SOROGAN, BANDONGAN, PASARAN: Tradisi Pengembaraan Intelektual dan Pendakian Spiritual Santri

64

Andri Nurjaman, S. Hum. – Pondok Pesantren jika dianalogikan dalam hal kegunaan dan sepak terjangnya sama seperti bengkel, sama-sama membetulkan yang rusak, jika bengke mobil menerima mobil yang rusak agar kembali bisa digunakan sebagaimana mestinya sebagai alat transfortasi, maka pesantren menerima manusia yang perlu diperbaiki utamanya dalam hal akhlaq, melalui berbagai pengajian kitab kuning, pendisiplinan sholat berjamaah lima waktu dan sholat sunah lain, wirid-wirid santri dan semua sistem aktifitas positif yang terus berputar di sebuah pesantren, gol nya adalah beraklaqul mulia. Walaupun tidak semua jebolan pesantren menjadi kyai semua, ada yang jadi petani, pedangan, guru, dosen, tentara, polisi dan lain-lain, tapi diharapkan mempunyai perilaku baik, mempertahankan tradisi pesantren dan mempunyai landasan kuat mengenai keyakinannya, jika jadi petani, jadilah petani yang mempunyai akhlaq mulia, tidak dzolim kepada petani lain, jika jadi pedangan jadi pedagang berjiwa santri yang tidak mengurangi timbangan dan berbohong, jika jadi guru jadilah guru yang baik memberikan tauladan kepada murid-muridnya. Itulah cita-cita mulia dari sebuah pesantren.

Pondok pesantren yang tetap mempertahankan kekhasannya atau sering disebut dengan pondok pesantren tradisional atau salafi dalam rangka meningkatkan kualitas ilmu bagi santrinya berbasis kitab kuning. Kitab kuning ini adalah hasil karya para ulama yang merupakan buah pemikiran dan pengkajian mereka terhadap ilmu pengetahuan agama Islam, kitab kuning adalah khazanah keilmuan Islam yang harus terus dipertahankan sebagai hujjah. Kitab kuning yang dikaji bersama dalam sebuah halqoh pengajian ini juga menurut Zamakhari Dhofier adalah salah satu dari elemen-elemen pesantren selain dari pondok, kyai, santri dan masjid.

Untuk mencapai kualitas ilmu seorang santri yang berbasis kitab kuning tersebut maka diadakan pengajian-pengajian, baik menggunakan metode sorogan, bandongan atau pun pasaran. Ketiga metode pengajian ini adalah tradisi pengembaraan ilmu seorang santri di lembaga pondok pesantren. Sistem sorogan ini adalah sebuah cara pengajian yang efektif dan efisien dimana beberapa santri menyodorkan kitab kepada ustadz atau kyai untuk dikaji secara terpisah dari jadwal pengajian. Menurut abdul Mughits metode sorogan ini yaitu santri membaca kitab kuning yang dikajinya secara bergiliran dihadapan ustadz sebagai cara pengecekan penguasaan santri terhadap logatan kitab kuning tersebut. Sedangkan menurut Zamakhari Dhofier menjelaskan bahwa sorogan adalah murid mendatangi guru untuk mengaji secara khusus, guru tersebut membacakan kitab kuning dan menerjemahkannya perkata kedalam bahasa daerah dan murid me logat kitab tersebut seperti apa yang telah dibacakan dan diterjemahkan oleh guru tadi. Hal ini dilakukan agar santri mampu memahami arti dan struktur kalimat yang ada dalam kitab kuning tersebut, mampu membaca dengan baik dan tentunya mampu mengamalkan isi dalam kitab itu, jelas gol nya ada dalam pengaplikasian ilmu dalam kehidupan sehari-hari santri.

