Sepenggal Kisah KH Zainal Abidin Munawwir dan Gempa

10

Masih terngiang dibenak kita betapa dahsyatnya bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok yang telah memporak-porandakan daerah itu. Lombok yang sangat terkenal dengan pariwisatanya di Indonesia ini adalah salah duanya Gili Terawangan dan Gunung Rinjani yang hampir tiap harinya dikunjungi banyak wisatawan, baik dari wisatawan mancanegara maupun wisatwan domestik.

Gempa yang mengguncang wilayah Lombok dengan berkekuatan 7.0 skala richter ini terjadi di waktu malam hari 5 Agustus 2018,  itu sangat mengejutkan masayarakat sekitar yang getarannnya terasa sampai Bali. Menurut data dari BNPB jumlah korban jiwa mencapai 98 jiwa dan kemungkinan akan terus betambah karena proses evakuasi yang belum rampung.

Pada peristiwa di atas ini mengingatkan penulis tentang terjadinya gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terjadi pada 27 Mei 2006. Kejadian itu terjadi kurang lebih pukul 05:55:03WIB selama 57 detik. Tidak sedikit korban jiwa yang berjatuhan dan ribuan bangunan rumah roboh hampir rata dengan tanah.

Salah satu daerah yang terkena dampak gempa adalah Krapyak yang merupakan daerah yang memiliki dua pondok pesantren besar; Pondok Pesantren Al Munawwir dan Ali Maksum. Dua pondok pesantren itu telah mencetak lulusan yang hebat di masing-masing setiap daerah hingga ke luar negeri dan tidak sedikit santri yang lulus di sana banyak yang mendirikan pondok pesantren.

Ketika peristiwa gempa bumi mengguncang wilayah Jogja dan sekitarnya ada sedikit kejadian yang di luar nalar manusia. Pada waktu peristiwa itu terjadi KH. Zainal Abidin Munawwir yang disapa akrab Mbah Zainal salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir sedang beriktikaf di dalam masjid dan itu memang sudah menjadi kebiasaan beliau di pagi hari.

Semua bangunan di komplek pondok pesantren ikut hancur termasuk masjid. Tiba-tiba muncul Mbah Zainal di balik reruntuhan masjid itu.

“Cung, iki ono opo kok podo ambruk kabeh?”

“Wonten ono gempa mau iki yai”

“Owh gempa to”

Begitulah sosok beliau, ulama yang zuhud dan wira’i ini. Hanya kepatuhan kepada sang Khaliklah yang menjadikan kita manusia yang tingggi derajatnya di hadapan Allah SWT. Karena semata-mata ibadah mereka untuk Allah SWT bukan untuk yang lainnya. Beliau juga dikenal sebagai ulama ahli fiqih.

Lahul fatihah….

Penulis
Galih Maryanuntoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here