga saldo e-wallet di tanggal tua. Maka, mari kita lestarikan nadzhoman dengan cara yang kreatif. Siapa tahu, suatu hari nanti, kita bisa mendengar nadzhoman Ajengan Dimyati trending di TikTok.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