Iklan Layanan Masyarakat

Pengajian sorogan dilakukan bagi santri pemula atau yang baru masuk ke lembaga pendidikan tradisional pesantren untuk mendapatkan kematangan dalam pengajian-pengajian umum seperti dalam pengajian bandongan atau wetonan. Hal lain yang didapatkan dari pengajian sorongan adalah terjadi komunikasi lebih dalam antara santri junior dan senior/ ustadz yang memberikan pengajian sorongan tersebut,

Ternyata pengajian sorongan yang sudah menjadi tradisi di lembaga pendidikan tradisional pesantren mempunyai historis yang luar biasa, berdasarkan peristiwa pewahyuan dari Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat JIbril, wahyu yang datang dari Allah ini disampaikan oleh malaikat jibril langsung kepada nabi Muhammad secara individu. Hal ini pun terjadi antara nabi Muhammad dan para sahabatnya, pengajian individual pada zaman nabi tersebut dikenal dengan istilah kuttab.

Sedangkan metode pengajian bendongan dilakukan secara seminar dan monolog, prosesnya yaitu kyai membacakan kitab kuning dan diartikan satu persatu kedalam bahasa daerah dan juga memberikan interpretasi atau komentar sendiri mengenai materi atau isi dari kitab yang dikaji, Kyia juga menerangkan berdasarkan kasus-kasus yang sering terjadi di masyarakat, sedangkan santri melogat kitabnya masing-masing dan fokus mendengarkan apa yang disampaikan oleh kyai. Biasanya pengajian bendongan ini dihadiri oleh semua santri didalam sebuah ruangan pengajian umum didalam pesantren.

Gus Dur berpendapat bahwa pengajian bandongan adalah pengajian yang kyainya duduk dilantai masjid atau dirumahnya dan membacakan serta menerangkan teks-teks keagamaan dengan dikerumuni oleh santri-santri yang mendengarkan dan mencatat uraiannya tersebut. Pengajian bandongan ini adalah pengajian ceramah kyai yang ditujukan kepada santri khususnya yang biasanya berjumlah cukup banyak maupun ditujukan kepada masyarakat umum. Kafrawi membagi pengajian bendongan ini menjadi dua yaitu ada pengajian bendongan umum yang biasanya diikuti oleh sebagaian besar santri dan kedua ada pengajian bendongan khusus yang dikategorikan pengajian kitab besar untuk kelompok tinggi.

Selanjutnya yang menjadi ciri dari tradisi pengajian pesantren klasik adalah pasaran. Pasaran ini adalah pengajian kilat yang dilakukan oleh sebuah pesantren dan dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu biasanya bulan Ramadhan. Istilah pasaran ini menurut Kyai Khidir berasal dari kata “pasanan” kata “pasanan” ini berasal dari kata “pasa” yang maksudnya puasa, dalam pendidikan tradisional pesantren maksudnya pengajian khusus di bulan puasa. Sistem pengajian pasaran ini sama seperti pengajian bandongan, namun biasanya kyai membaca logatan atau terjemah kitab tertentu yang dipasarkan sangat cepat, penjelasannya juga disampaikan secara padat dan tentunya jelas. Oleh sebab demikian pengajian pasaran ini sering disebut juga dengan pengajian kilatan. Biasanya jadwal pengajian pasaran ini sangat padat hampir setiap bada sholat fardu dan durasinya biasanya sangat lama karena mengejar target tamat atau selesai pada kitab-kitab tertentu yang telah ditentukan.

Dalam beberapa kasus yang terjadi di beberapa pesantren yang mengadakan pengajian pasaran ternyata tidak hanya santri pesantren itu sendiri yang mengikuti pasaran tersebut ada juga alumni pesantren, atau bahkan santri dari pesantren lain ikut dalam pasaran di pesantren yang berbeda. Karena setiap pesantren memiliki ciri khasnya sendiri atau keunggulannya sendiri, contohnya pesantren Al-futuhat di Garut, sering mengadakan pengajian pasaran yang dikitabnya berfokus pada kitab fiqih. Contoh lain pesantren Miftahul Huda Manonjaya yang merupakan pesantren yang mengedepankan pelajaran fan tauhid. Biasanya santri mengikuti pengajian-pengajian pasaran di pesantren yang memiliki kekhasan atau keunggulan dalam berbagai disiplin ilmu agama Islam baik disiplin ilmu fiqih, tauhid, nahwu-shorof, tasawuf dan lain-lain. Tradisi pasaran ini sudah menjadi trend di Nusantara sejak abad ke 18, maka tradisi pasaran ini dalam dunia pesantren khususnya dan umumnya di dunia Islam sudah menjadi kebudayaan bahkan peradaban agama Islam di Indonesia.

