SANTRI MENJAWAB, MIRAS: Pandangan Semua Agama dan Hancurnya Peradaban

78

Andri Nurjaman, S. Hum – Islam adalah agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat Indonesia, bahkan secara keseluruhan masyarakat Muslim di Indonesia merupakan umat Islam terbanyak dibanding dengan negara-negara Islam yang lain, hal ini merupakan suatu potensi yang sangat besar untuk membentuk kekuatan umat Islam secara keseluruhan, karena kekuatan ada pada persatuan. Tidak ada kekuatan tanpa persatuan, tidak akan terbentuk kekuatan jika masih bermusuh-musahan dengan sesama muslim, tidak akan terjalin kekuatan jika masih terpecah belah atau terkotak-kotak antar sesama umat Islam.

Akhir pekan ini Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan mengenai legalitas penjualan Miras oleh pemerintah. Al-qur-an yang merupakan pedoman hidup umat Islam dengan jelas diterangkan dalam qur’an surat Al-Maidah ayat 90 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan.”

Jelas sekali dalam ayat ini mengharamkan untuk menjauhi meminum minuman keras (khamar). Haram mengkonsumsi miras diharamkan juga menjualnya termasuk diharamkan pula investasi apapun dalam bisnis minuman keras. Melegalkan penjualan miras artinya meresmikan dan memudahkan masyarakat untuk menkonsumsinya, perlu kita ketahui bahwa minuman keras adalah pangkal semua keburukan; pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, perampokan dilakukan oleh orang-orang jahat seringkali dilakukan setelah meminum minuman keras agar dia berani untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji tersebut. Minuman keras adalah pangkal rusaknya moral bangsa, jika hal ini terus dibiarkan akan berakibat buruk terhadap para pemuda yang merupakan generasi penurus bangsa, bagaimana nasib bangsa ini kedepan jika para penerusnya sudah dirusak moralnya dengan minuman berakohol tadi.

Iklan Layanan Masyarakat

Ternyata tidak hanya ajaran Islam yang melarang dengan tegas mengkonsumsi minuman haram tersebut. Dalam Al-kitab yang menjadi sumber rujukan kehidupan orang Kristen juga melarang untuk meminum minuman berakohol. Dalam Yesaya 5:22 berbunyi “Celakalah mereka yang menjadi jago minum dan juara dalam mencampur minuman keras”. Dalam Amsal 20:1 juga dijelaskan bahwa :”Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.”.

Dalam agama Khatolik pun tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi menuman keras, karena pada dasarnya ajaran khatolik mengajarkan setiap apapun yang merusak agama dan merusak moral masyarakat bertentangan dengan ajaran dan moral agama kristiani, dan miras sudah nyata telah merusak akal pikiran dan ahlak manusia sebagai suatu tatanan dalam bermasyarakat.

Sedangkan dalam lima ajaran Budha yang kelima berbunyi “surameraya majjapamadattahana veramar sikkapadam samadiyami artinya aku bertekad melatih diri menghindari minuman keras dan obat-obatan terlarang yang menyebabkan mabuk dan melemahkan”. Intinya ajaran Budhisme juga tidak menganjurkan untuk mengkonsumsi apapun yang menyebabkan mabuk dan melemahkan.

Ajaran dalam Budisme ini selaras dengan ajaran dalam agama Hindu dalam pandangan hidupnya yang sering disebut dengan pancha Seela yaitu lima jenis perbuatan yang seharusnya ditinggalkan oleh umat Hindu yaitu berjudi, melacurkan diri, berbohong, membunuh orang lain dan meminum alcohol. Sedangkan dalam agama Kong Hu Cu mengkonsumsi alcohol dan meminum minuman keras disebut sebagai orang yang tidak berbakti terhadap agama.

Lima agama resmi yang ada di Indonesia dalam ajaran-ajarannya tidak satupun agama tersebut yang menghalalkan mengkonsumsi alcohol/khomer/miras, termasuk menjual dan berinvestasi didalamnya, karena hal apapun yang diharamkan dikonsumsi maka diharamkan juga menjual dan berinvestasi didalamnya.

Baiklah, kiranya kita mesti mengingat fakta dalam sejarah kehancuran suatu bangsa bahkan kehancuran Emperium yang pernah berkuasa di seluruh dunia, Mulai dari Dinasti Ummayah, Abbasiyah, Ayyubiyah, Kerajaan Mughal di India, Safawiyah di Persia dan Turki Utsmani. Faktor utama kehancuran bangsa dan negara besar tadi adalah masalah moral yang melanda rakyat dan penguasa. Contohnya saja pada pemerintahan terakhir dinasti Abbasiyah terjadi perebutan kekuasaan diantara putra-putra raja, para putra raja yang menjadi calon penguasa dan pemimpin Daulah Abbasiyah tersebut tidak memiliki moral karena suka hura-hura, mabuk-mabukan, judi dan lain-lain. Dengan kondisi calon pemimpin yang seperti ini ketika timbul suatu permasalahan dan serangan terjadi dari luar bahkan dari dalam mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya hancur dan berada dibawah kekuasaan bangsa lain.

Dari fakta sejarah ini kita bisa mengambil suatu tindakan yang nyata di hari ini untuk keberlangsungan Indonesia kedepan. Bahwa pemuda sekarang adalah generasi penerus bangsa dan negara Indonesia di masa yang akan datang, maka siapkan generasi mendatang ini hari ini juga, siapkan moral mereka dengan baik, ajari mereka aklaq yang terpuji, bekali mereka berbagai disiplin ilmu, baik ilmu agama atau ilmu sains dan ternologi, dan jauhi mereka dari miras yang telah nyata-nyata merusak moral bangsa dan telah menghancurkan peradaban dunia.

[Wallahu alam]
Penulis
Andri Nurjaman, S. Hum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here