Revolusi Industri 4.0 Dibentengi Tahlilan

9
Revolusi Industri 4.0 Dibentengi Tahlilan

Tangerang Selatan, NU Online
Kehadiran revolusi industri 4.0 sangatlah menantang zaman saat ini. Ia bisa meruntuhkan hubungan manusia mengingat kemudahan komunikasi mampu mendekatkan yang jauh, tetapi dalam waktu yang sama juga menjauhkan yang dekat.

“Untungnya di NU ini bentengnya masih ada, yaitu majelis tahlilan, majelis yasinan, maulid diba,” ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat memberikan sambutan pada Grand Opening Bengkel Kreatif Hello Indonesia (BKHI) Nahdlatul Ulama di Bengkel Kreatif Hello Indonesia, Jalan Merpati Raya, Sawah Baru, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Ahad (19/5).

Meskipun demikian, Kiai Said berharap agar masyarakat dapat memaksimalkan hal positif dari kemajuan teknologi itu. “Kemajuan IT ini mau tidak mau. Maka kita harus memanfaatkan semaksimal mungkin dengan digunakan membangun big data,” katanya.

Namun, mudarat kemajuan tersebut juga sulit untuk dihindarkan. Kiai Said saat awal tahun 2000-an tidak membayangkan fitnah, adu domba, hingga hoaks akan semasif yang terjadi sekarang.

Dulu, katanya, Cendekiawan Nurcholis Madjid dan KH Abdurrahman Wahid kerap kali difitnah dengan berbagai tuduhan. Tetapi hal tersebut muncul di koran-koran dan sangat jarang sehingga tidak menyentuh orang-orang di pedesaan.

“Sekarang, yang namanya Jokowi anti Islam, Jokowi PKI sudah menjadi obrolan di mushalla-mushalla, karena masifnya medsos,” kata Pembina Yayasan Seni Untuk Bangsaku (YSUB) itu.

Namun, bagaimanapun, kata Kiai Said, zaman sudah masuk pada era media sosial yang sedemikian rupa, suka ataupun tidak suka. “Tinggal bagaimana kita mengawal memanfaatkan kemajuan teknologi untuk hal-hal positif,” ucap Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu.

Hal demikian, lanjut Kiai Said, sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT. mengingatkan agar manusia tidak terpengaruh dengan orang yang kerap membawa berita bohong. “Jangan terpengaruh dengan orang yang membawa berita bohong, menggunjing, adu domba, menghalangi kebaikan, menimbulkan permusuhan pecah belah bahkan disintegrasi saling bermusuhan, pada akhirnya menjerumuskan kita semua dalam dosa besar,” pungkas Kiai Said menerjemahkan ayat Al-Qur’an tersebut.

Kegiatan tersebut  dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Ketua PBNU KH Abdul Manan Abdul Ghani dan H Eman Suryaman, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Ketua PWNU Banten KH Bunyamin, para kiai di wilayah Jabodetabek, dan 30 pengusaha dari Jepang. (Syakir NF/Aryudi AR).

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here