Hal ini pula yang menjadi kelebihan dari lembaga pendidikan tradisional pesantren dengan lembaga-lembaga Islam lainnya, yaitu tradisi mengkaji ilmu pengetahuan agama Islam dari sumber aslinya dan pondok pesantren telah menjaga hal ini berabad-abad lamanya, karena adanya pesantren di Nusantara atau Indonesia berbarengan dengan datangnya Islam di Indonesia itu sendiri.

Kitab kuning ini selain berisi mengenai tata cara ibadah atau hubungan manusia dengan Allah berisi juga hubungan dengan masyarakat dan berkaitan dengan akhlaq yang mulia, kitab kuning mencakup beberapa disiplin ilmu atau fan ilmu diantaranya tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, tauhid, tasawuf, nahwu-shorof, balaghoh. Kitab kuning yang dikaji di dunia pesantren tradisional merupakan karya-karya ulama besar seperti Imam Ghazali, Imam Nawawi, Imam Syafi’I, Hadratus Syakh Hasyim Asy’ari dan masih banyak lagi.

Metode pengajian baik sorongan, bandongan maupun pasaran bertujuan untuk bisa membaca isi dari kitab tersebut, naik satu tingkat lagi agar bisa menerangkan dan menyampaikan materi dari kitab-kitab kuning itu, naik lebih tinggi lagi untuk bisa di amalkan minimal oleh dirinya sendiri, sedangkan pengamalan ilmu dari pesantren yang paling mencolok dan terlihat oleh masyarakat adalah prilaku sehari-hari, akhlaq santri yang baik adalah merupakan hasil dari berbagai pengajian kitab kuning baik yang didapat dari pengajian sorogan, bandongan maupun pasaran.

Intelektual seorang santri tidak hanya mampu membaca dan menerangkan berbagai kitab kuning tapi juga mampu mengedepankan ahlaq, keilmuan seorang santri bukan untuk diperlihatkan apalagi jadi ajang kesombongan, hal ini jauh dari apa yang telah di contohkan para ulama kita apalagi Nabi Muhammad SAW, dengan pengembaran ilmu seorang santri di berbagai lembaga pondok pesantren ia seharusnya semakin menyadari bahwa dirinya benar-benar tidak tahu apa-apa, karena semakin tinggi ilmu atau intelektual seseorang maka akan semakin merasa bodoh, maka jiwanya akan terus bersemangat untuk mencari ilmu, hal ini lah yang mewajibkan seseorang untuk terus mencari ilmu sampai nafas terakhir.

Seorang sanntri yang telah lama menimba pendidikan di lembaga pesantren selain dari pendalaman ilmu biasa juga dibarengi dengan tirakat baik berupa wirid ataupun puasa sunnah, tirakat-tirakat seperti ini lazim dilakukan oleh seorang santri, karena menurut alm. KH Maimoen Zubair bahwa kekalahan pertama seorang santri adalah manakala ia mulai kehilangan wadzifah wiridnya (kegiatan tetap yang menjadi wiridnya) kegiatan tetap itu bisa berupa bacaan sholawat, bisa puasa sunah atau bahwa kegiatan mencuci pakaian Kyai pun jika hal tersebut diniatkan sebagai kegiatan wiridnya atau kegiatan tawasulnya untuk mendapatkan keberkahan ilmu maka itu akan menjadi wadzifah wirid. Santri melakukan hal-hal tersebut karena menyadari betul bahwa tidak cukup hanya mencari ilmu melalui pelbagai pengajian-pengajian tapi harus dibarengi dengan bertaqorub kepada yang mempunyai ilmu dengan melakukan kegiatan tirakat-tirakat tadi. Hal inilah yang menjadi pendakian spiritual seorang santri yang sedang berada dalam lingkungan pendidikan pesantren khususnya pesantren klasik.

(Wallahu ‘alam)

Penulis
Andri Nurjaman, S. Hum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here