STAY AT HOME

50
STAY AT HOME

Muhtar Gandaatmaja, Bandung – Sudah amat lama rumah ditinggal penghuninya. Ayah sibuk urusan kantor dan bisnis. Ibu sibuk dengan urusannya sendiri. Anak-anak lebih betah di luar rumah dengan teman temannya. Rumah kosong. Dihuni oleh orang yang setia membantu para pemiliknya yang dia sendiri tidak mampu berbuat banyak di rumah itu selain cuci piring, pakaian, setrika masak dan menyiapkan keperluan majikannya yang kini tidak ada di rumah.

Rumah di abad modern menjadi kuburan tanpa batu nisan. Kalaupun kembali ke rumah, rumah tidak berfungsi sebagaimana harusnya. Alakadarnya saja. Padahal “home” berbeda dengan “house”. Rumah yang sesungguhnya bukan hanya tempat tidur dan persinggahan. Home, selain berfungsi sebagai perlindungan dan keamanan, juga penting sebagai tempat untuk membangun komunikasi antar anggota keluarga, arena pendidikan dan tempat mencurahkan cinta kasih sayang.

Neil Kauffman, penulis buku Son Rise, sebagai buah pikiran pengalaman pribadinya, bersama istrinya sungguh-sungguh memberikan perhatian kepada anaknya yang autis. Dokter menyatakan bahwa anak itu hopeless, tidak ada harapan untuk sembuh. Namun, berkah kegigihan mereka berdua, lebih dari itu, Istri Neil Kauffman rela berhenti bekerja agar bisa penuh memberi perhatian pada anaknya, dia jadikan rumahnya sebagai ruang kelas khusus mendidik dan mengajarinya. Dengan lelehan air mata kasih sayang dia adukan semuanya kepada Tuhannya. Anaknya sembuh total. Kini, anak autis itu telah menjadi arsitek terkenal di New York (Al-Tanwir, edisi 30 Juli 2005).

Iklan Layanan Masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here