Seminar Penguatan Keilmuan Nahdlatul Ulama “PKNU” dalam Merancang Arus Baru Islam Indonesia & SDM NU

42

Oleh Hapid Ali

Kegiatan PKNU (Penguatan Keilmuan Nahdlatul Ulama) yang di adakan di Pondok Pesantren Hidayatussalam, Cibiuk, Garut. pada hari Rabu, 10 April 2019 tadi siang, it merupakan pintu awal dalam penguatan Islam Ahlussunnah Waljama’ah Annahdliyah dalam merespon problematika baik dalam aspek politik dan ideologi sehingga NU menjadi penengah dalam berbagai aspek termasuk dalam penguatan karekteristik NU itu sendiri menjadi pembeda dari ormas islam lain termasuk cepet responsif dalam ranah yang menyangkut dengan keutuhan NKRI, seperti apa yang telah disampaikan oleh K.H. Drs. Agus Muhammad Saleh, M.Pd.I (pengurus PWNU Jabar & Pimpinan Ponpes Almunawwaroh, Ciloa, Limbangan, Garut) mengatakan bahwa Islam Ahlussunnah Waljama’ah Annahdliyah merupakan ormas Islam yang selalu menjaga dan membuat inovasi baru dalam tradisi keagamaan yang hasanah dan responsif terhadap problematika yang merongrong NKRI. Pernyataan tersebuat disampaikan ketika beliau mengisi materi “respon dan relasi NU terhadap Ideologi” pada kegiatan seminar PKNU tersebut.

melihat betapa pentingnya posisi jam’iah dan jama’ah NU dalam penguatan NKRI, maka kegiatan PKNU tersebut tidak hanya diarahkan pada penguatan aspek ideologi saja akan tetapi itu diarahkan pada penguatan terhadap SDM NU agar dapat mampu merancang dan merumuskan wajah Islam Indonesia yang toleran terhadap semua perbedaan termasuk perbedaan dalam keyakinan bergama karena itu merupakan bagian dari sikap warga negra indonesia yang baik yang mengangkat persatuan dan kesatuan diatas segalanya demi menjaga keutuhan NKRI. Karena pada dasarnya bahwa kita bukan orang Islam yang ada di Indonesia akan tetapi kita merupakan orang Indonesia yang beragama Islam. Maka logikanya bahwa apapun keyakinannya dimanapun kita berpijak disitulah kita harus menjaga keutuhan tanah air tersebut termasuk keutuhan NKRI yang menjadi pijakan kita dalam bernegara.

Maka seyogyanya hasil dari kegiatan PKNU di Ponpes Hidayatuasalam itu dapat menguatkan kembali ruhul jihad Islam Ahlussunnah Waljama’ah Annahdliyah dan Kebangsaan. Karena melalui dua aspek inilah merupakan pintu awal yang akan membentengi dan menguatkan keutuhan Bangsa dan Agama. Seperti apa yang telah disampaikan oleh K.H. Dr. Aceng Hilman Basori (Wakil Ketua PCNU Garut) mengatakan bahwa “NKRI merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi bagi kita karena NKRI dibangun oleh founding fathers ulama terdahulu kita dengan tetesan darah”.

Melihat hal tersebut, penulis mengajak kepada semua warga Nahdliyin dan pembaca pada umumnya untuk terus membumikan nilai2 Firkah, Harakah dan Amaliah NU yang selalu beriringan dengan kesejahteraan dan keutuhan NKRI ini. Pada dasarnya kegiatan PKNU tersebut itu untuk memberikan kesadaran bagi Jam’iah dan Jama’ah NU terhadap pentingnya menjaga keutuhan beragama dan berbangsa agar teteap se’ia dan sekata ketika berbicara konteks NKRI sehingga ketika ada ormas Islam ormas non Islam yang merongrong pancasila kita cepat responsif dalam menanggulanginya. Termasuk konteks dalam menghadapi pilpres 17 April 2019 nanti NU bisa mengambil langkah politik didalamnya, siapa dibelakang pasangan 01 dan 02 ketika pisau analisa kita diarahkan pada hal itu maka kita sadar bahwa yang mendukung pasangan 01 termasuk calon dari wakil presiden nanti itu merupakan ulama besar, Rois Aam PBNU dan cicit dari Syekh Nawawi albantani yang mengarang kitab safinah, sulam munajat beserta tafsir yang secara keabsahan nasabiyah keturunan dan ke-ilmuannya itu tersambung terhadap baginda Rasulullah SAW yang tidak mungkin mengarahkan umatnya pada hal yang sesat dan mungkar. Itu yang meski kita fahami agar kita tidak gagal faham dalam menentukan kebijakan politik karena kesalahan dalam kebijakan dan menentukan pilihan dengan telunjuk jari kita pada dasarnya itu dapat merugikan Agama dan Bangsa.

Maka dalam hal ini, kesadaran terhadap agama dan bangsa dalam menjaga keutuhan NKRI itu merupakan hal yang sangat penting dalam membangun karakter bangsa. Maka kesadaran dan penguatan keagamaan dan kebangsaan itu mesti tetap tertanam dalam jiwa kita termasuk dengan kegiatan seminar PKNU tersebut itu merupakan sebuah pendekatan terhadap publik pada umumnya dalam membangun dan menguatkan kesadaran secara kolektifitas termasuk peserta dalam PKNU dalam menyimak materi ke NU an dan kenegaran tersebut.

Melihat peserta PKNU yang begitu antusias dalam menyimak penjabaran materi baik terkait sejarah dan relasi Nu terhadap Ideologi dan Negara sehingga waktupun tidak terasa karena dengan keasyikan mereka dalam menyimak materi penting tersebut. Melihat hal tersebut, penulis menyimpulkan bahwa kesadaran akan hal itu bukan hanya terbentuk dalam ranah kegiatan seminar PKNU saja melainkan itu dapat diaplikasikan dalam lingkungan sosial.

Ditulis oleh:
Hapid Ali (Ketua Tanfidz MWCNU Cibiuk, Garut sebagai intelektual Muda NU Jabar yang aktif di PW Lakpeadam NU Jabar).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here