Santri Post Tradisionalisme

9

Oleh: Rifatuz Zuhro

Istilah post tradisionalisme sebetulnya bukan istilah baru pada perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Istilah ini muncul sekitar awal tahun 2000 an yang lekat dengan gerakan kaum intelektual muda NU yang mengembangkan kajian-kajian keislaman yang hidup dan menyegarkan tanpa menyisihkan nilai-nilai tradisi yang sudah diwarsiskan oleh generasi lama.

Saat itu, banyak sekali yang optimis dengan perkembangan pemikiran Islam di tanah air, yang dimotori oleh kaum intelektual NU. Meski saat ini gerakan tersebut lebih tertutupi dengan arus-arus atau isu-isu baru yang memaksa untuk merespons dan membahas tentang hal-hal yang sudah final, seperti memperdebatkan kembali antara Islam dan Pancasila. Jika diibaratkan mobil, kita telah dicoba untuk mundur kembali sibuk dengan hal-hal yang kulit, luar dan bukan subtansi.

Tapi wajar saja, membahas persoalan agama memang sangat bisa mengaduk-aduk emosi masyarakat, karena ranah perkembangan intelektual dalam Islam, tidak banyak yang menggemarinya, syukur-syukur masih lestari di dunia akademik maupun aktivis.

Generasi saat ini ditempatkan pada segala sesuatu yang instan, melahap produk yang siap saji. Masyarakat dalam menggunakan hukum lebih cenderung menyukai hukum hitam putih, halal haram, dan tidak mau masuk dalam kancah pergolatan pemikirannya, ataupun deskriptif panjang nash yang melelahkan. Generasi saat ini, dibuat untuk lebih ikhlas menerima, disuapi, dicekoki tentang sebuah nash. Namun, tidak diberi kesempatan menggunakan daya akalnya untuk berfikir tentang nash tersebut.

Penyegaran paham dan amaliah keislaman yang hidup dan menghidupkan membutuhkan usaha ekstra dari kaum muda NU. Banyak tantangan era saat ini yang harus mampu dihadapai mulai dari percepatan dunia digital dan paham keislaman yang turut ikut mengalami percepatan, dan instan.
Bisa kita bayangkan ketika kita terlalu sering mengonsumsi sesuatu yang instan dampaknya akan jauh lebih buruk dalam jangka pendek maupun panjang. Ibarat mie instan, selain obesitas yang sudah mulai tampak, penyakit-penyakit lain juga sudah menunggu. Begitu juga dengan ketika kita banyak mengonsumsi paham keislaman yang instan, kita akan banyak terjangkit penyakit tanpa kita sadar jika kita sedang sakit.

Post Tradisionalisme Islam bisa dikatakan merupakan antitesis dari sebuah tradisi dalam berkeagamaan itu sendiri. Perlu adanya penyegaran, rekonstruksi pemikiran yang lebih kontekstual. Paham Islam NU sendiri tidak menafikan konteks, namun memadukan antara teks (nash) dan konteks, sehingga produk  yang dihasilkan selalu bisa menjawab tantangan zaman.

Sebenarnya, jejak pemikiran Islam di Indonesia abad 19 sudah sangat mumpuni dengan banyak intelektual Muslim di Indonesia. Sebut saja Gus Dur, Cak Nur, Kuntowijoyo dan lainnya. Meski dikemas dengan istilah yang berubah-ubah, sejatinya memiliki satu subtansi yang sama yaitu memaknai agama (islam) sebagai jalan berkehidupan yang lebih baik. Seperti Gus Dur dengan Pribumisasi Islamnya, Cak Nur dengan sekularismenya. Ide-ide tersebut akan tetap hidup dan berkembang, berkombinasi dengan istilah yang baru.

Islam Pribumi, Islam Nusantara, Islam Moderat, Islam Rahmatan Lil Alamin, atau bahkan Post Tradisionalisme Islam, pasti mempunyai koneksi yang cukup kuat, dan akan bertemu pada titik yang tidak beda. Namun, yang paling urgen di sini adalah bagaimana kaum intelektual muda bisa untuk melanjutkan tradisi-tradisi intelektual tersebut. 

Intelektual Muda NU
Regenerasi sel intelektual harus tetap dijalankan di tengah tantangan paham berislam yang serba instan dan cepat. Paham yang praktis tidak boleh terlalu lebih besar porsinya ketimbang paham subtansial. Intelektual NU harus tetap membuat arus baru yang lebih berisi, dan tidak hanya berhenti pada tahap ‘kontra narasi’.

Hemat saya, tidak lebih baik juga jika kita mengikuti arus untuk mencekoki (menyuapkan sesuatu) masyarakat dan mengikuti arus. Jika bisa mengubah arus mengapa tidak? Mengubah arus membuat masyarakat lebih dewasa dalam menyikapi paham yang beragam.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Di NU sendiri, pergolatan pemikiran generasi lama dengan generasi muda memang saat ini sudah tidak menjadi problem yang serius seperti tempo dulu. Tradisi pemikiran yang menyeimbangkan teks dan konteks sudah menjadi corak NU dalam merespons suatu hal.

Munculnya intelektual muda NU membuat NU semakin segar, meskipun NU membawa istilah tradisionalnya. Inilah perwujudan Post-Tradisionalisme yang menyajikan wajah NU selain tetap menjaga tradisi Walisongo, NU juga menampakkan wajah yang cerah dan menghidupkan pemikiran.

Sebut saja intelektual muda di NU seperti Gus Nadhirsyah Hosen, Gus Ulil Abshar, Gus Muwafiq, serta banyak sekali yang menyanggah sel-sel intelektual dalam NU yang tersebar di seluruh wilayah dan daerah di Idonesia. Beberapa mungkin kurang masyhur di dunia maya, namun tradisi yang tidak pernah ditinggalkan adalah tradisi menulisnya, yang masih merawat subtansi-subtansi beragama.

Gencarnya gerakan Islamisme, Post-Islamisme memoles wajah Islam dengan sentuhan modernis, dan bergesernya beberapa istilah dari makna dan maksud aslinya adalah salah satu dari hasil gerakan tersebut, seperti trend #Hijrah #PemudaHijrah #Sunnah yang mengalami pergeseran makna yang identik dengan gerakan tersebut. Meski, sudah banyak kontra narasi dilakukan dan mengembalikan makna dan istilah yang bergeser, apakah kader NU akan melakukan pengobatan, tanpa pencegahan?
Sebagai organisasi besar yang terstruktur, NU mempunyai banyak kader baik struktural maupun kultural; bibit-bibitnya menyebar di lembaga maupun banom-banom nya. Semua bergerak, semua hidup, semua berpikir, semua ada, semua berjamaah.

Gerakan Post-Tradisionalisme yang terjadi dalam kultur NU, akan memungkinkan NU tidak hanya akan menjadi penjaga gawang dan penawar sakit dari kuman-kuman, namun NU juga menjadi penggerak intelektual Muslim di Indonesia, bahkan dunia.

Santri Post-Tradisionalisme adalah perwujudan generasi intelektual muda NU yang memegang tradisi dan terus melakukan pembacaan-pembacaan realitas menggunakan segenap daya akal dan pikiran.

Siapa mereka? Ya, siapa saja kader NU yang tidak berhenti belajar dan tidak merasa paling benar. Dengan begitu, santri tidak hanya berkontribusi dalam sejarah bangsa, namun santri juga menentukan masa depan bangsa. Semoga kita tidak akan larut dalam sejarah besar santri itu sendiri.

Penulis adalah alumni STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang, Jawa Timur.

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here