Semangkuk Bubur Asyuro Duka dan Kebahagiaan

27

Semangkuk Bubur Asyuro Duka dan KebahagiaanMuharam merupakan bulan yang selalu dirindukan oleh para ahli tasawuf dan hamba Allah swt. Muharam adalah bulan mulia dimana jika disyiarkan pasti akan menuai banyak pahala. Muharam sebuah kata tidak asing di telinga anak-anak yatim yang membutuhkan kasih sayang dan bantuan.

Kala muharam tiba, sebagian muharrik dakwah dan muharrik masjid menyibukan dirinya menyeru, mengajak masyarakat untuk memuliakan muharam dengan beragam aktifitas dan amalan. Diantaranya ada yang pandai mengupas sejarah filosofis muharam dan perjuangan sayidina husein, ada yang rajin melakukan puasa sunnahnya, ada yang mengisinya dengan banyak berdzikir dan ada pula yang bersodaqoh.

Kegiatan sodaqoh kapanpun dan dimanapun selalu dianjurkan, banyak sekali ayat-aya al Quran yang menganjurkan hal tersebut diantaranya  “Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (Al-Hadid 7).

Iklan Layanan Masyarakat

Pemuda Majelis Taklim Annadziriyah Cijurei Sukabumi,Kamis ( 20/9) aktif bersodaqoh dalam  memperingati Asyuroan atau 10Muharam dengan bergotong royong memasak adonan bubur, bubur yang dikenal dengan Bubur Suro atau Bubur Merah Putih itu dimasak oleh para pemuda sejak Rabu Malam dan dibagikan secara khusus kepada warga desa Cijurei dan Desa Legok, kecamatan Cireunghas, Kab. Sukabumi.

Menurut Ulama setempat, Bubur merah putih atau Bubur Suro itu dikenal karena dinisbatkan pada hari Asyuro, hari dimana terjadi sebuah tragedi kemanusiaan, “ Asyuro merupakan hari yang dikenal oleh masyarakat sunda, jawa dan melayu sebagai hari kesepuluh di Bulan Muharam, dikenal Asyuroan atau Suro, dimana pada saat itu Cucu Nabi, Sayidina Husein dan Keluarganya serta para sahabatnya melakukan Hijrah dan di tengah jalan menuai Syahid karena dibunuh oleh sekelompok pasukan jahat.” Ucap Ajengan Hakim, Salah satu tokoh desa Cijurei.

Kejadian bersejarah terkait hijrah tersebut mungkin sudah mulai pudar dari ingatan umat Nabi Muhammad saw, tapi hal itu tertulis apik dalam beragam kitab dan membumi kokoh menyatu di tengah kehidupan budaya dan keagamaan masyarakat.

“Memang ada orang yang tidak suka dengan  ini, bahkan mereka secara sistematis berusaha untuk menghapus aktifitas bagus muharaman, tapi namanya perjuangan cucu Rasul pasti mengikuti arahan datuknya, berjuang memiliki landasan dan yang diperjuangkan urusan universal terkait keadilan dan  agamanya, jadi tidak mungkin hilang, patut disadari bahwa muharam selain mulia, memiliki banyak  latar historis yang  tentu menyimpan banyak pelajaran bagi kita semua.” Lugas Kang Darsono penggerak pemuda cibeureum.

Kegiatan ini bukan hanya tersebar di Nusantara tapi juga di semenanjung Negeri jiran dan negara asia barat.
Muharam memang unik, selain menyimpan hikmah duka juga kebahagiaan, sebagaimana dikutip di beragam kitab. Saat Muharam Para alim ulama banyak sekali membahas hijrah para Nabi, namanya hijrah tentu dilatar belakangi hal bermacam-macam. Contoh Nabi Muhammad Hijrah karena mendapat tantangan dari kaum kafir, pada akhirnya hijrah dari kota Makkah menuju Madinah Al Munawwarah.  Nabi Nuh hijrah ditengah lautan banjir, Nabi Ibrahim mengajak hijrah umatnya agar meninggalkan berhala seraya berjuang menghancurkannya dan berakhir di lempar ke tengah api walau pada akhirnya selamat, lalu Nabi Musa  pun hijrah bersama pengikutnya dan  dinyatakan selamat dari kejaran raja dzalim firaun di Sungai Nil, dan Nabi Yunus selamat keluar dari Perut Ikan Paus.

Suka duka muharam dimanapun diperingati dan nilai-nilainya selalu sampai ke telinga umat, keluarga alim ulama kita hingga kini menjaganya dengan baik dengan mengamalkan dan memberi contoh, contoh real yang terjadi saat ini misalnya keluarga Almarhum Gusdur menjamu presiden Jokowi dengan menu bubur merah putih. Hal itu tentu sebuah pesan yang sarat makna, tidak hanya pesan bagi tokoh negeri Indonesia tapi juga bagi kita semua yang memahami kedalaman hikmah Muharam.

Allah swt dalam surat al Hajj ayat 32 berfirman, “Demikianlah ( perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu muncul dari jiwa yang takwa kepada Allah swt.”  Menyampaikan sejarah perjuangan para Nabi, keluarganya dan para sahabatnya merupakan bagian dari Syiar yang berangkat dari hati umat Nabi Muhammad yang bersih dan bertakwa. Semua jejak duka dan kebahagiaan tersimpan di dalamnya, patut difahami dan diamalkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here